Showing posts with label IPTEK. Show all posts
Showing posts with label IPTEK. Show all posts

Friday, March 2, 2018

Pesawat Terbesar Dan Terlebar Di Dunia Menjajal Landas Pacu


Pesawat terbesar di dunia yang berbadan dua dan kokoh, dengan rentang sayap 117 meter sehingga paling lebar di dunia, Stratolaunch, mencatat tonggak gres satu level sebelum benar-benar melayang di udara.
Minggu 25 Februari lalu, dalam uji landas pacu di Mojave Air and Space Port, Mojave, California, Stratolaunch mencatat kecepatan 46 mph (74 km per jam) dikala bergerak di landas pacu.
Keterangan ini disampaikan lewat cuitan sang pendiri yang juga salah satu pendiri Microsoft, Paul Allen, tertanggal 26 Februari. Allen ialah pendiri Stratolaunch Systems Corp yang menciptakan pesawat terbesar dan paling lebar di dunia itu.
Stratolaunch yang berbobot 500.000 lbs (227 ton) sanggup mengangkut beban seberat 550.000 lbs (250 ton).
Pesawat raksasa ini khusus mengangkut peluncur roket dan satelit dengan tujuan orbit Bumi, tulis laman perusahaan itu.
Peluncuran roket dari lokasi statis sanggup tertunda atau terganggu oleh cuaca dan kemudian lintas udara, namun mengangkut roket dan satelit dari pesawat yang bergerak ibarat Stratolaunch sanggup mengurangi risiko penundaan peluncuran akhir cuaca jelek sehingga kanal ke antariksa menjadi lebih nyaman, jago dan ruti, kata perwakilan Stratolaunch ibarat dikutip laman Space.com dan dilansir Antaranews.
Stratolaunch sanggup tinggal landas dari landas pacu dan melepaskan muatannya dari ketinggian jelajah 36.000 kaki (11 km).
Stratolaunch sekilas merupakan dua pesawat yang disambungkan oleh sebuah sayap sentral.
Menggunakan enam mesin Boeing 747, pesawat ini mempunyai dua badan; di sisi kanan dikendalikan oleh awak penerbangan, sedangkan yang sebelah kiri dikendalikan oleh sistem data.

Monday, September 19, 2016

Keagungan Al-Qur’An Dan Hubungannya Dengan Sains

Oleh: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I

Disampaikan dalam kajian rutin tafsir al-Qur'an di KPP Cianjur
Link Download Channel Telegram: Link
Link Download di FB: Link

Berbicara mengenai al-Qur’an dan sains, memang pembicaraan menarik, mengingat al-Qur’an merupakan wahyu Allah ’Azza wa Jalla yang turun tepat 1400 tahun yang kemudian kepada Rasul-Nya, Muhammad –shallallâhu ‘alayhi wa sallam-. Al-Qur’an itu sendiri bukan buku sains yang memuat hasil-hasil penelitian sains yang bisa terus berkembang dan diperbaharui. Namun tidak sedikit isu yang disebutkan dalam al-Qur’an yang kemudian bersesuaian dengan hasil penelitian saintis, dimana insan gres mengungkap itu semua belakangan sehabis turunnya al-Qur’an.

Dan yang menjadi duduk masalah ketika al-Qur’an dipertentangkan dengan apa yang diklaim sebagai ilmu pengetahuan padahal bukan ilmu pengetahuan itu sendiri, melainkan khurafat. Atau sebaliknya yakni mengakibatkan ayat al-Qur’an sebagai dalih menjustifikasi hipotesa yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan umum, semisal kasus flat earth yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.Pertentangan di antara keduanya bisa jadi timbul dari ketidakpahaman terhadap al-Qur’an, terhadap ilmu pengetahuan dan sains atau sikap tajâhul(pura-pura bodoh) terhadap keagungan informasi-informasi dalam al-Qur’an.

A.  Mendudukkan Persoalan Al-Qur’an & Sains

Al-Qur'an sebagai pedoman hidup yang utama bagi manusia, terang tidak menyerupai buku sains yang akan terus berkembang dan tidak tidak mungkin dikoreksi lantaran kekurangan-kekurangan yang ada di dalamnya sesuai dengan perkembangan penelitian atasnya. Al-Qur’an, sebagaimana didefinisikan oleh para ulama, salah satunya Dr. Samih ’Athif Al-Zayn:

القرآن هو الكتاب المنزل بلفظ عربي معجز، وحيًا تلقاه الرسول محمد-صلى الله عليه وسلم-. وهو كلام الله تعالى، نزل به الروح الأمين جبريل -عليه السلام- بألفاظه العربية ومعانيه الحقة، ليكون حجة لمحمد -صلى الله عليه وسلم-على أنه رسول الله، وليكون مرجعًا للناس يهتدون بهداه، وقربة يتعبدون بتلاوته. وهو المدوَّن بين دفتَي المصحف، المبدوء بسورة الفاتحة، المختوم بسورة الناس، المنقول إلينا نقلاً متواترًا

“Al-Qur’an yaitu kitab yang diturunkan dengan bahasa arab yang unggul[1], wahyu yang diterima oleh Rasulullah –shallallâhu ‘alayhi wa sallam-, dan ia yaitu firman Allah –Ta’âlâ-, turun melalui perantaraan Ar-Rûh Al-Amîn Jibril –’alayhi al-salâm-dengan lafazh berbahasa arab dan makna-makna yang sesuai, sebagai bukti bahwa Muhammad–shallallâhu ‘alayhi wa sallam-adalah utusan Allah, dan rujukan bagi insan mengambil petunjuk dengan petunjuknya, dan mendekatkan diri beribadah kepada Allah dengan membacanya, tersusun di antara lembaran-lembaran mushhaf, diawali Surat al-Fâtihah, ditutup dengan Surat Al-Nâs, dan dinukil kepada kita secara mutawatir.”[2]

Al-Qur’an sesungguhnya menyerupai apa yang digambarkan dalam firman-Nya:

{وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ}

“Dan Kami turunkan al-Qur’an, apa-apa yang merupakan penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isrâ’ [17]: 82)

Dan ia sebagaimana dikatakan dalam sya’ir –bahkan lebih dari apa yang diungkapkan-:

كالبدر من حيث التَفَتَّ رأيتَه * يُهْدى إلى عينَيك نورًا ثاقبًا

كالشمس في كَبِدِ السماء وضوؤُها * يَغْشَى البلادَ مَشَارِقًا ومغاربًا

“Bagaikan rembulan kemanapun kau berpaling memerhatikannya *memancarkan kepada kedua matamu cahaya yang kuat.”

“Bagaikan matahari di langit dan sinarnya * yang menaungi negeri-negeri di Timur dan Barat.”[3]

Bahkan setiap aksara dari al-Qur’an mengandung diam-diam (hikmah dan pelajaran), benar apa yang diungkapkan seorang doktor balaghah dari Al-Azhar Kairo, Dr. Hesham Mohamed Taha el-Shanshouri al-Mishri, ketika kami berdiskusi mengenai tafsir al-Qur’an menuturkan:

لِكُلِّ حَرْفٍ مِنْ حُرُوْفِ القُرْآنِ فِيْهِ أَسْرَارٌ

“Setiap aksara dari huruf-huruf Al-Qur’an mengandung pelbagai diam-diam (kandungan makna).”[4]

Prof. Dr. Fadhil Shalih al-Samara’i pun dalam buku Balâghat al-Kalimah fî al-Ta’bîr al-Qur’âniymenegaskan bahwa setiap kosakata (mufradat) dalam al-Qur’an mengandung ilmu dan maksud yang sesuai dalam setiap tempatnya.[5]

Dimana keagungan al-Qur’an (i’jâz-nya) pun meliputi kandungan bahasa dan ungkapannya, maka tak mengherankan kalau para pakar sastra arab, termasuk dari kalangan kaum kafirin salah satunya al-Walid bin al-Mughirah dari kalangan musyrikin Quraisyi tak bisa memungkirinya. I’jaz al-Qur’an itu terdapat dalam al-Qur’an itu sendiri. Orang yang telah mendengarkan Al-Qur’an, danmendengarnya hingga hari simpulan zaman akan terus merasa kagum dengan kekuatandaya tarik dan balaghah-nya, walaupun hanya sekedar mendengar satu kalimat saja dari al-Qur’an, sebagaimana ditegaskan oleh al-’Allamah Taqiyuddin al-Nabhani.[6]

Namun, al-Qur’an bukan lah kitab sastra yang cukup dinikmati dengansekedar dibaca, al-Qur’an pun bukan buku sains yang akan terus berkembang, namun bagi mereka yang memahami al-Qur’an, ia tidak bisa memungkiri bahwa al-Qur’an sebagai pedoman hidup utama insan telah menjelaskan hal-hal yang diperlukan oleh manusia, hal ini sebagaimana penafsiran para ulama atas firman-Nya:

{وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ}

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk dan rahmat serta kabar bangga bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Nahl [16]: 89)

Makna frase (تبيانًا لكل شيء) adalah apa-apa yang diperlukan oleh umat; mengetahui halal haram, pahala dan siksa, hukum-hukum serta dalil-dalil, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H)[7], Imam al-Tsa’labi[8], Imam Abu Bakr al-Jazairi[9] dan selain mereka dalam kitab-kitab tafsir al-Qur’an.

Salah satunya menawarkan petunjuk mengenai epistemologi (sumber ilmu), menawarkan motivasi berpengaruh untuk menuntut ilmu dan melaksanakan penelitian terhadap hal-hal yang empiris, sehingga menghasilkan apa yang disebut sebagai sains, hal itu berkenaan dengan kiprah insan di muka Bumi yang Allah jadikan sebagai pemimpin (khalifah) yang bertugas memakmurkan bumi dan menebarkan kebaikan di dalamnya yang tentu membutuhkan ilmu, salah satunya ilmu sains, Allah berfirman:

{وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً}

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak mengakibatkan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30)

Istilah khalifah, terang mengandung konotasi pemimpin sebagaimana disebutkan dalam kamus-kamus arab. Dan ini menjadi komplemen anugerah bagi umat manusia, dimana dalam ayat setelahnya pun Allah melebihkan Adam–’alayhi al-salâm- sebagai nenek moyang insan dengan ilmu, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Ushul ’Atha bin Khalil Abu al-Rasytah dalam kitab tafsirnya.[10] Syaikh Abdullah M al-Ruhaili pun menegaskan bahwa berdasarkan al-Quran Nabi Adam –’alayhi al-salâm-diistimewakan melebihi malaikat dengan kebaikan pengetahuan yang diberikan Allah kepadanya.[11] Menurut al-Quran, kenyataan bahwa Nabi Adam diberi pengetahuan yaitu sebuah tanda kehormatan.[12]

Banyak pula dalil-dalil Al-Qur’an yang mendorong insan untuk berilmu dan berpikir mengenai alam semesta (hal yang memang terindera), dimana alam semesta  semisal objek langit dan bumi merupakan aspek fisik yang bisa diteliti dengan kajian empiris. Allah ’Azza wa Jalla berfirman:

{إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ} 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang benar-benar terdapat ayat-ayatbagi ulil albâb.” (QS. Âli Imrân [3]: 190)

Ada dua kata kunci dalam ayat di atas yang berkaitan dengan aspek epistemologi (sumber ilmu); yakni kataâyât yang bisa diartikan tanda, pelajaran dan dikatakan pula yakni petunjuk kepada dalil sebagaimana disebutkan Imam Al-Raghib al-Ashfahani[13]. Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji (w. 1435 H) mengatakan:

الآية : ج آيات، ومنه آيات العلامة,العبرة 

“Al-Âyat, jamaknya âyât, diantara maknanya yaitu tanda, pelajaran.”[14]

Di sisi lain ayat ini mengandung instruksi bahwa ilmu pengetahuan atau sains sudah semestinya menguatkan keimanannya kepada keberadaan dan keagungan Sang Pencipta, yakni Allah ’Azza wa Jalla, hal yang bertentangan dengan paradigma sains Barat. Hal itu digambarkan pula dalam ayat-ayat yang agung dalam QS. Al-Ghâsyiyyah [88]: 17-26:

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ {١٧} وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ {١٨} وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ {١٩} وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ {٢٠} فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ {٢١} لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ {٢٢} إِلَّا مَنْ تَوَلَّىٰ وَكَفَرَ {٢٣}فَيُعَذِّبُهُ اللَّهُ الْعَذَابَ الْأَكْبَرَ {٢٤} إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ {٢٥} ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ {٢٦}

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, lantaran sesungguhnya kau hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, tetapi siapa yang berpaling dan kafir, maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar. Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.”(QS. Al-Ghâsyiyyah [88]: 17-26)

Syaikh Abdullah M. al-Ruhaili pun dalam buku This is The Truth: Newly Discovered Scientific Facts Revealed in the Alquran & Authentic Sunnah menegaskan bahwa Islam menjunjung tinggi status ilmu pengetahuan dan orang yang berilmu, menghormati mereka sebagai saksi sehabis malaikat yang bekerjasama dengan fakta gres tiada Tuhan selain Allah, sebagaimana yang telah Allah firmankan kepada kita:

{شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ}

”Allah menyatakan bekerjsama tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).” (QS. ÂIi Imrân [3]: 18)[15]

Maka tidak mengherankan kalau kaum muslimin mempunyai dorongan yang berpengaruh untuk berilmu dan membuatkan ilmunya, hal ini pun dibuktikan oleh banyaknya para ulama Islam -selama kurun waktu berabad-abad dalam naungan al-Khilafah al-Islamiyyah- yang menguasai aneka macam disiplin ilmu syari’ah maupun ilmu sains secara bersamaan, dimana iktikad Islam menjadi landasan berpengaruh untuk meraih ilmu, sekaligus kerangka dan kaidah berpikir itu sendiri, atau dalam istilah al-Qadhi Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani yakni al-qiyâdah wa al-qâ’idah al-fikriyyah.[16] Hal yang tidak dimiliki oleh dunia Barat.

Ilmu sains dalam Islam diraih dengan motivasi agung untuk menebarkan kebaikan bagi insan dengan menyokong dakwah Islam dan menebarkan rahmat bagi semesta alam dengan tersebarnya Islam ke seluruh penjuru dunia. Buktinya, kaum muslimin pernah menjadi mercusuar ilmu sains dimana peradaban Barat banyak mengambil manfaat yang besar darinya dan ini dibuktikan dalam catatan sejarah. Para ulama pun ketika merinci pembagian terstruktur mengenai ilmu, menggolongkan ilmu yang diperlukan oleh umat semisal ilmu sains di bidang kesehatan, pangan dan militer (i’dâd jihâd) dan lain sebagainya yang diperlukan oleh umat sebagai ilmu yang hukumnya fardhu kifayah. Artinya wajib ada di antara umat ini yang melaksanakan penelitian dan menguasai sains di bidang-bidang tersebut. Ini satu pembahasan yang bisa kita rinci kembali. Artinya ilmu sains bisa menempati posisi yang tinggi dan krusial dalam Islam ketika ilmu itu benar asasnya dan benar aplikasinya.

Lalu bagaimana mendudukkan Al-Qur’an dan sains itu sendiri? Sudah saya tegaskan bahwa al-Qur’an bukan buku sains yang memuat hasil-hasil penelitian sains yang bisa terus berkembang dan diperbaharui. Namun tidak sedikit isu yang disebutkan dalam al-Qur’an yang kemudian bersesuaian dengan hasil penelitian saintis. Misalnya mengenai proses kejadian insan dalam al-Qur’an (salah satunya dalam QS. Al-‘Alaq), dimana ilmu sains dengan penelitian ilmiah yang dilakukan insan bisa dikatakan gres mengetahui detail isu mengenai proses ini belakangan sehabis turunnya al-Qur’an seiring sejalan dengan perkembangan instrumen penelitian, termasuk mengenai proses kejadian alam semesta ini.

Syaikh Abdullah M. Al-Ruhaili menyebutkan:

Kami menghadirkan Profesor Emeritus Keith Moore, salah satu dari ilmuwan dunia yang terkemuka dalam bidang Anatomi dan Embriologi. Kami bertanya kepada Profesor Moore untuk menawarkan analisis ilmiah dari beberapa versi al-Quran secara spesifik kepada kita dan hadis mengenai lapangannya secara khusus.

Profesor Moore yaitu penulis buku yang berjudul "The Development Human". Dia yaitu Profiesor Emeritus hebat Anatomi dan Sel Biologi Universitas Toronto, Kanada, di mana dia Ketua Jurusan Basic Sciences, Fakultas Kesehatan, dan selama 8 tahun Ketua Jurusan Anatomi. Prof.Moore sebelumnya juga mengabdi pada Universitas Winndipeg, Kanada, selama sebelas tahun. Dia mengepalai beberapa Internasional Associations of Anatomist and the Counalofthe Union of Biological Science. Profesor Moore juga terpilih anggota Royal Medical Associations of Canada, the Intemational Academy of Cytology, the Union of American Anatomist dan the Union of North dan South American Anatomist, dan pada tahun 1984 mendapatkan penghargaan yang populer dalam bidang anatomi di Kanada, JCB Grant Award dari the Canadian Association of Anatomist. Dia menerbitkan beberapa buku di klinik Anatomi dan Embriologi, delapan dari buku ini dipakai sebagai acuan di sekolah medis dan talah diterjemahkaii ke dalam enam bahasa.

Ketika kami bertanya kepada Profesor Moore untuk menawarkan analisis kepada kami perihal ayat al-Quran dan sabda nabi, maka dia terkejut. Dia heran bagaimana Nabi Muhammad -shallallâhu 'alayhi wa sallam- pada 14 masa yang kemudian sanggup mendeskripsikan embrio dan fase perkembangannya secara detail dan akurat, yang mana para ilmuwan untuk mengetahui hal itu gres tiga puluh tahun terakhir. Akan tetapi, keterkejutan Profesor Moore itu berkembang begitu cepat menjadi kekaguman terhadap wahyu dan petunjuk ini. Dia memperkenalkan sudut pandang ini secara intelektual dan lingkungan ilmiah. Dia juga memberi sebuah surat pada kesesuaian embriologi modern dengan al-Quran dan Sunnah, di mana dia menyatakan sebagai berikut: "Ini merupakan kesenangan yang besar bagi saya untuk membantu mengklarifikasi pernyataan di dalam al-Quran perihal perkembangan manusia. Telah terang bagi saya bahwa pernyataan yang tiba kepada Nabi Muhammad niscaya dari Allah atau Tuhan alasannya yaitu hampir semua pengetahuan tidak ditemukan hingga beberapa masa terakhir. Hal ini memperlihatkan bahwa Nabi Muhammad yaitu utusan Allah. "

Pertimbangan yang populer dan dihormati ilmuwan embriologi ini dinyatakan atas pembelajaran ayat al-Quran sesuai dengan disiplinnya. Dan kesimpulannya bahwa Nabi Muhammad -shallallâhu 'alayhi wa sallam- yaitu utusan Allah.[17]

Fungsi isu menyerupai ini sebenarnya menjadi salah satu bukti keagungan kandungan al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla yang turun kepada Rasul-Nya sekitar 1400 tahun lalu, yang hingga kepada kita dengan jalan periwayatan yang bisa dipastikan kebenarannya (qath’iy) yakni secara mutawatir.[18] Sehingga terang bagi mereka yang memakai akalnya untuk berpikir untuk hingga kepada keyakinan kebenaran al-Qur’an dan keyakinan terhadap keberadaan Allah ’Azza wa Jalla dan mentauhidkan-Nya.

Banyak pula ilmuwan barat yang tidak bisa menafikan kebenaran informasi-informasi sainstis yang telah diungkapkan dalam al-Qur’an 1400 tahun yang kemudian dimana alat-alat penelitian ilmiah di masa itu belum menyerupai ketika ini, penjelasan lebih mapan bisa dirujuk dalam pemaparan al-Qur’an dan sains yang dikompilasikan oleh Syaikh Abdullah M. Al-Ruhaili dalam buku This is The Truth, Newly Discovered Scientific Focts Revealed in the Alquran & Authentic Sunnah (Wolrd Supreme Council for Mosques Affairs Commission on Scientific Sign of Qur'an and Sunnah at Muslim World League Makkah al­Mukarramah and Alharamain Islamic Foundation, Third Edition, Riyadh, 1999).[19] Link download buku:

https://d1.islamhouse.com/data/en/ih_books/single/en_This_is_the_truth.pdf

B.  Bagaimana Sikap & Pemahaman Umat Islam Terhadap Hasil Penelitian Sains Orang Barat?

Mengenai pemahaman mengadopsi penemuan-penemuan saintis yang ditemukan oleh orang-orang Barat yang berbasis empiris dan bersifat universal atau tidak terkait denganworldview atau paradigma yang lahir dari iktikad tertentu, semisal ilmu teknologi pangan atau teknologi-teknologi kekinian yang terus berkembang menyerupai elektronik, maka hukumnya boleh kita adopsi. Hal itu sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya al-Qadi  Taqiyuddin bin Ibrahim (w. 1977) dalam kitab Nizhâm al-Islâm, bab. Al-Hadhârah al-Islâmiyyah:

والأشكال المدنية التي تنتج عن العلم وتقدمه، والصناعة ورقيها، تكون عامة، ولا تختص بها أمة من الأمم، بل تكون عالمية

”Bentuk-bentuk produk (madaniyyah) yang dihasilkan dari sains dan perkembangannya, industri dan kemajuannya, bersifat umum, tidak dikhususkan untuk umat tertentu dari umat manusia, akan tetapi bersifat universal.”[20]

Maka dari itu, Imam Taqiyuddin bin Ibrahim pun menegaskan bahwa memakai bentuk-bentuk produk (madaniyyah) dari Barat yang dihasilkan dari sains atau industri tidak ada halangan bagi kita untuk menggunakannya[21], hal itu berbeda dengan bentuk-bentuk madaniyyah yang dihasilkan dari iktikad atau paradigma khas peradaban Barat, ia dihentikan diadopsi contohnya lukisan yang mengandung pornografi yang dianggap dalam peradaban Barat sebagai karya seni.

Bahkan dalam Islam, sebagaimana dirinci oleh al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani, mengenai pengambilan keputusan dalam perkara-perkara yang membutuhkan keahlian dan pengetahuan, dikembalikan kepada orang yang memang hebat dalam duduk masalah ini. Untuk mengungkap obat apa yang paling mujarab untuk suatu penyakit misalnya, kita harus bertanya kepada dokter ahli. Pendapat dokter harus diutamakan dibandingkan dengan pendapat-pendapat orang yang tidak ahli. Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam- pernah menganulir pendapat ia sendiri dan mengikuti pendapat Khabab bin Mundzir. Sebab, Khubab yaitu orang yang lebih hebat dalam menetapkan di posisi mana kaum muslimin harus bertahan. Maka dalam perkara-perkara semacam ini pengambilan keputusan dikembalikan kepada orang yang ahli. Prinsip bunyi lebih banyak didominasi sebagaimana yang diberlakukan pada sistem demokrasi, dihentikan diberlakukan dalam perkara-perkara semacam ini.[22]

Mengenai ilmu sains yang didasarkan pada pembuktian empiris, kita pun menemukan pembahasannya dalam hadits yang berbicara mengenai ilmu penyerbukan, yang sebenarnya mengandung dorongan pula untuk meraih ilmu tersebut: dalam hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a.:

أَنّ النَّبِيَّ -صلى الله عليه وسلم- مَرَّ بِقَوْمٍ يُلَقِّحُونَ، فَقَالَ : لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ، قَالَ: فَخَرَجَ شِيصًا، فَمَرَّ بِهِمْ، فَقَالَ : مَا لِنَخْلِكُمْ، قَالُوا : قُلْتَ كَذَا وَكَذَا، قَالَ : أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ  

”Bahwa Nabi shallallâhu ‘alayhi wa sallam- pernah melewati suatu kaum yang sedang mengawinkan pohon kurma kemudian ia bersabda: ”Sekiranya mereka tidak melakukannya, kurma itu akan (tetap) baik.” Tapi sehabis itu, ternyata kurma tersebut tumbuh dalam keadaan rusak. Hingga suatu ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melewati mereka lagi dan melihat hal itu ia bertanya: ”Ada apa dengan pohon kurma kalian?” Mereka menjawab: ”Bukankah anda telah menyampaikan hal ini dan hal itu?” Beliau shallallâhu ‘alayhi wa sallam- lalu bersabda: ”Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” (HR. Muslim[23])

Yang dimaksud dengan ”urusan dunia kalian” dalam hadits di atas di antaranya ilmu teknologi. Ini satu pembahasan yang bisa kita rinci. Lalu bagaimana dengan pembahasan menyikapi teori-teori ”sains” Barat yang bertentangan dengan iktikad Islam itu sendiri?

C.  Memahami Asas Kritik Para Ulama Terhadap Dunia Barat

Pembahasan mengenai al-Qur'an dan sains berkaitan pula dengan sumber epistemologi dalam Islam, struktur epistemologi Islam dan Barat terang berbeda, kalau Barat menolak al-Khabar al-Shâdiq (al-wahyu) sebagai sumber ilmu, dan hanya berkutat pada pembuktian empiris dan hal-hal yang materialistik (materialisme) belaka, maka berbeda dengan Islam yang mengakibatkan hal-hal yang empiris (terindera) dan al-khabar al-shâdiq (al-wahyu) sebagai sumber ilmu (epistemologi).

            Ini penting dipahami biar kita memahami asas kritik para ulama yang mengkritisi keras konsep materialisme, dimana para ulama ini menghadapi pribadi para penganut materialisme, maupun para atheis dari kalangan orientalis pada masanya (misalnya pengalaman Dr. Mushthafa al-Siba’i yang ia paparkan dalam buku-bukunya), perinciannya bisa kita cek dalam kritik-kritik mereka, contohnya kritik al-'Allamah Taqiyuddin al-Nabhani terhadap asas materialisme dan ideologi komunisme salah satunya dalam kitabNizhâm al-Islâm, Dr. Mushthafa al-Siba'i dalam kitab Min Rawâi’i Hadhâratinâdan Syaikhul Azhar al-'Allamah Muhammad al-Khudhari Husain, ia pun menegaskan:  “Adapun orang-orang yang berpegangteguh pada al-Qur’an dan as-Sunnah, maka wajib bagi mereka memperingatkan (umat manusia) dari meridhai aliran atheisme (termasuk liberalisme-pen.) dimanapun berada, meski kaum atheis tersebut yaitu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara dan kerabat-kerabat mereka.”[24]

Dan banyak para ulama lainnya yang juga gencar mengkritisi konsep materialisme, komunisme dan yang semisalnya sebagai perwujudan perilaku mencegah keburukan hingga kepada kaum muslimin. Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H) menegaskan bahwa (salah satu) pokok agama yaitu mencegah dari keburukan, mereka pun menyebutkan sya’ir:

عرفتُ الشرّ لا للشرّ * لكن لتوقيه

ومن لا يعرف الشرّ * من الناس يقع فيه

“Aku mengetahui keburukan bukan untuk keburukan # Melainkan untuk menghindarkan diri darinya.”

“Dan barangsiapa tidak mengetahui keburukan # Di antara insan maka akan terjerumus ke dalamnya.[25]

Salah satu hipotes yang dikritisi para ilmuwan dan ulama muslim yaitu hipotesa mengenai teori evolusi ”Teori Darwin” yang digagas oleh seorang naturalis (aliran filsafat naturalisme), Charles Darwin[26] yang hingga ketika ini tampaknya masih diajarkan di tingkat Sekolah Menengah khususnya dalam bidang studi Biologi, yang ujung-ujungnya bisa mengarahkan pada keyakinan kufur menolak keberadaan penciptaan dan Sang Pencipta, yang bertolak belakang dengan  akidah Islam yang agung. Sehingga menuai banyak kritik dan bantahan dari para ulama dan ilmuwan muslim dimana mereka memang menghadapi pribadi paham-paham materialisme, komunisme dan para penganutnya menyerupai yang tergambar dalam penjelasan para ulama masa ke-19 dalam buku-buku mereka. []


[1] Yakni bisa mengalahkan bantahan-bantahan atau tantangan-tantangan kaum penentang (kuffar) atasnya.

[2] Dr. Samih ‘Athif al-Zayn, ‘Ilm Ushûl al-Fiqh al-Muyassar, Mesir: Dâr al-Kitâb al-Mishri, Cet. I, 1410 H, hlm. 308.

[3] Abu al-Qâsim bin Muhammad al-Râghibal-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Maktabah Nazâr Mushthafa al-Bâz, juz I, hlm. 3.

[4] Salah seorang Dosen Tafsir (seorang doktor di bidang ilmu balaghah dari salah satu Universitas Islam terkemuka di dunia, Universitas al-Azhar) di daerah penyusun bekerja di Kuliyyatusy-Syarî’ah wad-Dirâsât Al-Islâmiyyah – Jâmi’atur-Râyah.

[5] Prof. Dr. Fadhil Shalih al-Samara’i,Balâghat al-Kalimah fî al-Ta’bîr al-Qur’âniy, Kairo: Syirkat al-‘Aatik, cet. II, 1427 H/ 2006, hlm. 4.

[6] Ibid.

[7] Muhammad bin Jarîr bin Yazîd bin Katsîr Abu Ja’far al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1420 H, juz XVII, hlm. 278.

[8] Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim al-Tsa’labi, Al-Kasyf wa al-Bayân ‘an Tafsîr al-Qur’ân, Beirut: Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabi, Cet. I, 1422 H, jilid VI, hlm. 37

[9] Jabir bin Musa bin ‘Abdul Qadir bin Jabir Abu Bakr Al-Jaza’iri, Aysar at-Tafâsîr li Kalâm al-‘Ulya al-Kabîr, Madinah: Maktabah al-‘Ulûm wa al-Hikam, Cet. V, 1424 H, jilid III, hlm. 138-139.

[10] ‘Atha’ bin Khalil Abu al-Rasytah, Al-Taysîr fî Ushûl Al-Tafsîr (Sûrah Al-Baqarah), Beirut: Dâr al-Ummah, cet. II, 1427 H/ 2006, hlm. 66.

[11] Abdullah M. Al-Ruhaili, This is The Truth: Newly Discovered Scientific Focts Revealed in the Alquran & Authentic Sunnah, Wolrd Supreme Council for Mosques Affairs Commission on Scientific Sign of Qur'an and Sunnah at Muslim World League Makkah al­Mukarramah and Al-Haramain Islamic Foundation, Riyadh, ed. III, 1999, hlm. 3.

[12] Ibid.

[13] Abu al-Qâsim al-Husain bin Muhammad al-Râghib al-Ashfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Damaskus: Daar al-Qalam, cet. I, 1412 H, hlm. 102.

[14] Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji, Mu’jam Lughatil Fuqahâ, Beirut: Dar al-Nafa’is, Cet. II, 1408 H.

[15] Abdullah M. Al-Ruhaili, This is The Truth: Newly Discovered Scientific Focts Revealed in the Alquran & Authentic Sunnah, Wolrd Supreme Council for Mosques Affairs Commission on Scientific Sign of Qur'an and Sunnah at Muslim World League Makkah al­Mukarramah and Al-Haramain Islamic Foundation, Riyadh, ed. III, 1999, hlm. 3.

[16] Lihat ulasan mengenai ini dalam kitabNizhâm al-Islâm karya al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani, hlm. 11-29.

[17] Abdullah M. Al-Rehaili, Bukti Kebenaran al-Qur’an, Yogyakarta: Tajidu Press, cet. I, 1424 H/2003.

[18] Dr. Samih ‘Athif al-Zayn, ‘Ilm Ushûl al-Fiqh al-Muyassar, hlm. 308.

[19] Abdullah M. Al-Ruhaili, This is The Truth: Newly Discovered Scientific Focts Revealed in the Alquran & Authentic Sunnah, Wolrd Supreme Council for Mosques Affairs Commission on Scientific Sign of Qur'an and Sunnah at Muslim World League Makkah al­Mukarramah and Al-Haramain Islamic Foundation, Riyadh, ed. III, 1999. Versi terjemah: Abdullah M. Al-Rehaili, Bukti Kebenaran al-Qur’an, Yogyakarta: Tajidu Press, cet. I, 1424 H/2003.

[20] Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani, Nizhâm al-Islâm, Beirut: Daar al-Ummah, Cet. VII, 1372 H/ 1953, Bab. Al-Hadhârah al-Islâmiyyah, hlm. 31.

[21] Ibid, hlm. 32.

[22] Taqiyuddin bin Ibrahim al-Nabhani,Al-Syakhshiyyah Al-Islâmiyyah, Beirut: Dâr al-Ummah, 1994, juz. I, hlm. 247-248.

[23] HR. Muslim dalam Shahîh-nya (IV/1836, hadits no. 141, Bab. Wujûb Imtitsâli Mâ Qâlahu Syar’an Dûna Mâ Dzakarahu Min Ma’âyisy al-Dunyâ’).

[24] Muhammad al-Khudhari Husain,Silsilatu Milal wa Nihal [3]: Al-Ilhâd, Kuwait: Maktabah Ibn Taimiyyah, cet. I, 1406 H, hlm. 3-4.

[25] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi, Ihyâ’ ’Ulûm al-Dîn,Beirut: Dâr al-Ma’rifah, juz I, hlm. 77.

[26] Lihat Ensiklopedia Britanica:http://www.britannica.com/biography/Charles-Darwin

Friday, July 29, 2016

Iptek Masa Khilafah: Membangun Nalar Ilmiah Dan Peradaban Dunia

 Membangun Nalar Ilmiah dan Peradaban Dunia IPTEK Era Khilafah: Membangun Nalar Ilmiah dan Peradaban Dunia

Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yakni salah satu kunci keunggulan suatu bangsa atas bangsa lainnya. Namun, yang lebih vital dari itu yakni motivasi suatu bangsa menguasai iptek. Selama motivasi ini ada maka bangsa itu tak kan pernah kenal lelah untuk mempelajari dan menyebarkan iptek serta menyiapkan segala infrastruktur yang diperlukan. Mereka tak cuma akan mengejar ketinggalannya, namun juga akan selalu bisa mempertahankan keunggulan yang telah mereka raih.

Paksaan atau rangsangan ekonomi yakni motivator bermutu rendah; gampang ditimbulkan, namun gampang pula hilang; tidak bisa melahirkan suatu kesinambungan sendiri. Pembangunan iptek yang dilakukan lantaran paksaan suatu rezim tiranik, misalnya, akan segera berhenti kalau paksaan itu dikendorkan. Akibatnya, untuk menghidupkan iptek, rakyat dan para ilmuwan harus terus-menerus hidup dalam ketakutan. Adapun rangsangan ekonomi mempunyai “mutu” sedikit di atas paksaan, namun sama sensitifnya. Iptek yang belum menghasilkan laba ekonomi secara pribadi akan terabaikan. Padahal banyak iptek yang pada masa awalnya sama sekali “kering”.
Motivasi yang paling tinggi nilainya yakni keyakinan bahwa pekerjaan itu benar dan harus dilakukan. Keyakinan itu memerlukan waktu untuk ditanamkan ke dada manusia, namun sekali tertanam ia akan “hidup” terus, selama bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Manusia akan bekerja bebas tanpa paksaan, merdeka tanpa harus tunduk pada hambatan ekonomi. Mereka bekerja semata-mata lantaran yakin kebenarannya, dan untuk itu mereka akan selalu menemukan jalan, supaya pekerjaannya bisa berhasil. Motivasi inilah yang dimiliki oleh para nabi, yang juga diwarisi umat Islam pada masa lalu, sehingga bisa mengangkat bangsa yang “ummi” (buta huruf) menjadi bangsa yang meninggalkan jejak yang luar biasa pada dunia iptek.

Aspek Normatif
Ayat yang turun pertama-tama yakni ayat ihwal perintah membaca (QSal-‘Alaq [96]: 1-5). Selanjutnya Allah memerintahkan memakai akal, menyebut kedudukan yang tinggi bagi orang-orang yang melihat alam, berpikir, memahami dan mempertebal keimanannya. Sains terkait pribadi dengan dogma (QS Yunus [10]: 100; Fathir [35]: 28; Yunus [10]: 101). Kemudian Allah memerintahkan kita untuk menundukkan alam sesuai sunnatullah maka muncullah teknologi (QS al-Jatsiyah [45]: 13). Banyak pola yang diberikan nabi dan kemudian diteruskan oleh para salafus-shalih, yang mengakibatkan umat Islam dalam waktu singkat bisa mengungguli iptek yang pernah dikuasai oleh bangsa manapun sebelumnya.

1. Pembentukan daypikir ilmiah.
Sejak mula, Islam tidak mendapatkan pendapat tanpa argumentasi rasional, siapapun yang mengucapkan (QS an-Naml [27]: 64). Islam tidak mengakui sangkaan (zhann) untuk hal-hal yang perlu keyakinan penuh dan ilmu yang akurat (QS an-Najm [53]: 28). Islam menolak subyektivitas emosi lantaran apapun kesimpulannya, ia berinteraksi pada aturan alam (QS Shad [38]: 26). Islam mengikis patuh buta (taklid), baik itu kepada nenek moyang, pemimpin, apalagi pada orang awam (QS al-Baqarah [2]: 170). Islam mementingkan pengamatan empiris terhadap langit dan bumi dan segala isinya (QS adz-Dzariyat [51]: 20-21).

2. Pengakuan metode eksperimental
Pada kasus pencangkokan kurma yang ternyata gagal, Rasulullah saw. bertanya, “Apa yang terjadi?” Mereka menjawab, “Baginda telah menyampaikan begini dan begitu”. Rasulullah bersabda, “Kalian lebih tahu urusan teknik dunia kalian.” (HR Muslim).
Dalam hadis lain, Rasul saw. bersabda, “Ucapanku dulu hanyalah dugaanku. Jika berguna, lakukanlah. Aku hanyalah seorang insan menyerupai kamu. Dugaan bisa benar bisa salah. Namun, apa yang kukatakan kepada kau dengan Allah berfirman, maka saya tak akan pernah berdusta terhadap Allah.” (HR Ahmad).

3. Memetik segala yang bermanfaat
Rasulullah saw. bersabda, “Ilmu itu bagai hewan ternak sesat orang Mukmin. Di manapun ia menemukannya, ia lebih berhak atasnya.”(HR at-Tirmizi dan Ibnu Majah).
Atas dasar ini, maka umat Islam tidak pernah merasa risih mencar ilmu ilmu-ilmu yang tidak terwarnai pandangan hidup pemiliknya menyerupai matematika, fisika, kedokteran, ilmu militer sampai administrasi.

4. Memberantas tahayul dan khurafat
Saat terjadi gerhana matahari yang bertepatan dengan wafatnya Ibrahim putra Nabi saw., sebagian Muslim menghubungkan hal itu sebagai tanda kebenaran Nabi saw. sehingga “matahari pun turut berduka”. Namun, Nabi saw. justru bersabda, “Gerhana matahari dan bulan tidak terjadi lantaran simpulan hidup atau kelahiran seseorang, tetapi keduanya yakni gejala kekuasaan Allah.” (HR al-Bukhari).
Rasulullah saw. juga bersabda, “Siapa saja yang mendatangi dukun/paranormal dan menanyakan sesuatu, kemudian membenarkan apa yang ia ucapkan, maka salatnya tidak diterima selama 40 hari.” (HR Muslim).

Implikasi Kebijakan
Semua amalan itu ada ilmunya. Amalan yang fardhu ‘ain, ilmunya juga fardhu ‘ain. Amalan yang fardhu kifayah, ilmunya pun fardhu kifayah. Amalan yang fardhu ‘ain yakni amalan yang sehari-hari harus dikerjakan oleh setiap orang, baik untuk diri sendiri (mengetahui cara hidup sehat, dll), bekerjasama kepada Allah (taharah, shalat, puasa, dll) maupun untuk bekerjasama dengan sesama insan (muamalah, menjaga amanat, dsb).
Hidup dalam dakwah. Dengan itu, dalam mencar ilmu seorang Muslim akan menyerap ilmu secara maksimal alasannya yakni nanti ia harus bisa meneruskannya ke orang lain; dalam bekerja harus mencapai prestasi terbaik alasannya yakni nanti ia harus bisa menjadi pola bagi yang lain.
Negara Islam menyiapkan infrastruktur yang mendukung. Dukungan negara bisa dimulai dari menjamin kebebasan akademis, pemerataan saluran ilmu (pendirian sekolah, perpustakaan, observatorium, laboratorium) sampai implementasinya. Kestabilan politik serta jumlah “penjaga gawang keadilan” yang memadai juga membebaskan para ilmuwan iptek untuk berkonsentrasi pada riset ipteknya, tanpa harus selalu diputus untuk amar makruf nahi mungkar.

Bukti Historis
Prestasi umat Islam dalam sains dan teknologi sangat banyak dan berjalan konsisten selama hampir 1200 tahun. Memang, ada masa-masa ketika ilmu-ilmu dasar menyerupai matematika, fisika, kimia dan astronomi lebih berkembang, yaitu pada awal era Abbasiyah. Kemudian ada masa ketika teknologi menyerupai kedokteran, geografi, pertanian, permesinan, arsitektur bahkan teknik senjata lebih berkembang, menyerupai pada era Utsmani. Hal ini diakui oleh banyak sejarahwan Barat.
John J. O’Connor dan Edmund F. Robertson (1999) menulis dalam MacTutor History of Mathematics Archive:
Recent research paints a new picture of the debt that we owe to Islamic mathematics. Certainly many of the ideas which were previously thought to have been brilliant new conceptions due to European mathematicians of the sixteenth, seventeenth and eighteenth centuries are now known to have been developed by Arabic/Islamic mathematicians around four centuries earlier(Penelitian terkini memberi-kan citra yang gres pada hutang yang telah diberikan matematika Islam pada kita. Dapat dipastikan bahwa banyak inspirasi yang sebelumnya kita anggap merupakan konsep-konsep brilian matematikawan Eropa pada era 15, 17 dan 18 ternyata telah dikembangkan oleh matematikawan Arab/Islam kira-kira empat era lebih awal).

Will Durant juga menulis dalam The Story of Civilization IV: The Age of Faith:
Chemistry as a science was almost created by the Moslems; for in this field, where the Greeks (so far as we know) were confined to industrial experience and vague hypothesis, the Saracens introduced precise observation, controlled experiment, and careful records. They invented and named the alembic (al-anbiq), chemically analyzed innumerable substances, composed lapidaries, distinguished alkalis and acids, investigated their affinities, studied and manufactured hundreds of drugs. Alchemy, which the Moslems inherited from Egypt, contributed to chemistry by a thousand incidental discoveries, and by its method, which was the most scientific of all medieval operations(Kimia yakni ilmu yang hampir seluruhnya diciptakan oleh kaum Muslim. Saat dalam bidang ini orang-orang Yunani tidak mempunyai pengalaman industri dan hanya memperlihatkan hipotesis yang meragukan, para ilmuwan Muslim mengantarkan pada pengamatan teliti, eksperimen terkontrol dan catatan yang hati-hati. Mereka menemukan dan memberi nama alembic (al-anbiq), menganalisis substansi yang tak terhitung banyaknya, membedakan alkali dan asam, memeriksa kemiripannya, mempelajari dan memproduksi ratusan jenis obat. Alkimia yang diwarisi kaum Muslim dari Mesir menyumbangkan untuk kimia ribuan inovasi insidental, dari metodenya, yang paling ilmiah dari seluruh acara pada Zaman Pertengahan).

Phillip K. Hitti pun menulis dalam History of the Arabs tentang Abbas ibn Firnas (abad 10M) yang melaksanakan eksperimen alat terbang di Cordoba, “Ibn Firnas was the first man in history to make a scientific attempt at flying.”
Donald R. Hill dalam bukunya, Islamic Technology: an Illustrated History(Unesco & The Press Syndicate of the University of Cambridge, 1986), menciptakan sebuah daftar yang tidak mengecewakan panjang dari industri yang pernah ada dalam sejarah Islam; dari industri mesin, materi bangunan, pesenjataan, perkapalan, kimia, tekstil, kertas, kulit, pangan sampai pertambangan dan metalurgi.
Kata-kata Arab pun terwarisi dalam istilah-istilah astronomi, alat-alat bedah sampai barang-barang yang ada di dapur.

Sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/