Showing posts with label Sains. Show all posts
Showing posts with label Sains. Show all posts

Tuesday, December 12, 2017

5 Fakta Kehebatan R80, Pesawat Anyar Besutan Habibie


R80 merupakan pesawat generasi penerus N250. Proyek N-250 sempat dilarang oleh International Monetary Fund (IMF) karena krisis ekonomi 1998.
Setelah dimodifikasi, badannya dibentuk lebih besar, maka lahirlah R80. Jika kapasitas N250 hanya 50-60 krusi, R80 mempunyai kapasitas yang lebih banyak, yakni 80-90 kursi. Pada 2018 pesawat ini sudah siap diproduksi dan didaftarkan sertifikat layak terbang.

Pada usia senja mantan presiden ke-3 RI, Bacharuddin Jusuf Habibie, 78 tahun, siap menciptakan dunia dirgantara Indonesia kembali bergairah.
Ya..., pria yang pernah menjabat menteri riset dan tehnologi itu berencana menciptakan suksesor pesawat N250 produksi IPTN (saat ini PT Dirgantara Indonesia) yang pernah berjaya ketika lahir pada 1995.
Pesawat kali ini diberi nama Regio Prop 80 (R80). Dia mengklaim teknologi yang diadopsi lebih efisien dan canggih, baik dari segi desain dan mesin.
Pesawat R80 dikembangkan oleh PT Ragio Aviasi Industri (RAI), perusahaan perancang pesawat terbang komersil milik Habibie." Penerbangan itu sangat penting. Kita membutuhkan pesawat terbang N250 yang pernah berjaya di masanya," kata Habibie bersemangat.
Nah, berikut ini ialah rangkuman fakta-fakta menarik pesawat R80 yang siap membanggakan Indonesia. Simak halaman berikutnya;



Lebih Efisien dari Airbus dan Boeing

Beberapa keunggulan R80 yakni lebih ekonomis, baik murah dari segi harga, biaya pemeliharaan, juga irit materi bakar alasannya merupakan pesawat terbang berbaling-baling (turboprop).
Pesawat ini juga sanggup dikendalikan secara elektronik atau dikenal istilah fly by wire. R80 memiliki perbandingan antara angin yang dingin dihasilkan dari udara di body pesawat dengan angin yang dikeluarkan pada engine di belakang pesawat lebih tinggi (Bypass ratio). 
" Saya memberikan bahwa Airbus atau Boeing itu bypass rationya 12, makin tinggi bypass ratio makin sedikit konsumsi materi bakar dan lebih cepat, ini (R80) bypass rationya 40, kami perhitungkan pesawat terbang ini sasarannya lebih sedkit 30 persen (penggunaan materi bakar)," kata Habibie 
Baling-baling yang ada di sayap juga termasuk teknologi baru, alasannya sanggup menentukan antara angin cuek dan angin panas yang dihasilkan dari mesin. Dengan teknologi ini pesawat sanggup melaju dengan kecepatan tinggi.
Didesain untuk rute pendek dengan jarak tempuh kurang dari 600 km dan bisa diakomodasi oleh bandara dengan landasan pendek. Sangat cocok untuk negara kepulauan menyerupai Indonesia. Diharapkan R-80 ke depan bisa menghubungkan pulau-pulau terpencil.



Modern & Asli Buatan Anak Bangsa

R80 dikembangkan sepenuhnya belum dewasa bangsa. Desainnya dikerjakan oleh 50 ahli, termasuk para jago dari PT Dirgantara Indonesia.
Komisaris PT RAI Ilham Akbar Habibie menyampaikan ketika ini pengembangan R80 sudah memasuki fase final pengembangan. Untuk produksi tahap awal diharapkan dana USD 400 juta.
Pesawat itu rencananya akan diproduksi bersama PT Dirgantara Indonesia, yang ketika ini juga tengah berbagi pesawat gres N219.
Diharapkan kelahiran R80 bisa mengangkat pamor industri dirgantara nusantara, sehabis karam hampir 17 tahun lebih.


Terbang Perdana di Majalengka

 Pesawat R80 akan terbang perdana menjajal bandara gres di Majalengka pada 2018, tepatnya bulan Agustus. Kemungkinan besar di Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat.
Kata Habibie, keputusan menentukan lokasi penerbangan perdana pesawat itu di Majalengka dilakukan sehabis mendengar pemerintah Jawa Barat yang sedang menyiapkan bandara gres di sana.


Sudah Laris di Pasaran

Tiga maskapai telah menandatangani LoI (Letter of Intent) pembelian pesawat R80.
" Dari 7 maskapai yang menyatakan minat, sudah 3 yang menandatangani Letter of Intent, bahwa mereka akan membeli pesawat sebanyak 145 unit," kata Ilham Habibie, Komisaris PT Regio Aviasi Industri (RAI).
Dua dari tiga maskapai yang sudah menandatangani Lol ialah Nam Air (Grup Sriwijaya) dan Kalstar Aviation.
Ilham, yang juga anak dari BJ Habibie, meyakini, nanti akan ada lebih banyak lagi pesanan dari maskapai lain. Sebab kebutuhan pesawat sejenis R80 akan terus meningkat, menyusul gencarnya pembangunan bandara di daerah-daerah.
Namun, sampai ketika ini mereka belum menginformasikan lebih lanjut kisaran harga pesawat R80.

Sumber : https://www.dream.co.id

Thursday, November 30, 2017

The Maps Of Mathematics, Bukti Bahwa Semua Teori Matematika Benar-Benar Dapat Dipraktikkan


Mungkin sebagian besar orang akan baiklah jikalau matematika yaitu pelajaran paling sulit semasa sekolah. Setelah lulus sekolah, beberapa akan bilang ‘apa gunanya berguru aljabar, desimal, dan lain-lain dengan dunia kerja.
Tapi nyatanya, seluruh pelajaran matematika itu saling berhubungan. Contoh geometri, aljabar, dan beberapa orang disebut segitiga sama kaki. Oleh sebab itu, seorang Yuotubers, Dominic Walliman pada Desember 2016 kemudian menciptakan sebuah peta ihwal matematika.
Walliman mencoba menjelaskan secara rinci seluruh teori matematika dan menghubungkan satu sama lain. “Pelajaran matematika ternyata tidak cukup hanya dipelajari di sekolah. Sebab, matematika yaitu subyek yang besar dan beragam,” ucapnya dalam video yang berjudul The Maps of Mathematics.

Mungkin sebagian besar orang akan baiklah jikalau matematika yaitu pelajaran paling sulit sem The Maps of Mathematics, Bukti Bahwa Semua Teori Matematika Benar-benar Bisa Dipraktikkan
The Maps of Mathematics, karya Dominic Walliman.

Cara membaca The Maps of Mathematics harus dilakukan dari tengah-tengah peta, di mana bulat coklat yang menggambarkan asal-usul kepentingan manusia. Lalu ada dua pecahan utama yang mewakili bidang dalam matematika. Pertama, matematika murni (angka itu sendiri) dan kedua matematika terapan (bagaimana bahasa yang digunakan).
Agar lebih jelas, pengguna dapat mendownload video ini dengan resolusi tinggi. Lalu sehabis itu bermain-main dengan The Maps of Mathematics. Tapi sebelum download, lihatlah dulu video klarifikasi dari Walliman, biar tidak salah.
Setelah itu, pengguna dapat melihat nama-nama dari semua teori matematika yang pernah dipelajari ketika sekolah. Bahkan ada nama-nama gres ibarat topologi, analisis kompleks, dan geometri diferensial. Seluruh teori-teori tersebut bahwasanya benar-benar ada di alam semesta ini.
Jika Anda sudah melewati pecahan paling sulit, maka Anda dapat menerapkan teori matematika dibantu dengan disiplin ilmu lainnya ibarat fisika, kimia, dan biologi. Karena ingatlah jikalau angka tidak terpisahkan dengan alam semesta dan segala sesuatu di dalamnya.
Di peta ini juga dijelaskan teori mengenai teknik, ekonomi, probabilitas, kriptografi, dan ilmu komputer. Menariknya, semua teori itu sudah ada semenjak berabad-abad yang lalu.
Mau mencoba bermain dengan The Maps of Mathematics?
Intisari-Online.com. 

Friday, November 17, 2017

Video Pembuatan Jembatan Gantung Terpanjang Di Dunia, Teknologi Ekstrim Mesin Tercanggih Di Dunia


Jembatan merupakan struktur yang dibentuk untuk menyeberangi jurang atau rintangan menyerupai sungai, rel kereta api ataupun jalan raya. Jembatan dibangun untuk penyeberangan pejalan kaki, kendaraan atau kereta api di atas halangan.Jembatan juga merupakan bab dari infrastruktur transportasi darat yang sangat vital dalam anutan perjalanan (traffic flows). Jembatan sering menjadi komponen kritis dari suatu ruas jalan, alasannya sebagai penentu beban maksimum kendaraan yang melewati ruas jalan tersebut. Amazing Pembuatan Jembatan Gantung Terpanjang di Dunia, Teknologi Ekstrim Mesin Tercanggih di Dunia


Friday, January 27, 2017

Agar Mata Untuk Melihat




Dr. Fahmi Amhar
Masih sehatkah mata Anda?  Kalau Anda masih sanggup membaca goresan pena ini, insya Allah mata Anda sehat.  Tetapi apakah mata Anda telah digunakan untuk melihat?  Maksud kami melihat hal-hal yang Allah halalkan dan Allah perintahkan untuk melihat?
Tahukah Anda, siapa dalam sejarah ilmuwan paling besar lengan berkuasa dalam soal penglihatan?
Abu Ali Hasan Ibn al-Haitsam yaitu fisikawan yang paling populer kontribusinya dalam optika dan metode ilmiah.  Dia lahir 965 M di Basrah dan bersekolah di Basrah dan Baghdad.  Kemudian ia pergi ke Mesir untuk mengerjakan proyek mengontrol sungai Nil, yang ternyata gagal, sehingga untuk menghindari eksekusi ia harus berpura-pura absurd hingga wafatnya Khalifah al-Hakim.  Selama dalam tahanan rumah ia telah banyak meneliti fenomena optika.  Kemudian ia ke Spanyol, dan di sanalah ia menulis karya-karyanya dalam optika, matematika, fisika, kedokteran dan metode ilmiah.
Dalam bukunya, Kitab-al-Manadhir  dia mendeskripsikan hasil penelitiannya ihwal asal muasal warna matahari senja, mengapa ukuran matahari dan bulan membesar saat mendekati ufuk, fenomena pelangi, bayangan, gerhana, bahkan berspekulasi ihwal sifat fisis cahaya. Dia orang pertama yang secara akurat menggambarkan anatomi mata dan memberi klarifikasi ilmiah ihwal proses melihat, serta mengambarkan pendapat Ptolomeus, Euklides dan Aristoteles, bahwa “melihat yaitu lantaran mata memancarkan sorot yang menyentuh obyek” yaitu keliru!
Terjemahan Latin dari karya utamanya, Kitab-al-Manadhir, sangat memengaruhi dunia keilmuan di Barat, ibarat dalam karya Roger Badon dan Johannes Kepler.  Ibn al-Haytsam mengatakan jalan yang terang ihwal metode ilmiah eksperimental.

Dalam buku itu ia mengatakan sentra dari cermin sferis dan parabola.  Dia menemukan perbandingan penting dari sudut jatuh dan pantulan (refraksi) sinar yang tidak selalu sama, dan memeriksa kekuatan pembesaran dari lensa.  Dia juga menjelaskan dampak dua buah lensa (binokular vision) dan menemukan kamera obskura. Persoalan-persoalan yang dilontarkan Ibn al-Haytsam di Barat dikenal sebagai “Alhazen problem” dan mengantarkan ke persamaan matematika tingkat tinggi (hingga derajat empat).  Untuk itu Ibn al-Haytsam menggali geometri karya Appolonius “Conics of Apollonius” yang selama lebih dari 1000 tahun tidak terperinci kegunaannya.
Sedang dalam bukunya yang lain Mizan al-Hikmah Ibn al-Haytsam mendiskusikan ihwal kerapatan atmosfir dan menemukan hubungannya dengan ketinggian dan refraksi.  Dia menemukan bahwa gelap senja hanya dimulai saat matahari telah 19° di bawah ufuk.  Dia juga mendiskusikan ihwal kekuatan akselerasi yang disebabkan oleh gaya gravitasi, 600 tahun sebelum Isaac Newton.  Di bidang matematika, Ibn al-Haytsam membuatkan geometri analitis, yakni kombinasi antara aljabar dan geometri.  Ini sangat penting untuk kajiannya ihwal gerakan benda yang akan lurus kecuali ada gaya lain yang mengubahnya.  Lagi-lagi ini 600 tahun lebih awal dari Isaac Newton.
Jumlah judul karya ilmiahnya lebih dari 200, tetapi sangat sedikit yang selamat hingga masa kini.  Bahkan karya terpentingnya dalam bidang optika hanya kita ketahui dari terjemahan bahasa Latinnya.

Sumber : 

Saturday, October 8, 2016

Orang Yang Menyambungkan Nafas

Oleh: Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar

Apakah Anda termasuk tipe orang yang sehat, yaitu yang berpandangan hidup positif, cukup gizi, dan cukup gerak?  Dewasa ini makin banyak orang yang kurang gerak.  Mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di atas dingklik atau kendaraan.  Bahkan untuk jarak tak hingga seratus meter saja, ada yang menentukan naik kendaraan bermotor.  Walhasil mereka lebih gampang tersengal-sengal ketika harus berjalan kaki dikala tak ada kendaraan, apalagi berlari-lari mengejar pesawat.  Karena itu makin banyak pula yang mengalami keluhan pada organ pernafasannya, baik yang ringan ibarat tenggorokan, maupun yang berat ibarat jantung.  Serangan jantung menjadi pembunuh nomor satu.  Dan operasi jantung menjadi rutinitas.  

Namun jarang orang tahu, bahwa tanpa seorang ilmuwan Muslim kurun 13 M, operasi jantung itu mungkin masih jadi angan-angan.  Orang itu yaitu Alauddin Abu al Hassan Ali ibn Abi Hazm al-Quraisyi al Dimashqi atau lebih dikenal dengan nama Ibn an-Nafis, yang lahir 1213 M di Damaskus dan kemudian bekerja di Cairo.

Ibn an-Nafis, ibarat banyak ilmuwan di masa Daulah Khilafah, yaitu seorang polymath (pakar aneka macam ilmu), yaitu andal hadits, faqih madzhab Syafi'i, andal bahasa, astronom, dokter bedah, andal mata, dan andal jantung.

Ibn an-Nafis yaitu orang pertama yang menggambarkan sirkulasi darah di jantung dengan benar.  Penemuannya ini membatalkan teori yang telah berusia 1000 tahun dari Galen, sang filsuf Yunani.  Ibn an-Nafis menyatakan bahwa darah di jantung bilik kanan akan menuju bilik kiri hanya melalui paru-paru, dan bukan lewat pori-pori antar bilik sebagaimana diteorikan Galen.  Teori Ibn an-Nafis ini berdasarkan sejarawan ilmu George Sarton, jauh mendahului William Harvey, yang dianggap penemu peredaran darah dari kurun 17.

Namun tidak hanya soal peredaran darah di jantung.  Ibn an-Nafis juga menunjukkan bantuan yang signifikan dalam memahami peredaran darah ke otak, cara kerja otot, syaraf dan mata.  Kaitan antara peredaran darah, otak dan syaraf sangat penting dalam penanggulangan serangan stroke.

Dalam kaitan dengan syaraf ini, ia membedakan antara jiwa (soul) dan ruh (spirit) seraya menolak inspirasi Ibnu Sina maupun Aristoteles yang menganggap bahwa jiwa berada di jantung.  Ibn an-Nafis berargumentasi bahwa jiwa terkait dengan keseluruhan, bukan satu atau beberapa organ.  Kesimpulannya “jiwa bekerjasama dengan segala zat yang temperamennya disiapkan untuk mendapatkan jiwa”, dan “jiwa tidak lain yaitu kemampuan insan untuk menyadari dirinya”.  Sedang badan yaitu terkait kemampuan pengenalan (cognition), perasaan (sensation), khayalan (imagination) dan naluri (animal locomotion), dan ini bukan berasal dari jantung melainkan dari otak.

Selain itu Ibn an-Nafis mengkritik habis teori embriologi (pembentukan janin) baik dari Galen, Aristoteles maupun Ibnu Sina.  Dia beropini bahwa sperma pria maupun sel telur wanita mempunyai peluang yang sama untuk mendominasi sifat-sifat janin, tidak selalu pria selalu mendominasi ibarat teori sebelumnya.

Pengetahuan Ibn an-Nafis yang luar biasa tak lain juga alasannya yaitu ia yaitu penggerak kedokteran eksperimental, termasuk dari bedah mayat.  Dengan itu ia berhasil menyebarkan pemahaman yang lebih akurat atas aneka macam proses metabolisme, sistem anatomi, fisiologi, psikologi dan pulsology, yang sebagian menggantikan teori penduhulunya, termasuk dari Ibnu Sina.  

Pada 1242 M, dikala usianya gres 29 tahun, Ibn an-Nafis mempublikasikan karyanya yang paling terkenal, yaitu Syarah Tasyrih al-Qanun Ibn Sina atau komentar atas buku Ensiklopedi Kedokteran Ibnu Sina.  Setelah itu ia mudah menulis buku tandingan, The Comprehensive Book of Medicine, yang mencapai 43 jilid dikala usianya 31 tahun.  Sepanjang hidupnya, ia menulis sekitar 300 jilid, meski hanya 80 yang sempat dipublikasikan sebelum wafatnya.  Inilah ensiklopedi kedokteran terbesar hingga dikala itu.

Pada jilid 33, 42 dan 43 dari ensiklopedi ini, ia merinci tatacara operasi bedah yang untuk kuliahnya dibagi dalam tiga “taklim”.  Taklim pertama wacana prinsip-prinsip bedah.  Di sini ia merinci tahapan-tahapan operasi dan tugas serta dari pasien, dokter maupun perawat di setiap tahap.  Taklim kedua wacana peralatan bedah.  Sedang taklim ketiga membahas segala jenis operasi yang telah dikenal hingga dikala itu.  

Selain yang bersifat pengobatan, Ibn an-Nafis juga menulis kitab diet untuk membantu penyembuhan dan mencegah sakit.  Kitab ini berjudul Mukhtar fil-Aghdhiya (The Choice of Foodstuffs).  Dia lebih suka kalau pasien mengontrol makanannya daripada memberi resep obat.

Selain di profesi keilmuwannya ini, Ibn an-Nafis juga menulis beberapa novel sastra.  Salah satu karyanya berjudul Al-Risalah al-Kamiliyyah fil Sirah an-Nabawiyyah (Kehadiran Kamil pada Sejarah Nabi).  Ini yaitu novel pertama yang tergolong “novel-teologis” dan sekaligus ber-genre “fiksi ilmiah”.  Novel ini telah diterjemahkan ke bahasa latin dengan judul “Theologus Autodidactus”.  Novel ini bercerita wacana protagonis berjulukan Kamil, seorang pembelajar autodidak yang tiba-tiba hidup di sebuah pulau terpencil.  Dia gres kontak dengan dunia luar sehabis kedatangan kapal yang terdampar di pulau itu dan membawanya kembali ke dunia berperadaban. Plot kisah ini berubah menjadi fiksi ilmiah ketika klimaksnya yaitu tragedi dahsyat yang mendekati hari tamat zaman (idenya ibarat film 2012).  Melalui novelnya ini Ibn an-Nafis memberikan aneka macam fatwa filosofisnya terkait keharusan adanya Tuhan, kehidupan, tugas para Nabi, asal seruan manusia, prediksi masa depan, hari kebangkitan dan sebagainya.   Penguasaannya yang baik atas bahasa dan pengetahuannya yang luas wacana biologi, astronomi dan geologi menciptakan novel ini ramuan yang sangat menarik antara agama, sastra dan sains.

Ibn an-Nafis hidup di masa kemelut politik yang melanda Daulah, terutama Perang Salib dan Serangan Tartar atas Baghdad yang mencapai Suriah.  Inilah yang menciptakan ia hijrah ke Mesir.  Kehancuran Baghdad yang juga memusnahkan jutaan buku mendorong Ibn An-Nafis dan banyak ilmuwan Islam lainnya untuk menulis kembali semua pengetahuan mereka untuk menyelamatkan khazanah pengetahuan dunia Islam.  Mereka telah “menyambungkan nafas” ilmiah dunia Islam, hingga kejayaannya masih bertahan enam kurun kemudian.

Sumber : http://www.mediaumat.com/

Monday, September 19, 2016

Keagungan Al-Qur’An Dan Hubungannya Dengan Sains

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I

Disampaikan dalam kajian rutin tafsir al-Qur'an di KPP Cianjur
Link Download Channel Telegram: Link
Link Download di FB: Link

Berbicara mengenai al-Qur’an dan sains, memang pembicaraan menarik, mengingat al-Qur’an merupakan wahyu Allah ’Azza wa Jalla yang turun tepat 1400 tahun yang kemudian kepada Rasul-Nya, Muhammad –shallallâhu ‘alayhi wa sallam-. Al-Qur’an itu sendiri bukan buku sains yang memuat hasil-hasil penelitian sains yang bisa terus berkembang dan diperbaharui. Namun tidak sedikit isu yang disebutkan dalam al-Qur’an yang kemudian bersesuaian dengan hasil penelitian saintis, dimana insan gres mengungkap itu semua belakangan sehabis turunnya al-Qur’an.

Dan yang menjadi duduk masalah ketika al-Qur’an dipertentangkan dengan apa yang diklaim sebagai ilmu pengetahuan padahal bukan ilmu pengetahuan itu sendiri, melainkan khurafat. Atau sebaliknya yakni mengakibatkan ayat al-Qur’an sebagai dalih menjustifikasi hipotesa yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan umum, semisal kasus flat earth yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.Pertentangan di antara keduanya bisa jadi timbul dari ketidakpahaman terhadap al-Qur’an, terhadap ilmu pengetahuan dan sains atau sikap tajâhul(pura-pura bodoh) terhadap keagungan informasi-informasi dalam al-Qur’an.

A.  Mendudukkan Persoalan Al-Qur’an & Sains

Al-Qur'an sebagai pedoman hidup yang utama bagi manusia, terang tidak menyerupai buku sains yang akan terus berkembang dan tidak tidak mungkin dikoreksi lantaran kekurangan-kekurangan yang ada di dalamnya sesuai dengan perkembangan penelitian atasnya. Al-Qur’an, sebagaimana didefinisikan oleh para ulama, salah satunya Dr. Samih ’Athif Al-Zayn:

القرآن هو الكتاب المنزل بلفظ عربي معجز، وحيًا تلقاه الرسول محمد-صلى الله عليه وسلم-. وهو كلام الله تعالى، نزل به الروح الأمين جبريل -عليه السلام- بألفاظه العربية ومعانيه الحقة، ليكون حجة لمحمد -صلى الله عليه وسلم-على أنه رسول الله، وليكون مرجعًا للناس يهتدون بهداه، وقربة يتعبدون بتلاوته. وهو المدوَّن بين دفتَي المصحف، المبدوء بسورة الفاتحة، المختوم بسورة الناس، المنقول إلينا نقلاً متواترًا

“Al-Qur’an yaitu kitab yang diturunkan dengan bahasa arab yang unggul[1], wahyu yang diterima oleh Rasulullah –shallallâhu ‘alayhi wa sallam-, dan ia yaitu firman Allah –Ta’âlâ-, turun melalui perantaraan Ar-Rûh Al-Amîn Jibril –’alayhi al-salâm-dengan lafazh berbahasa arab dan makna-makna yang sesuai, sebagai bukti bahwa Muhammad–shallallâhu ‘alayhi wa sallam-adalah utusan Allah, dan rujukan bagi insan mengambil petunjuk dengan petunjuknya, dan mendekatkan diri beribadah kepada Allah dengan membacanya, tersusun di antara lembaran-lembaran mushhaf, diawali Surat al-Fâtihah, ditutup dengan Surat Al-Nâs, dan dinukil kepada kita secara mutawatir.”[2]

Al-Qur’an sesungguhnya menyerupai apa yang digambarkan dalam firman-Nya:

{وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ}

“Dan Kami turunkan al-Qur’an, apa-apa yang merupakan penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isrâ’ [17]: 82)

Dan ia sebagaimana dikatakan dalam sya’ir –bahkan lebih dari apa yang diungkapkan-:

كالبدر من حيث التَفَتَّ رأيتَه * يُهْدى إلى عينَيك نورًا ثاقبًا

كالشمس في كَبِدِ السماء وضوؤُها * يَغْشَى البلادَ مَشَارِقًا ومغاربًا

“Bagaikan rembulan kemanapun kau berpaling memerhatikannya *memancarkan kepada kedua matamu cahaya yang kuat.”

“Bagaikan matahari di langit dan sinarnya * yang menaungi negeri-negeri di Timur dan Barat.”[3]

Bahkan setiap aksara dari al-Qur’an mengandung diam-diam (hikmah dan pelajaran), benar apa yang diungkapkan seorang doktor balaghah dari Al-Azhar Kairo, Dr. Hesham Mohamed Taha el-Shanshouri al-Mishri, ketika kami berdiskusi mengenai tafsir al-Qur’an menuturkan:

لِكُلِّ حَرْفٍ مِنْ حُرُوْفِ القُرْآنِ فِيْهِ أَسْرَارٌ

“Setiap aksara dari huruf-huruf Al-Qur’an mengandung pelbagai diam-diam (kandungan makna).”[4]

Prof. Dr. Fadhil Shalih al-Samara’i pun dalam buku Balâghat al-Kalimah fî al-Ta’bîr al-Qur’âniymenegaskan bahwa setiap kosakata (mufradat) dalam al-Qur’an mengandung ilmu dan maksud yang sesuai dalam setiap tempatnya.[5]

Dimana keagungan al-Qur’an (i’jâz-nya) pun meliputi kandungan bahasa dan ungkapannya, maka tak mengherankan kalau para pakar sastra arab, termasuk dari kalangan kaum kafirin salah satunya al-Walid bin al-Mughirah dari kalangan musyrikin Quraisyi tak bisa memungkirinya. I’jaz al-Qur’an itu terdapat dalam al-Qur’an itu sendiri. Orang yang telah mendengarkan Al-Qur’an, danmendengarnya hingga hari simpulan zaman akan terus merasa kagum dengan kekuatandaya tarik dan balaghah-nya, walaupun hanya sekedar mendengar satu kalimat saja dari al-Qur’an, sebagaimana ditegaskan oleh al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani.[6]

Namun, al-Qur’an bukan lah kitab sastra yang cukup dinikmati dengansekedar dibaca, al-Qur’an pun bukan buku sains yang akan terus berkembang, namun bagi mereka yang memahami al-Qur’an, ia tidak bisa memungkiri bahwa al-Qur’an sebagai pedoman hidup utama insan telah menjelaskan hal-hal yang diperlukan oleh manusia, hal ini sebagaimana penafsiran para ulama atas firman-Nya:

{وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ}

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk dan rahmat serta kabar bangga bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Nahl [16]: 89)

Makna frase (تبيانًا لكل شيء) adalah apa-apa yang diperlukan oleh umat; mengetahui halal haram, pahala dan siksa, hukum-hukum serta dalil-dalil, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H)[7], Imam al-Tsa’labi[8], Imam Abu Bakr al-Jazairi[9] dan selain mereka dalam kitab-kitab tafsir al-Qur’an.

Salah satunya menawarkan petunjuk mengenai epistemologi (sumber ilmu), menawarkan motivasi berpengaruh untuk menuntut ilmu dan melaksanakan penelitian terhadap hal-hal yang empiris, sehingga menghasilkan apa yang disebut sebagai sains, hal itu berkenaan dengan kiprah insan di muka Bumi yang Allah jadikan sebagai pemimpin (khalifah) yang bertugas memakmurkan bumi dan menebarkan kebaikan di dalamnya yang tentu membutuhkan ilmu, salah satunya ilmu sains, Allah berfirman:

{وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً}

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak mengakibatkan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30)

Istilah khalifah, terang mengandung konotasi pemimpin sebagaimana disebutkan dalam kamus-kamus arab. Dan ini menjadi komplemen anugerah bagi umat manusia, dimana dalam ayat setelahnya pun Allah melebihkan Adam–’alayhi al-salâm- sebagai nenek moyang insan dengan ilmu, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Ushul ’Atha bin Khalil Abu al-Rasytah dalam kitab tafsirnya.[10] Syaikh Abdullah M al-Ruhaili pun menegaskan bahwa berdasarkan al-Quran Nabi Adam –’alayhi al-salâm-diistimewakan melebihi malaikat dengan kebaikan pengetahuan yang diberikan Allah kepadanya.[11] Menurut al-Quran, kenyataan bahwa Nabi Adam diberi pengetahuan yaitu sebuah tanda kehormatan.[12]

Banyak pula dalil-dalil Al-Qur’an yang mendorong insan untuk berilmu dan berpikir mengenai alam semesta (hal yang memang terindera), dimana alam semesta  semisal objek langit dan bumi merupakan aspek fisik yang bisa diteliti dengan kajian empiris. Allah ’Azza wa Jalla berfirman:

{إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ} 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang benar-benar terdapat ayat-ayatbagi ulil albâb.” (QS. Âli Imrân [3]: 190)

Ada dua kata kunci dalam ayat di atas yang berkaitan dengan aspek epistemologi (sumber ilmu); yakni kataâyât yang bisa diartikan tanda, pelajaran dan dikatakan pula yakni petunjuk kepada dalil sebagaimana disebutkan Imam Al-Raghib al-Ashfahani[13]. Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) mengatakan:

الآية : ج آيات، ومنه آيات العلامة,العبرة 

“Al-Âyat, jamaknya âyât, diantara maknanya yaitu tanda, pelajaran.”[14]

Di sisi lain ayat ini mengandung instruksi bahwa ilmu pengetahuan atau sains sudah semestinya menguatkan keimanannya kepada keberadaan dan keagungan Sang Pencipta, yakni Allah ’Azza wa Jalla, hal yang bertentangan dengan paradigma sains Barat. Hal itu digambarkan pula dalam ayat-ayat yang agung dalam QS. Al-Ghâsyiyyah [88]: 17-26:

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ {١٧} وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ {١٨} وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ {١٩} وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ {٢٠} فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ {٢١} لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ {٢٢} إِلَّا مَنْ تَوَلَّىٰ وَكَفَرَ {٢٣}فَيُعَذِّبُهُ اللَّهُ الْعَذَابَ الْأَكْبَرَ {٢٤} إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ {٢٥} ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ {٢٦}

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, lantaran sesungguhnya kau hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, tetapi siapa yang berpaling dan kafir, maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar. Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.”(QS. Al-Ghâsyiyyah [88]: 17-26)

Syaikh Abdullah M. al-Ruhaili pun dalam buku This is The Truth: Newly Discovered Scientific Facts Revealed in the Alquran & Authentic Sunnah menegaskan bahwa Islam menjunjung tinggi status ilmu pengetahuan dan orang yang berilmu, menghormati mereka sebagai saksi sehabis malaikat yang bekerjasama dengan fakta gres tiada Tuhan selain Allah, sebagaimana yang telah Allah firmankan kepada kita:

{شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ}

”Allah menyatakan bekerjsama tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).” (QS. ÂIi Imrân [3]: 18)[15]

Maka tidak mengherankan kalau kaum muslimin mempunyai dorongan yang berpengaruh untuk berilmu dan membuatkan ilmunya, hal ini pun dibuktikan oleh banyaknya para ulama Islam -selama kurun waktu berabad-abad dalam naungan al-Khilafah al-Islamiyyah- yang menguasai aneka macam disiplin ilmu syari’ah maupun ilmu sains secara bersamaan, dimana iktikad Islam menjadi landasan berpengaruh untuk meraih ilmu, sekaligus kerangka dan kaidah berpikir itu sendiri, atau dalam istilah al-Qadhi Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani yakni al-qiyâdah wa al-qâ’idah al-fikriyyah.[16] Hal yang tidak dimiliki oleh dunia Barat.

Ilmu sains dalam Islam diraih dengan motivasi agung untuk menebarkan kebaikan bagi insan dengan menyokong dakwah Islam dan menebarkan rahmat bagi semesta alam dengan tersebarnya Islam ke seluruh penjuru dunia. Buktinya, kaum muslimin pernah menjadi mercusuar ilmu sains dimana peradaban Barat banyak mengambil manfaat yang besar darinya dan ini dibuktikan dalam catatan sejarah. Para ulama pun ketika merinci pembagian terstruktur mengenai ilmu, menggolongkan ilmu yang diperlukan oleh umat semisal ilmu sains di bidang kesehatan, pangan dan militer (i’dâd jihâd) dan lain sebagainya yang diperlukan oleh umat sebagai ilmu yang hukumnya fardhu kifayah. Artinya wajib ada di antara umat ini yang melaksanakan penelitian dan menguasai sains di bidang-bidang tersebut. Ini satu pembahasan yang bisa kita rinci kembali. Artinya ilmu sains bisa menempati posisi yang tinggi dan krusial dalam Islam ketika ilmu itu benar asasnya dan benar aplikasinya.

Lalu bagaimana mendudukkan Al-Qur’an dan sains itu sendiri? Sudah saya tegaskan bahwa al-Qur’an bukan buku sains yang memuat hasil-hasil penelitian sains yang bisa terus berkembang dan diperbaharui. Namun tidak sedikit isu yang disebutkan dalam al-Qur’an yang kemudian bersesuaian dengan hasil penelitian saintis. Misalnya mengenai proses kejadian insan dalam al-Qur’an (salah satunya dalam QS. Al-‘Alaq), dimana ilmu sains dengan penelitian ilmiah yang dilakukan insan bisa dikatakan gres mengetahui detail isu mengenai proses ini belakangan sehabis turunnya al-Qur’an seiring sejalan dengan perkembangan instrumen penelitian, termasuk mengenai proses kejadian alam semesta ini.

Syaikh Abdullah M. Al-Ruhaili menyebutkan:

Kami menghadirkan Profesor Emeritus Keith Moore, salah satu dari ilmuwan dunia yang terkemuka dalam bidang Anatomi dan Embriologi. Kami bertanya kepada Profesor Moore untuk menawarkan analisis ilmiah dari beberapa versi al-Quran secara spesifik kepada kita dan hadis mengenai lapangannya secara khusus.

Profesor Moore yaitu penulis buku yang berjudul "The Development Human". Dia yaitu Profiesor Emeritus hebat Anatomi dan Sel Biologi Universitas Toronto, Kanada, di mana dia Ketua Jurusan Basic Sciences, Fakultas Kesehatan, dan selama 8 tahun Ketua Jurusan Anatomi. Prof.Moore sebelumnya juga mengabdi pada Universitas Winndipeg, Kanada, selama sebelas tahun. Dia mengepalai beberapa Internasional Associations of Anatomist and the Counalofthe Union of Biological Science. Profesor Moore juga terpilih anggota Royal Medical Associations of Canada, the Intemational Academy of Cytology, the Union of American Anatomist dan the Union of North dan South American Anatomist, dan pada tahun 1984 mendapatkan penghargaan yang populer dalam bidang anatomi di Kanada, JCB Grant Award dari the Canadian Association of Anatomist. Dia menerbitkan beberapa buku di klinik Anatomi dan Embriologi, delapan dari buku ini dipakai sebagai acuan di sekolah medis dan talah diterjemahkaii ke dalam enam bahasa.

Ketika kami bertanya kepada Profesor Moore untuk menawarkan analisis kepada kami perihal ayat al-Quran dan sabda nabi, maka dia terkejut. Dia heran bagaimana Nabi Muhammad -shallallâhu 'alayhi wa sallam- pada 14 masa yang kemudian sanggup mendeskripsikan embrio dan fase perkembangannya secara detail dan akurat, yang mana para ilmuwan untuk mengetahui hal itu gres tiga puluh tahun terakhir. Akan tetapi, keterkejutan Profesor Moore itu berkembang begitu cepat menjadi kekaguman terhadap wahyu dan petunjuk ini. Dia memperkenalkan sudut pandang ini secara intelektual dan lingkungan ilmiah. Dia juga memberi sebuah surat pada kesesuaian embriologi modern dengan al-Quran dan Sunnah, di mana dia menyatakan sebagai berikut: "Ini merupakan kesenangan yang besar bagi saya untuk membantu mengklarifikasi pernyataan di dalam al-Quran perihal perkembangan manusia. Telah terang bagi saya bahwa pernyataan yang tiba kepada Nabi Muhammad niscaya dari Allah atau Tuhan alasannya yaitu hampir semua pengetahuan tidak ditemukan hingga beberapa masa terakhir. Hal ini memperlihatkan bahwa Nabi Muhammad yaitu utusan Allah. "

Pertimbangan yang populer dan dihormati ilmuwan embriologi ini dinyatakan atas pembelajaran ayat al-Quran sesuai dengan disiplinnya. Dan kesimpulannya bahwa Nabi Muhammad -shallallâhu 'alayhi wa sallam- yaitu utusan Allah.[17]

Fungsi isu menyerupai ini sebenarnya menjadi salah satu bukti keagungan kandungan al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla yang turun kepada Rasul-Nya sekitar 1400 tahun lalu, yang hingga kepada kita dengan jalan periwayatan yang bisa dipastikan kebenarannya (qath’iy) yakni secara mutawatir.[18] Sehingga terang bagi mereka yang memakai akalnya untuk berpikir untuk hingga kepada keyakinan kebenaran al-Qur’an dan keyakinan terhadap keberadaan Allah ’Azza wa Jalla dan mentauhidkan-Nya.

Banyak pula ilmuwan barat yang tidak bisa menafikan kebenaran informasi-informasi sainstis yang telah diungkapkan dalam al-Qur’an 1400 tahun yang kemudian dimana alat-alat penelitian ilmiah di masa itu belum menyerupai ketika ini, penjelasan lebih mapan bisa dirujuk dalam pemaparan al-Qur’an dan sains yang dikompilasikan oleh Syaikh Abdullah M. Al-Ruhaili dalam buku This is The Truth, Newly Discovered Scientific Focts Revealed in the Alquran & Authentic Sunnah (Wolrd Supreme Council for Mosques Affairs Commission on Scientific Sign of Qur'an and Sunnah at Muslim World League Makkah al­Mukarramah and Alharamain Islamic Foundation, Third Edition, Riyadh, 1999).[19] Link download buku:

https://d1.islamhouse.com/data/en/ih_books/single/en_This_is_the_truth.pdf

B.  Bagaimana Sikap & Pemahaman Umat Islam Terhadap Hasil Penelitian Sains Orang Barat?

Mengenai pemahaman mengadopsi penemuan-penemuan saintis yang ditemukan oleh orang-orang Barat yang berbasis empiris dan bersifat universal atau tidak terkait denganworldview atau paradigma yang lahir dari iktikad tertentu, semisal ilmu teknologi pangan atau teknologi-teknologi kekinian yang terus berkembang menyerupai elektronik, maka hukumnya boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-Qadi  Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhârah al-Islâmiyyah:

والأشكال المدنية التي تنتج عن العلم وتقدمه، والصناعة ورقيها، تكون عامة، ولا تختص بها أمة من الأمم، بل تكون عالمية

”Bentuk-bentuk produk (madaniyyah) yang dihasilkan dari sains dan perkembangannya, industri dan kemajuannya, bersifat umum, tidak dikhususkan untuk umat tertentu dari umat manusia, akan tetapi bersifat universal.”[20]

Maka dari itu, Imam Taqiyuddin bin Ibrahim pun menegaskan bahwa memakai bentuk-bentuk produk (madaniyyah) dari Barat yang dihasilkan dari sains atau industri tidak ada halangan bagi kita untuk menggunakannya[21], hal itu berbeda dengan bentuk-bentuk madaniyyah yang dihasilkan dari iktikad atau paradigma khas peradaban Barat, ia dihentikan diadopsi contohnya lukisan yang mengandung pornografi yang dianggap dalam peradaban Barat sebagai karya seni.

Bahkan dalam Islam, sebagaimana dirinci oleh al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani, mengenai pengambilan keputusan dalam perkara-perkara yang membutuhkan keahlian dan pengetahuan, dikembalikan kepada orang yang memang hebat dalam duduk masalah ini. Untuk mengungkap obat apa yang paling mujarab untuk suatu penyakit misalnya, kita harus bertanya kepada dokter ahli. Pendapat dokter harus diutamakan dibandingkan dengan pendapat-pendapat orang yang tidak ahli. Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- pernah menganulir pendapat ia sendiri dan mengikuti pendapat Khabab bin Mundzir. Sebab, Khubab yaitu orang yang lebih hebat dalam menetapkan di posisi mana kaum muslimin harus bertahan. Maka dalam perkara-perkara semacam ini pengambilan keputusan dikembalikan kepada orang yang ahli. Prinsip bunyi lebih banyak didominasi sebagaimana yang diberlakukan pada sistem demokrasi, dihentikan diberlakukan dalam perkara-perkara semacam ini.[22]

Mengenai ilmu sains yang didasarkan pada pembuktian empiris, kita pun menemukan pembahasannya dalam hadits yang berbicara mengenai ilmu penyerbukan, yang sebenarnya mengandung dorongan pula untuk meraih ilmu tersebut: dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a.:

أَنّ النَّبِيَّ -صلى الله عليه وسلم- مَرَّ بِقَوْمٍ يُلَقِّحُونَ، فَقَالَ : لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ، قَالَ: فَخَرَجَ شِيصًا، فَمَرَّ بِهِمْ، فَقَالَ : مَا لِنَخْلِكُمْ، قَالُوا : قُلْتَ كَذَا وَكَذَا، قَالَ : أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ  

”Bahwa Nabi shallallâhu ‘alayhi wa sallam- pernah melewati suatu kaum yang sedang mengawinkan pohon kurma kemudian ia bersabda: ”Sekiranya mereka tidak melakukannya, kurma itu akan (tetap) baik.” Tapi sehabis itu, ternyata kurma tersebut tumbuh dalam keadaan rusak. Hingga suatu ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melewati mereka lagi dan melihat hal itu ia bertanya: ”Ada apa dengan pohon kurma kalian?” Mereka menjawab: ”Bukankah anda telah menyampaikan hal ini dan hal itu?” Beliau shallallâhu ‘alayhi wa sallam- lalu bersabda: ”Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” (HR. Muslim[23])

Yang dimaksud dengan ”urusan dunia kalian” dalam hadits di atas di antaranya ilmu teknologi. Ini satu pembahasan yang bisa kita rinci. Lalu bagaimana dengan pembahasan menyikapi teori-teori ”sains” Barat yang bertentangan dengan iktikad Islam itu sendiri?

C.  Memahami Asas Kritik Para Ulama Terhadap Dunia Barat

Pembahasan mengenai al-Qur'an dan sains berkaitan pula dengan sumber epistemologi dalam Islam, struktur epistemologi Islam dan Barat terang berbeda, kalau Barat menolak al-Khabar al-Shâdiq (al-wahyu) sebagai sumber ilmu, dan hanya berkutat pada pembuktian empiris dan hal-hal yang materialistik (materialisme) belaka, maka berbeda dengan Islam yang mengakibatkan hal-hal yang empiris (terindera) dan al-khabar al-shâdiq (al-wahyu) sebagai sumber ilmu (epistemologi).

            Ini penting dipahami biar kita memahami asas kritik para ulama yang mengkritisi keras konsep materialisme, dimana para ulama ini menghadapi pribadi para penganut materialisme, maupun para atheis dari kalangan orientalis pada masanya (misalnya pengalaman Dr. Mushthafa al-Siba’i yang ia paparkan dalam buku-bukunya), perinciannya bisa kita cek dalam kritik-kritik mereka, contohnya kritik al-'Allamah Taqiyuddin al-Nabhani terhadap asas materialisme dan ideologi komunisme salah satunya dalam kitabNizhâm al-Islâm, Dr. Mushthafa al-Siba'i dalam kitab Min Rawâi’i Hadhâratinâdan Syaikhul Azhar al-'Allamah Muhammad al-Khudhari Husain, ia pun menegaskan:  “Adapun orang-orang yang berpegangteguh pada al-Qur’an dan as-Sunnah, maka wajib bagi mereka memperingatkan (umat manusia) dari meridhai aliran atheisme (termasuk liberalisme-pen.) dimanapun berada, meski kaum atheis tersebut yaitu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara dan kerabat-kerabat mereka.”[24]

Dan banyak para ulama lainnya yang juga gencar mengkritisi konsep materialisme, komunisme dan yang semisalnya sebagai perwujudan perilaku mencegah keburukan hingga kepada kaum muslimin. Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H) menegaskan bahwa (salah satu) pokok agama yaitu mencegah dari keburukan, mereka pun menyebutkan sya’ir:

عرفتُ الشرّ لا للشرّ * لكن لتوقيه

ومن لا يعرف الشرّ * من الناس يقع فيه

“Aku mengetahui keburukan bukan untuk keburukan # Melainkan untuk menghindarkan diri darinya.”

“Dan barangsiapa tidak mengetahui keburukan # Di antara insan maka akan terjerumus ke dalamnya.[25]

Salah satu hipotes yang dikritisi para ilmuwan dan ulama muslim yaitu hipotesa mengenai teori evolusi ”Teori Darwin” yang digagas oleh seorang naturalis (aliran filsafat naturalisme), Charles Darwin[26] yang hingga ketika ini tampaknya masih diajarkan di tingkat Sekolah Menengah khususnya dalam bidang studi Biologi, yang ujung-ujungnya bisa mengarahkan pada keyakinan kufur menolak keberadaan penciptaan dan Sang Pencipta, yang bertolak belakang dengan  akidah Islam yang agung. Sehingga menuai banyak kritik dan bantahan dari para ulama dan ilmuwan muslim dimana mereka memang menghadapi pribadi paham-paham materialisme, komunisme dan para penganutnya menyerupai yang tergambar dalam penjelasan para ulama masa ke-19 dalam buku-buku mereka. []


[1] Yakni bisa mengalahkan bantahan-bantahan atau tantangan-tantangan kaum penentang (kuffar) atasnya.

[2] Dr. Samih ‘Athif al-Zayn, ‘Ilm Ushûl al-Fiqh al-Muyassar, Mesir: Dâr al-Kitâb al-Mishri, Cet. I, 1410 H, hlm. 308.

[3] Abu al-Qâsim bin Muhammad al-Râghibal-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Maktabah Nazâr Mushthafa al-Bâz, juz I, hlm. 3.

[4] Salah seorang Dosen Tafsir (seorang doktor di bidang ilmu balaghah dari salah satu Universitas Islam terkemuka di dunia, Universitas al-Azhar) di daerah penyusun bekerja di Kuliyyatusy-Syarî’ah wad-Dirâsât Al-Islâmiyyah – Jâmi’atur-Râyah.

[5] Prof. Dr. Fadhil Shalih al-Samara’i,Balâghat al-Kalimah fî al-Ta’bîr al-Qur’âniy, Kairo: Syirkat al-‘Aatik, cet. II, 1427 H/ 2006, hlm. 4.

[6] Ibid.

[7] Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr Abu Ja’far al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1420 H, juz XVII, hlm. 278.

[8] Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim al-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qur’ân, Beirut: Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabi, Cet. I, 1422 H, jilid VI, hlm. 37

[9] Jabir bin Musa bin ‘Abdul Qadir bin Jabir Abu Bakr Al-Jaza’iri, Aysar at-Tafâsîr li Kalâm al-‘Ulya al-Kabîr, Madinah: Maktabah al-‘Ulûm wa al-Hikam, Cet. V, 1424 H, jilid III, hlm. 138-139.

[10] ‘Atha’ bin Khalil Abu al-Rasytah, Al-Taysîr fî Ushûl Al-Tafsîr (Sûrah Al-Baqarah), Beirut: Dâr al-Ummah, cet. II, 1427 H/ 2006, hlm. 66.

[11] Abdullah M. Al-Ruhaili, This is The Truth: Newly Discovered Scientific Focts Revealed in the Alquran & Authentic Sunnah, Wolrd Supreme Council for Mosques Affairs Commission on Scientific Sign of Qur'an and Sunnah at Muslim World League Makkah al­Mukarramah and Al-Haramain Islamic Foundation, Riyadh, ed. III, 1999, hlm. 3.

[12] Ibid.

[13] Abu al-Qâsim al-Husain bin Muhammad al-Râghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Damaskus: Daar al-Qalam, cet. I, 1412 H, hlm. 102.

[14] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji, Mu’jam Lughatil Fuqahâ, Beirut: Dar al-Nafa’is, Cet. II, 1408 H.

[15] Abdullah M. Al-Ruhaili, This is The Truth: Newly Discovered Scientific Focts Revealed in the Alquran & Authentic Sunnah, Wolrd Supreme Council for Mosques Affairs Commission on Scientific Sign of Qur'an and Sunnah at Muslim World League Makkah al­Mukarramah and Al-Haramain Islamic Foundation, Riyadh, ed. III, 1999, hlm. 3.

[16] Lihat ulasan mengenai ini dalam kitabNizhâm al-Islâm karya al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani, hlm. 11-29.

[17] Abdullah M. Al-Rehaili, Bukti Kebenaran al-Qur’an, Yogyakarta: Tajidu Press, cet. I, 1424 H/2003.

[18] Dr. Samih ‘Athif al-Zayn, ‘Ilm Ushûl al-Fiqh al-Muyassar, hlm. 308.

[19] Abdullah M. Al-Ruhaili, This is The Truth: Newly Discovered Scientific Focts Revealed in the Alquran & Authentic Sunnah, Wolrd Supreme Council for Mosques Affairs Commission on Scientific Sign of Qur'an and Sunnah at Muslim World League Makkah al­Mukarramah and Al-Haramain Islamic Foundation, Riyadh, ed. III, 1999. Versi terjemah: Abdullah M. Al-Rehaili, Bukti Kebenaran al-Qur’an, Yogyakarta: Tajidu Press, cet. I, 1424 H/2003.

[20] Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani, Nizhâm al-Islâm, Beirut: Daar al-Ummah, Cet. VII, 1372 H/ 1953, Bab. Al-Hadhârah al-Islâmiyyah, hlm. 31.

[21] Ibid, hlm. 32.

[22] Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani,Al-Syakhshiyyah Al-Islâmiyyah, Beirut: Dâr al-Ummah, 1994, juz. I, hlm. 247-248.

[23] HR. Muslim dalam Shahîh-nya (IV/1836, hadits no. 141, Bab. Wujûb Imtitsâli Mâ Qâlahu Syar’an Dûna Mâ Dzakarahu Min Ma’âyisy al-Dunyâ’).

[24] Muhammad al-Khudhari Husain,Silsilatu Milal wa Nihal [3]: Al-Ilhâd, Kuwait: Maktabah Ibn Taimiyyah, cet. I, 1406 H, hlm. 3-4.

[25] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi, Ihyâ’ ’Ulûm al-Dîn,Beirut: Dâr al-Ma’rifah, juz I, hlm. 77.

[26] Lihat Ensiklopedia Britanica:http://www.britannica.com/biography/Charles-Darwin

Monday, July 11, 2016

Ketika Muslim Cerdas Spasial


Oleh: Prof Dr Ing Fahmi Amhar
Idulfitri telah tiba.  Separuh penduduk ibukota akan mudik.  Itu berarti jalanan macet.  Kenapa?  Karena sebagian besar tidak tahu jalan, sehingga mengandalkan jalan yang paling populer.  Macetlah. 

Hal yang sama terjadi di jalanan Jakarta setiap hari.  Jalan tol yang semestinya lancar malah paling macet.  Kenapa sebagian orang pakai jalan tol?  Banyak yang alasannya yaitu tidak tahu jalan.

Selama animo haji ternyata sama juga.  Jalanan Mekkah  Arafah  Muzdalifah  Mina macet oleh orang-orang yang tidak tahu jalan, termasuk sopir-sopir musiman.

Selain problem jalan, kaum Muslim juga sering kelihatan kurang cerdas dalam soal lokasi.  Tak jarang dua masjid terletak berdampingan, sedang pada dikala yang sama ada satu kampung yang sangat jauh dari masjid, atau ukuran masjidnya sangat tidak memadai.  Dalam bertani pun, tidak sedikit kaum Muslim yang menanam secara latah.  Ketika harga suatu komoditas pertanian sedang tinggi, mereka ramai-ramai menanamnya, tanpa ilmu ihwal apakah tanah itu optimal untuk jenis komoditas yang ditanam.  Kalau ini dilakukan oleh petani kecil yang miskin dan tak pernah sekolah, mungkin kita paham.  Tetapi bila ini dimobilisasi oleh pemerintah, tentu kita bertanya-tanya.

Dan jikalau kita tanya para pelajar dan mahasiswa ihwal nama-nama negeri Muslim, atau bahkan lokasi kota-kota di negeri mereka sendiri, kita adakala mengelus dada.  Kalau mereka tidak tahu di mana lokasi dan batas-batas kedaulatan mereka, bagaimana mereka akan peduli jikalau tanah-tanah mereka telah dijarah penjajah dan sumberdaya alamnya telah dihisap?

Padahal kaum Muslim generasi awal yaitu kaum yang cerdas spasial, atau cerdas dalam mengenali dan memanfaatkan ruang.  Mereka didorong untuk mengenali ruang daerah hidupnya.  Dan lebih dari itu mereka ditantang mengenali ruang hidup bangsa-bangsa lain alasannya yaitu dorongan dakwah dan jihad.  Allah SWT berfirman: “Sungguh telah berlaku sunnah Allah,  maka berjalanlah kau di muka bumi dan lihatlah bagaimana tanggapan (perbuatan) orang-orang mendustakan ayat-ayat-Nya”. (TQS. Al-Imran: 137).

Perintah ini telah membuat umat Islam di abad-abad pertama berupaya untuk melaksanakan ekspedisi. Mereka mulai menjelajah daratan dan mengarungi lautan untuk berbagi agama Allah.  Jalur-jalur darat dan bahari yang gres dibuka, menghubungkan seluruh wilayah Islam yang berkembang dari Spanyol di barat sampai Asia Tenggara di timur, dari Sungai Wolga di utara sampai lereng gunung Kilimanjaro di pedalaman Afrika.
Ekspedisi di abad-abad itu mendorong para sarjana dan penjelajah Muslim untuk mengembangkan ilmu-ilmu kebumian menyerupai geodesi dan geografi, atau di era modern disebut geospasial. Umat Islam memang bukan yang pertama menguasai ilmu bumi. Ilmu ini diwarisi dari bangsa Yunani, dari tokoh-tokoh menyerupai Thales dari Miletus, Herodotus, Eratosthenes, Hipparchus, Aristoteles, Dicaearchus dari Messana, Strabo, dan Ptolemeus.  Salah satu buku karya Ptolomeus yang sudah diterjemahkan ke bahasa Arab, yaitu Almagest, yaitu buku favorit yang digunakan sebagai pegangan kajian tafsir di Baghdad ketika yang dibahas yaitu surat al-Ghasiyah.

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan, dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan, dan bumi bagaimana ia dihamparkan (TQS. 88:17-20)

Kerja keras para sarjana Muslim itu berbuah manis. Al-Biruni bisa menghitung keliling bumi lebih akurat dari yang pernah didapat Eratosthenes. Khalifah Al-Ma'mun memerintahkan para intelektualnya membuat peta bumi yang besar. Adalah Musa Al-Khawarizmi bersama 70 jago lainnya membuat globe pertama pada 830 M.  Dia juga menulis kitab Surah Al-Ardh (Risalah Bumi). Pada kala yang sama, Al-Kindi juga menulis sebuah buku berjudul “Tentang Bumi yang Berpenghuni”.

Pada awal kala ke-10 M, Abu Zayd Al-Balkhi mendirikan universitas khusus survei pemetaan di Baghdad.  Pada kala ke-11 M, Abu Ubaid Al-Bakri dari Spanyol menulis kitab Mu'jam Al-Ista'jam (Eksiklopedi Kebumian) dan Al-Masalik wa Al-Mamalik (Jalan dan Kerajaan). Ini buku pertama ihwal toponimi (nama-nama tempat) di Jazirah Arab. Pada kala ke-12, Al-Idrisi membuat peta dunia dan menulis Kitab Nazhah Al-Muslak fi Ikhtira Al-Falak (Tempat Orang yang Rindu Menembus Cakrawala). Kitab ini begitu kuat sehingga diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Geographia Nubiensis.

Seabad kemudian, Qutubuddin Asy-Syirazi (12361311 M) membuat peta Laut Tengah, dan Yaqut Ar-Rumi (1179-1229 M) menulis enam jilid ensiklopedi bertajuk Mu'jam Al-Buldan (Ensiklopedi Negeri-negeri).

Penjelajah Muslim asal Maroko, Ibnu Battuta di kala 14 M memberi pemberian yang signifikan dalam menemukan rute perjalanan gres sehabis berekspedisi selama hampir 30 tahun. Penjelajah Muslim lainnya, yaitu  Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok menemukan banyak rute gres perjalanan bahari sehabis berekspedisi tujuh kali dari tahun 1405 sampai 1433 M.  Mereka juga mendata sebaran obyek tematik yang diamatinya di atas peta.  Muncullah antara lain geo-botani, untuk mencatat distribusi dan pembagian terstruktur mengenai tumbuhan,  atau geo-lingua untuk mencatat sebaran bahasa dan dialek.
Karena dorongan syariah, kaum Muslim generasi awal telah cerdas spasial sehingga mereka kemudian pantas diberi amanah menguasai negeri Barat dan Timur.  Kapan kita akan secerdas mereka, atau lebih cerdas lagi?[]

Globe Yang Tak Sekadar Mainan


Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar
Anda di rumah mempunyai globe (bola dunia)?  Untuk apa?  Saat ini banyak pengasong menjual globe murah buatan Cina di beberapa perempatan Jakarta.  Sebagian memang didesain untuk sanggup dipajang di meja kelas.  Sebagian lain untuk digunakan main lempar bola di bak renang.
Tahukah Anda bahwa sekitar 1000 tahun yang lalu, globe ialah sebuah masterpiece.  Hingga ketika itu belum semua ilmuwan sepakat bahwa bumi itu bulat.  Tetapi Abu Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Idris asy Syarif atau dikenal sebagai Al-Idrisi (1100 M – 1165 M) percaya, dan dialah pencipta pertama peta dunia dalam bentuk globe menyerupai yang kita kenal sekarang!
Sebenarnyalah, al-Idrisi bisa melaksanakan itu alasannya sejumlah politisi dan ilmuwan telah membukakan jalan.  Berabad sebelumnya, Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Al-Makmun mendorong para ilmuwan Muslim untuk menerjemahkan buku-buku ilmiah kuno dari Yunani ke dalam bahasa Arab.  Beberapa naskah penting Yunani yang diterjemahkan adalah: Almagest dan Geographia.
Khalifah Al- Makmun (813 M - 833 M) memerintahkan para geografer Muslim untuk menyebarkan geodesi, yaitu teknik mengukur jarak di atas bumi. Umat Islam pun karenanya bahkan bisa menghitung volume dan keliling bumi. Lalu Al-Makmun memerintahkan untuk membuat peta bumi yang besar. Musa Al-Khawarizmi bersama 70 geografer lainnya karenanya bisa menuntaskan kiprah ini pada tahun 830 M.  Kemudian Khawarizmi juga menulis kitab geografi yang berjudul “Surah Al-Ard” (tentang geomorfologi), sebuah koreksi terhadap karya Ptolemaeus. Kitab itu menjadi landasan ilmiah bagi geografer Muslim klasik. Pada kurun yang sama, Al-Kindi juga menulis sebuah kitab berjudul “Keterangan perihal Bumi yang Berpenghuni”.
Ilmu geografi pun makin berkembang. Di awal abad-10 M, Abu Zayd Al-Balkhi mendirikan perguruan tinggi survei dan pemetaan di Baghdad.  Di abad-11 M, Abu Ubaid Al-Bakri menulis kitab “Mu'jam Al-Ista'jam” (Eksiklopedi Geografi) dan “Al-Masalik wa Al-Mamalik” (Jalan dan Kerajaan).
Al-Idrisi lahir pada tahun 1100 di Ceuta Spanyol.  Pada usia muda ia sudah gemar bepergian ke tempat-tempat yang jauh, ke Eropa, Asia dan Afrika, untuk mengumpulkan sendiri data dan fakta geografi.  Walhasil, pada usia di bawah 30 tahun, ia sudah menulis kitab geografi berjudul “Nuzhat al Mushtaq fi Ikhtiraq al-Afat” (Tempat Orang yang Rindu Menembus Cakrawala). Kitab ini begitu kuat di Barat sehingga diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, “Geographia Nubiensis”.
Kemasyhuran dan kompetensi al-Idrisi didengar oleh Raja Roger II dari Sicilia (1129 M – 1140 M).  Ia mengundang dan memfasilitasi al-Idrisi untuk membuat peta dunia paling gres ketika itu.  Al-Idrisi menyanggupi namun mengajukan syarat bahwa dalam peta itu ia ingin memasukkan data wilayah Sicilia yang pernah 200 tahun berada di bawah kekuasaan kaum Muslim sebelum Raja Roger berkuasa.  Raja Roger setuju.
Peta pesanan Raja itupun diwujudkan oleh al-Idrisi dalam bentuk globe dari perak seberat 40 kg yang secara cermat memuat pegunungan, sungai-sungai, kota-kota besar, dataran subur dan dataran gersang, lengkap dengan info tinggi di beberapa titik.  Karya ini dilengkapi sebuah buku berjudul “Kitab Al-Rujari” (Roger's Book) sebagai bentuk penghormatan ke Raja Roger.
Kitab ini diakui dunia sebagai bentuk deskripsi paling teliti dan cerrmat perihal peta dunia pada kurun pertengahan.  Bahkan buku tersebut menjelaskan keberadaan sebuah pulau yang terletak sangat jauh dan terpencil, menyerupai sebuah pulau es (mungkin Islandia), di mana perjalanan mencapai pulau itu sangat sulit alasannya dipenuhi kabut dan lautan yang sering dilewati bongkahan-bongkahan es berbahaya yang hanyut.
Ia juga menggambarkan perihal “Laut Gelap” yang kemudian dinamai Atlantik.  Al-Idrisi menyebut penduduk orisinil yang mendiami pulau di maritim tersebut sebagai penduduk Inggris.
Peta dan globe buatan al-Idrisi, sekalipun di beberapa area masih kosong (karena ketika itu belum ada info perihal keberadaan benua Amerika atau Australia), namun secara umum sudah menawarkan citra yang akurat kepada masyarakat, terutama bangsa Eropa.  Mereka memakai peta itu untuk melaksanakan penjelajahan dunia – bahkan berakhir dengan penjajahan!
Selain membuat peta dunia dan globe, al-Idrisi juga membuat beberapa metode gres untuk mengukur garis lintang dan bujur, menulis kitab “Nuzhat al Mushtaq fi Ikhtiraq al-Afat” yang berkhasiat untuk orang-orang yang ingin mengadakan perjalanan menembus aneka macam iklim.  Ini ialah sebuah ensiklopedia yang berisi peta yang digambar rinci dan info lengkap dari negara-negara yang pernah dikunjunginya.  Buku ini diterjemahkan dan diedarkan oleh orang Barat dalam bahasa Latin berkali-kali, dan pada tahun 1619 (hampir 4 kurun kemudian!), diterbitkan di Roma dengan judul “Geographia Nubiensis” dalam versi cetak, alasannya ketika itu mesin cetak sudah ditemukan.
Namun al-Idrisi masih menulis beberapa buku lagi.  Pertama sebuah ensiklopedia yang lebih komprehensif “Rawd-un-Naas wa-Nuzhat al-Nafs” (Kenikmatan Manusia dan kesenangan Jiwa), “Shifatul Arab” (Karakter bangsa Arab), dan “Kharithanul 'Alamil ma'mur minal Ardh” (Sumber daya alam dunia).  Karya-karya ini juga diterjemahkan ke aneka macam bahasa, antara lain Spanyol (1793), Jerman (1828), Perancis (1840) dan Italia (1885).[]