Showing posts with label Arsitektur Islam. Show all posts
Showing posts with label Arsitektur Islam. Show all posts

Saturday, August 31, 2019

Kemegahan Masjid Al Markaz Al Islami Maros Sulawesi Selatan







Masjid Al-Markas Al-Islami Maros terletak di pusat Kota Maros, tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros. Lokasi masjid berhadapan pribadi dengan kantor Bupati Maros. Masjid ini merupakan masjid terbesar di Maros, dengan kapasitas daya tampung sampai 7.000 orang jamaah. Dibangun semenjak tahun 2003 lalu, pembangunan masjid diprakarsai oleh Bupati Maros kala itu, Andi Najamuddin Aminullah yang menginginkan adanya masjid representatif bagi masyarakat Maros. Pembangunan masjid sendiri rampung pada tahun 2006, dan diresmikan pribadi oleh Wapres Republik Indonesia, HM Jusuf Kalla. Masjid Al-Markas Maros berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 3 hektar, dengan luas bangunan sekitar 1 hektar. Meski dibangun oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros, namun pembangunan sampai pembebasan lahan masjid banyak dibantu oleh para pengusaha dan masyarakat Maros yang mewakafkan tanahnya untuk pembangunan masjid. Masjid Al-Markas Maros mempunyai tiga lantai. Lantai dasar difungsikan sebagai kegiatan syiar islam, kegiatan ekonomi ummat dan banyak sekali kegiatan sosial lainnya. Sementara lantai dua dan tiga diperuntukkan khusus untuk kegiatan ibadah. bangunan Masjid Al-Markas Maros terinspirasi dengan Masjid Al-Markas Makassar, sehingga bentuk arsitektur bangunan mempunyai persamaan dengan Masjid Al-Markas Makassar. Meski demikian, dikala akan melaksanakan pemasangan kubah masjid, konsep kubah diubah mengikuti bentuk masjid timur tengah sehingga terbentuklah konsep perpaduan Bugis Makassar dan Timur Tengah. Salah satu daya tarik dan keunikan masjid ini ialah kubahnya yang berwarna merah putih. Halaman parkir dan taman yang luas juga menjadi faktor pendukung signifikan kemegahannya. Badan bangunan masjid juga tak kalah anggun. Dengan titik sentral bangunan berupa tangga dilingkupi relung tembok besar menjulang tinggi sampai ke bab paling atas, bangunan tampak sangat kokoh namun artistik. Menaiki tangga menuju ruang dalam masjid, pengunjung akan disambut beduk yang diklaim sebagai bedug terbesar di Sulawesi Selatan dan didatangkan khusus dari Jepara. Bagian dalam ruang utama sangat luas dan megah alasannya tidak tertutup oleh lantai di atasnya yang hanya mengitari bab sisi ruang utama. Plafon ruangan yang mengikuti bentuk kubah dengan aksen lampu gantung hias menambah keindahan ruangan. Pencahayaan ruangan juga memesona. Cahaya alami masuk melalui bukaan jendela yang terhampar di sepanjang dinding masjid. Dinding bab depan ruang utama dilapisi marmer. Di sana terletak mihrab yang dibedakan dari bab lainnya dengan memakai relung berbentuk paduan persegi panjang dan segi tiga lancip di ujungnya. Mimbar di bab depan pun merupakan keistimewaan masjid. Dengan materi kayu jati berukir dari Jepara, mimbar besar ini menjadi pesona tersendiri di dalam ruangan. Adapun lantai ruangan memakai materi marmer berwarna abu-abu bau tanah sampai memberi kesan sejuk. Masjid difungsikan sebagai pusat kegiatan sosial keagamaan yang bertujuan menambah keimanan dan ketakwaan masyarakat sekitar. #ArsitekturISLAM #KameraDrone4K #Fotografi #MasjidKita

Monday, August 26, 2019

Kemegahan Masjid Agung Kab. Maros Sulawesi Selatan




Luas Tanah : 8.892 m2 Status Tanah : Wakaf Tahun Berdiri : 1955 Daya Tampung Jamaah : 1.000 Fasilitas : Parkir, Taman, Gudang, Tempat Penitipan Sepatu/Sandal, Perlengkapan Pengurusan Jenazah, Perpustakaan, Kantor Sekretariat, Penyejuk Udara/AC, Sound System dan Multimedia, Pembangkit Listrik/Genset, Kamar Mandi/WC, Tempat Wudhu, Sarana Ibadah Kegiatan : Pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf, Menyelenggarakan aktivitas pendidikan (TPA, Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Menyelenggarakan aktivitas sosial ekonomi (koperasi masjid), Menyelenggarakan Pengajian Rutin, Menyelenggarakan Dakwah Islam/Tabliq Akbar, Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam, Menyelenggarakan Sholat Jumat, Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu Jumlah Pengurus : 74

Saturday, January 26, 2019

Istana Al-Hambra: Warisan Kejayaan Islam Di Spanyol.




Istana Alhambra didirikan oleh kerajaan Bani Ahmar atau bangsa Moor dari tempat Afrika Utara. Bani Ahmar yaitu penguasa kerajaan Islam terakhir yang berkuasa di Andalusia (Spanyol).



Istana Alhambra berdiri kokoh di bukit La Sabica, Granada, Spanyol. Ia menjadi saksi bisu sekaligus bukti sejarah kejayaan Islam di Spanyol (dulu Andalusia).

Nama Alhambra berasal dari bahasa Arab, hamra’ , bentuk jamak dari ahmar yang berarti “merah”. Dinamakan Istana Alhambra–yang berarti Istana Merah–karena bangunan ini banyak dihiasi ubin-ubin dan bata-bata berwarna merah, serta penghias dinding yang agak kemerah-merahan dengan keramik yang bernuansa seni Islami, di samping marmer-marmer yang putih dan indah.

Namun demikian, ada pula yang berpendapat, nama Alhambra diambil dari Sultan Muhammad bin Al-Ahmar,  pendiri kerajaan Islam Bani Ahmar –kerajaan Islam terakhir yang berkuasa di Spanyol (1232-1492 M).

Selain menjadi bukti kejayaan Islam, Istana Alhambra yang bernilai seni arsitektur tinggi ini juga memperlihatkan peradaban tinggi umat Islam tempo dulu.

Istana Alhambra yaitu simbol puncak kejayaan Islam di Spanyol. Islam masuk ke negeri ini dibawa oleh pasukan Islam pimpinan Thariq bin Ziyad yang dikirim raja muda Islam di Afrika, Musa bin Nusair. Pasukan Islam sendiri tiba untuk memerdekakan Andalusia (Spanyol) dari kekacauan mahir atas usul Gubernur Ceuta, Julian.

Thariq membawa sekitar 12.000 pasukan ke Gibraltar pada Mei 711 M. Ia memasuki Spanyol lewat selat di antara Maroko dan Spanyol yang kemudian diberi nama sesuai dengan namanya, Jabal Thariq.

Tanggal 19 Juli 711 M pasukan Islam mengalahkan pasukan Kristen di tempat Muara Sungai Barbate, dan terus menguasai kota-kota penting –Toledo, Kordoba, Malaga, dan Granada, sampai risikonya Spanyol berada di bawah kekuasaan Khilafah Bani Umayyah (Suriah). Sejumlah kerajaan Islam pun berdiri di Spanyol, ibarat di Toledo (Raja Muda, 711-756 M), Malaga (Raja Hamudian, 1010-1057), Saragoza (Raja Tujbiyah, 1019-1039 dan Raja Huddiyah, 1039-1142), Valencia (Raja Amiriyah, 1021-1096), Badajos (Raja Aftasysyiyah, 1022-1094), Sevilla (Raja Abbadiyah, 1023-1069), dan Toledo (Raja Dzun Nuniyah, 1028-1039).

Hampir delapan masa lamanya Islam berkuasa di Spanyol dengan ibukotanya Cordoba. Selain Istana Alhambra, satu lagi monumen penting kejayaan Islam di Spanyol yaitu Masjid Cordoba yang kini beralihfungsi menjadi Gereja Santa Maria de la Sede atau katedral “Virgin of Assumption”.





Daulah Bani Ahmar

Istana Alhambra didirikan oleh kerajaan Bani Ahmar atau bangsa Moor (Moria) dari tempat Afrika Utara. Bangsa Moor yaitu penguasa kerajaan Islam terakhir yang berkuasa di Andalusia (Spanyol), Daulah Bani Ahmar (1232-1492 M). Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Muhammad bin Al-Ahmar atau Bani Nasr yang masih keturunan Sa’id bin Ubaidah, seorang sahabat Rasulullah saw dari suku Khazraj di Madinah.

Pembangunan Istana Alhambra dilakukan secara bertahap, antara tahun 1238 dan 1358 M. Istana ini dilengkapi taman juga bunga-bunga indah nan harum. Ada juga Hausyus Sibb (Taman Singa) yang dikelilingi oleh 128 tiang yang terbuat dari marmer.

Di taman ini pula terdapat bak air mancur yang dihiasi dengan 12 patung singa yang berbaris melingkar, yakni dari verbal patung singa-singa tersebut keluar air yang memancar. Di dalamnya terdapat aneka macam ruangan yang indah, yaitu Ruangan Al-Hukmi (Baitul Hukmi), yakni ruangan pengadilan dengan luas 15 m x 15 m yang dibangun oleh Sultan Yusuf I (1334-1354); Ruangan Bani Siraj (Baitul Bani Siraj), ruangan berbentuk bujur kandang dengan luas bangunan 6,25 m x 6,25 m yang dipenuhi dengan hiasan-hisan kaligrafi Arab.

Ada pula Ruangan Bersiram (Hausy ar-Raihan), ruangan yang berukuran 36,6 m x 6,25 m yang terdapat pula al-birkah atau bak pada posisi tengah yang lantainya terbuat dari marmer putih. Luas bak ini 33,50 m x 4,40 m dengan kedalaman 1,5 m, yang di ujungnya terdapat teras serta formasi tiang dari marmer; Ruangan Dua Perempuan Bersaudra (Baitul al-Ukhtain), yaitu ruang yang khusus untuk dua orang bersaudara wanita Sultan Al-Ahmar; Ruangan Sultan (Baitul al-Mulk); dan masih banyak ruangan-ruangan lainnya, ibarat ruangan Duta, ruangan As-Safa’, ruangan Barkah, Ruangan Peristirahatan sultan dan permaisuri. Di sebelah utara ruangan ini ada sebuah masjid yakni Masjid Al-Mulk.

Selain itu, istana merah ini dikelilingi oleh benteng dengan plesteran yang kemerah-merahan. Yang lebih unik lagi pada bab luar dan dalam istana ini ditopang oleh pilar-pilar panjang sebagai penyangga juga penghias istana Alhambra. Dinding luar dan dalam istana banyak dihiasi kaligrafi dengan goresan khas yang sulit dicari tandingannya sampai kini.

Pada masa kejayaannya, istana ini dilengkapi pula dengan barang-barang berharga yang terbuat dari logam mulia, perak, dan permadani-permadani indah yang masih alami (buatan tangan).





Daulah Bani Ahmar bermula dari kerajaan kecil, namun dengan cepat menjadi kerajaan berpengaruh dan megah, sampai berkuasa selama sekitar 2,5 abad. Selain keshalihan dan kecerdasan para pemimpinnya, kejayaan Daulah Bani Ahmar ditunjang oleh keadaan alam wilayah Granada yang termasuk bukit atau pegunungan yang indah, dengan ketinggian kurang lebih 150 m, dan luas kira-kira 14 ha. Dengan kondisi geografis demikian, tempat kerajaan ini sulit dimasuki musuh. Daerah ini kini dinamakan Bukit La Sabica.

Raja-raja Bani Ahmar sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Saat itu bidang pertanian dan perdagangan sangat maju. Yang menjadikan kerajaan ini jatuh yaitu kerapuhan dari dalam, yakni sengketa yang terjadi di dalam kerajaan sendiri.

Sultan Muhammad XII Abu Abdillah an Nashriyyah, raja terakhir Bani Ahmar, tidak berhasil mempertahankan kerukunan keluarga kerajaan. Akhirnya energi mereka terkuras. Akibat fatalnya, kerajaan pun tidak sanggup bertahan ketika tiba serangan dari dua buah kerajaan Kristen yang bersatu, Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella. Kedua pemimpin kerajaan ini pula yang mendukung penjelajahan Columbus tahun 1492 M.

Pada pertengahan 1491, Raja Ferdinand V mengepung Granada selama tujuh bulan. Ia berhasil menguasai kota Malaga –kota pelabuhan terkuat di Andalusia, kemudian Guadix dan Almunicar, Baranicar, dan Almeria. Basis kerajaan Bani Ahmar, Granada, pun risikonya tunduk, tepatnya tanggal 2 Januari 1492 M/2 Rabiul Awwal 898 H. Kota ini diserahkan oleh raja terakhir Bani Ahmar, Abu Abdillah. Prosesi penyerahan Granada dilakukan di halaman Istana Alhambra.

Keberhasilan Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella menguasai Granada, menciptakan Paus Alexander VI (1431-1503) yang populer dengan perjanjian Tordesillasnya tahun 1494 memberi gelar kepada raja dan ratu ini sebagai “Catholic Monarch” atau “Los Reyes Catolicos” atau Raja Katolik.

Kejatuhan Daulah Bani Ahmar merupakan tamat sejarah kejayaan Islam di Spanyol. Pasca kejatuhan kerajaan Islam terakhir ini, umat Islam diberi dua pilihan: berpindah kepercayaan (masuk Kristen) atau keluar dari tanah Spanyol.

Memasuki Abad 16, Andalusia (Spanyol) yang selama 8 Abad dalam kekuasaan Islam, higienis dari keberadaan umat Islam. Kemegahan dan keindahan Istana Alhambra pun luntur sehabis menjadi Istana Kristen. Demikian pula Masjid Cordova yang dijadikan katedral “Virgin of Assumption”.

Namun Islam tidak benar-benar lenyap di negeri ini. Kini umat Islam di Spanyol diperkirakan sudah mencapai 750.000 orang (data sensus 2000) dari 40 juta jumlah total penduduk Spanyol. Islam menggeliat bangun ketika pemerintah Spanyol mengakui Islam sebagai agama resmi menurut UU Kebebasan Beragama yang disahkan pada Juni 1967.

Di ibukota Madrid terdapat 500 ribu Muslim, kebanyakan imigran asal Maroko, Algeria, dan negara-negara Arab lain. Gema adzan pun mulai marak berkumandang di beberapa masjid. Belum lagi banyak pesepakbola Muslim di klub-klub sepakbola elit Spanyol ketika ini. Semoga kejayaan masa lampau itu kembali diraih.

Allahu Akbar!

Saturday, August 18, 2018

Teknologi Sempurna Guna Zaman Khilafah


Dr Fahmi Amhar
Bicara teknologi, sering orang terdikotomi – atau bahkan terpolarisasi – pada pembagian teknologi “tepat guna” dan “teknologi canggih”.  Teknologi sempurna guna sering dipahami sebagai teknologi yang menyentuh kehidupan rakyat kecil yang merupakan mayoritas, dan dengan gampang sanggup diterapkan untuk menaikkan kualitas hidup.


Sedang teknologi canggih diasosiasikan sebagai teknologi yang eksklusif, hanya bisa dipakai oleh orang-orang kaya, atau yang berpendidikan tinggi.  Penggunaan teknologi canggh juga tidak secara signifikan menaikkan kualitas hidup, kecuali hanya menaikkan gengsi dari penggunanya.  Teknologi sempurna guna juga secara umum sanggup dibentuk sendiri oleh penduduk lokal dengan bahan-bahan lokal, sedang teknologi canggih lebih sering masih harus diimpor.
Karena itu, teknologi sempurna guna sering diasosiasikan dengan teknologi untuk mendapat air, teknologi meningkatkan produksi pertanian dan peternakan, teknologi energi yang murah, teknologi kesehatan dan obat-obatan dari bahan-bahan yang tersedia dan murah, juga teknologi transportasi yang tidak memerlukan teknologi tinggi.  Teknologi tinggi sering dicontohkan dengan teknologi gosip dan komunikasi, serta teknologi hankam.  Ini tidak menutup mata pada eksistensi teknologi canggih di bidang pangan, energi, kesehatan dan transportasi; atau juga teknologi sempurna guna di bidang informasi, komunikasi serta hankam.
Pada masa keemasan peradaban Islam, sebagian besar teknologi yang berkembang berangkat dari kebutuhan lebih banyak didominasi rakyat.  Karena itu lebih banyak didominasi teknologi yang ada sanggup disebut sempurna guna.
Misalnya teknologi pangan.  Di dunia pertanian muncul Al-Asma’i (740-828 M) yang mengabadikan namanya sebagai hebat binatang ternak dengan bukunya, seperti Kitab ihwal Hewan Liar, Kitab ihwal Kuda, kitab ihwal Domba, dan Ābu Ḥanīfah Āḥmad ibn Dawūd Dīnawarī (828-896), sang pendiri ilmu tumbuh-tumbuhan (botani), yang menulis Kitâb al-nabât dan mendeskripsikan sedikitnya 637 tumbuhan semenjak dari “lahir” hingga matinya.  Dia juga mengkaji aplikasi astronomi dan meteorologi untuk pertanian, menyerupai soal posisi matahari, angin, hujan, petir, sungai, mata air.  Dia juga mengkaji geografi dalam konteks pertanian, menyerupai ihwal batuan, pasir dan tipe-tipe tanah yang lebih cocok untuk tumbuhan tertentu.
Pada masa 9/10 M, Abu Bakr Ahmed ibn ‘Ali ibn Qays al-Wahsyiyah (sekitar tahun 904 M) menulis Kitab al-falaha al-nabatiya. Kitab ini mengandung 8 juz yang kelak merevolusi pertanian di dunia, antara lain ihwal teknik mencari sumber air, menggalinya,  menaikkannya ke atas hingga meningkatkan kualitasnya.  Di Barat teknik ibn al-Wahsyiyah ini disebut “Nabatean Agriculture”.
Para insinyur Muslim merintis banyak sekali teknologi terkait dengan air, baik untuk menaikkannya ke sistem irigasi, atau menggunakannya untuk menjalankan mesin giling.  Dengan mesin ini, setiap penggilingan di Baghdad masa 10 sudah bisa menghasilkan 10 ton gandum setiap hari.   Pada 1206 al-Jazari menemukan banyak sekali variasi mesin air yang bekerja otomatis.  Berbagai elemen mesin buatannya ini tetap faktual hingga sekarang, saat mesin digerakkan dengan uap atau listrik.
Di Andalusia, pada abad-12, Ibn Al-‘Awwam al Ishbili menulis Kitab al-Filaha yang merupakan sintesa semua ilmu pertanian hingga zamannya, termasuk 585 kultur mikrobiologi, 55 di antaranya ihwal pohon buah.  Buku ini sangat kuat di Eropa hingga abad-19.
Pada awal masa 13, Abu al-Abbas al-Nabati dari Andalusia mengembangkan metode ilmiah untuk botani, mengantar metode eksperimental dalam menguji, mendeskripsikan, dan mengidentifikasi banyak sekali materi hidup dan memisahkan laporan observasi yang tidak bisa diverifikasi.
Muridnya Ibnu al-Baitar (wafat 1248) mempublikasikan Kitab al-Jami fi al-Adwiya al-Mufrada, yang merupakan kompilasi botani terbesar selama berabad-abad.  Kitab itu memuat sedikitnya 1400 tumbuhan yang berbeda, makanan, dan obat, yang 300 di antaranya penemuannya sendiri.  Ibnu al-Baitar juga meneliti anatomi binatang dan merupakan bapak ilmu kedokteran hewan, sampai-sampai istilah Arab untuk ilmu ini memakai namanya.
Ini yaitu fakta-fakta yang terkait langsung dengan ilmu pertanian dalam arti sempit.  Namun revolusi pertanian yang sesungguhnya terjadi dengan banyak sekali inovasi lain yang tergolong teknologi canggih.  Alat-alat untuk memprediksi cuaca, peralatan untuk mempersiapkan lahan, teknologi irigasi, pemumpukan, pengendalian hama, teknologi pengolahan pasca panen, hingga administrasi perusahaan pertanian, semua tergolong canggih pada masanya.  Kombinasi sinergik dari semua teknologi ini selalu menghasilkan akselerasi dan pada moment tertentu cukup besar untuk disebut “revolusi pertanian Muslim”.
Revolusi ini menaikkan panenan hingga 100 persen pada tanah yang sama.  Kaum Muslim mengembangkan pendekatan ilmiah yang berbasis tiga unsur: sistem rotasi tanaman, irigasi yang canggih, dan kajian jenis-jenis tumbuhan yang cocok dengan tipe tanah, musim, serta jumlah air yang tersedia.  Ini yaitu cikal bakal “precission agriculture”, suatu teknologi yang hingga abad-21 tetap terkesan “canggih”, alasannya memang tidak semua orang mengerti.  Orang merasa lebih gampang menawarkan pupuk buatan dan pestisida, alasannya kesannya “jelas”, meski dalam jangka panjang justru merugikan petani.
Revolusi ini ditunjang juga dengan banyak sekali aturan pertanahan Islam, sehingga orang yang memproduktifkan tanah mendapat insentif.  Tanah tidak lagi dimonopoli kaum feodal dan tak ada lagi petani yang merasa dizalimi sehingga malas-malasan mengolah tanah.  Negara juga mengembangkan gosip teknologi pertanian hingga ke para petani di pelosok-pelosok.  Ternyata di samping teknologi sempurna guna dibutuhkan juga “hukum sempurna guna” dan “negara sempurna guna”.

Karena itu bergotong-royong tidak perlu ada dikotomi teknologi sempurna guna dan teknologi canggih.  Dilihat dari perspektif abad-21, semua teknologi di zaman keemasan Islam dari abad-10 M hingga abad-19 M terlihat cukup sederhana dan “tepat guna”, walaupun ada juga yang sudah kadaluwarsa. Namun ternyata tetap ada sejumlah teknologi yang terasa “canggih’, bahkan hingga hari ini.  Kuncinya yaitu kaidah fiqih: “Apa saja yang mutlak dibutuhkan untuk memenuhi suatu kewajiban, maka hukumnya wajib pula untuk diadakan.”.  Makara para ilmuwan Islam tempo dulu tidak terlalu ambil pusing dengan dikotomi canggih atau sempurna guna, tetapi apa yang dipandang paling banyak memberi manfaat bagi umat.  Kalau itu memang perlu SDM yang mumpuni, itu sudah menjadi tanggung jawab mereka di “negeri yang juga sempurna guna”.

Saturday, December 9, 2017

Mengingat Kembali Al Aqsa Sebagai Kiblat Pertama Umat Muslim


Masjid al-Aqsha (Masjidil Aqsha) ialah kiblat pertama umat Islam dan merupakan salah satu daerah Rasulullah SAW dalam perjalanan Isra. Dalam as-Sirah, saat menjelaskan bencana Isra Mi’raj, Ibnu Ishaq menuturkan, “Rasulullah SAW kemudian diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yaitu Baitul Maqdis di Ilya.”
“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya supaya Kami perlihatkan kepadanya sebagian gejala (kebesaran) Kami… (QS. al-Isra: 1)
Dikutip dari Ensiklopedia Sirah Nabi Muhammad SAW, bahwa disebut aqsha (terjauh) lantaran jauhnya jarak antara Masjidil Aqsha dengan Masjidil Haram. Bagi umat Islam, Masjidil Aqsha ialah masjid yang dimulaikan untuk diziarahi. Allah SWT menyebut Masjidil Aqsha sebagai daerah yang sekelilingnya diberkahi. Berkah tersebut meliputi keberkahan dalam bidang agama dan bidang dunia.
Keberkahan di bidang agama lantaran merupakan daerah turunnya para nabi, sedangkan keberkahan dunia lantaran dikelilingi oleh kebaikan-kebaikan duniawi, yaitu terdapatnya sungai-sungai, pohon-pohon, dan buah-buahan yang semua itu menjadi alasannya terpenuhnya kehidupan dan materi makanan.
Masjidil Aqsha ialah masjid kedua yang dibangun di atas bumi sebagaimana hadits Abu Dzar yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan muslim. Dia berkata, “Aku bertanya, ‘Waha Rasulullah! Masjid manakah yang pertama dibangun di mukan bumi?’ Beliau menjawab, ‘Masjidil Haram.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian masjid mana?’ Beliau menjawab, ‘Masjidil Aqsha.’ Aku bertanya lagi, ‘Berapa jarak (pembangunan) antara keduanya?” Beliau menjawab, ‘Empat puluh tahun.’”
Terdapat perbedaan pendapat mengenai siapakah yang pertama membangunnya. Pendapat pertama menyatakan bahwa yang pertama ialah salah seorang putra Nabi Adam AS. Pendapat kedua menyatakan bahwa yang pertama membangunnya ialah para malaikat kemudian sebagian besar para nabi merawatnya.
Disebutkan bahwa Nabi Ibrahim AS memperkokoh bangunannya. Demikian pula yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub AS dan dan yang dilakukan Nabi Dawud AS serta putranya, Nabi Sulaiman AS. saat Umat Islam menaklukan Al-Quds pada tahun 15 Hijriah, Khalifah Umar ibnu al-Khaththab memasuki pelataran Masjidil Aqsha dan mengatakan, “Demi Allah! Inilah masjid Dawud AS, Rasulullah SAW telah mengabarkan kepada kami bahwa di sinilah dia di-isra’-kan.” Umar ra kemudian memerintahkkan supaya Masjidil Aqsha dipugar.
Semenjak ditaklukkan oleh umat Islam, masjid tersebut menjadi perhatian para khalifah. Adapun yang paling terkenal melaksanakan pemugaran ialah al-Walid bin Abdil Malik yang berasal dari Daulah bani Umayah pada tahun 72 Hijriah.
Pada tahun 1099 Masehi, Pasukan Salib menyerbu kota al-Quds, mengepung, mendudukinya, serta membantai laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Panglima Salib Raymonf memasuki pelataran Masjidil Aqsha di antara mayat-mayat yang awut-awutan dan darah yang mengalir. Al Quds jatuh di bawah pendudukan Tentara Salib selama 91 tahun.
Kegelapan al-Aqsha tidak berlangsung usang alasannya atas izin Allah, pada tahun 1887 Masehi, Shalahuddin al-Ayyubi berangkat menuju al-Quds dan berhasil merebutnya kembali. Setelah itu, para khalifah Daulah bani Ayyubiyah menawarkan perhatian terhadap Masjidil Aqsha.
Masjidil Aqsha (disebut juga dengan Baitul Maqdis dan al-Quda) sangat terkenal di Palestina dan dunia. Saat wilayah tersebut di bawah cenkeraman Yahudi-Israel. Masjidil Aqsha ialah satu dari tiga masjid yang menjadi tujuan perjalanan reliqi lantaran disunnahkan mendatangi dan berziarah ke sana.
Kota daerah Masjidil Aqsha berdiri disebut kota al-Quds, kaum Yahudi menyebutnya Yerusalem atau Orshalim. Sebuah nama berbahasa Kan’an Arab yang mereka ubah menjadi Orsalim. Sama halnya mereka mengubah Birsyabi dari yang semula Bi’r as-Sab’.
Masjidil Aqsha merintih dan meminta belas kasih dunia, sejak Yahudi-Israel merampas dan menjajah al-Quds pada tahun 1967 Masehi.
sumber: republika.co.id

Wednesday, November 8, 2017

Toilet Di Periode Kejayaan Khilafah / Islam, Ibarat Apa?


Travelblog.viator.com
Kebersihan yaitu salah satu bab inti pedoman Islam Toilet di Masa Kejayaan Khilafah / Islam, Seperti Apa?
Kebersihan yaitu salah satu bab inti pedoman Islam. Bahkan, dianggap sebagai bab dari dogma seseorang. Sayangnya, sangat sedikit literatur Barat yang mengupas hal ini, terutama ketika menulis ulang wacana sejarah sanitasi.

Padahal semenjak kurun ke-10, jauh sebelum Barat mengenal toilet menyerupai yang kita kenal sekarang, apa yang ditemukan dalam kamar mandi dan praktik kebersihan di hampir semua wilayah kekuasaan kaum Muslim dapat bersaing dengan apa yang dikembangkan ketika ini. Pada kurun ke-13, ilmuwan Muslim al-Jazari, menulis sebuah buku yang menjelaskan perangkat mekanis, termasuk alat untuk berwudhu. Alat ini bersifat mobile, dan bahkan biasa dilakukan untuk melayani para tetamu.

Air memang menjadi pembersih utama dalam tradisi Islam. Air mensucikan. Toilet-toilet pada masa kejayaan Islam di Abad Pertengahan yaitu model toilet 'basah' menyerupai yang kita kenal ketika ini.

Sabun, bab yang tak terpisahkan dari sanitasi, juga ditemukan pada masa keja yaan Islam. Masyarakat di bawah kekua saan Usmaniyah biasa menciptakan sabun sen diri, dengan mencampur minyak (biasanya minyak zaitun) dengan al-qali, yaitu sejenis garam. Keduanya direbus untuk mencapai adonan yang tepat, dibiarkan mengeras, dan jadilah sabun batangan. Sabun ini dipakai di hammam, rumah pemandian umum.

Al-Kindi juga menulis sebuah buku wacana parfum yang disebut Book of the Chemistry of Perfume and Distillations. Dia dikenal sebagai filsuf, tapi juga seorang apoteker, opthalmologist, fisikawan, mate matikawan, andal geografi, astronom, dan andal kimia.
Bukunya berisi lebih dari seratus re sep untuk minyak, salep, dan air aroma tik. Tradisi pembuatan parfum lalu tersebar ke banyak sekali penjuru dunia; dengan menyuling flora dan bunga dan mem buat parfum dan zat untuk keperluan farmasi.
Dinasti Usmaniyah didirikan pada 1299 di Anatolia barat laut, dan bertahan hingga tahun 1923. Pada puncak kejayaannya tahun 1683, Dinasti Usmaniyah menguasai hampir seluruh pantai Afrika di Laut Tengah, kedua tepi Laut Merah, Eropa tenggara termasuk Balkan dan sebagian besar Bulgaria dan Rumania ketika ini, Turki, dan Irak ketika ini.

Di daerah-daerah yang dikuasai, tradisi Islam turut disebarkan, termasuk pentingnya menjaga kebersihan. Sejarah mencatat, ketika mereka menguasai Konstan tino pel, salah satu yang dibenahi yaitu urusan buang hajat ini. Mereka membangun 1.400 toilet umum, ketika tak satupun WC ditemukan di seantero Eropa. 

Friday, October 7, 2016

Khalifah Al Walid Dan Menara Masjid

Hampir tiada masjid tanpa menara. Terasa kurang rasanya, masjid tanpa menara. Namun tahukah Anda, bahwa menara bukanlah unsur arsitektur orisinil bangunan masjid. Masjid Quba sebagai masjid pertama dalam sejarah umat Islam pun pada awalnya dibangun oleh Rasulullah SAW tanpa menara.
Bahkan sampai masa empat Khalifah ar Rasyidin pun masjid-masjid dibangun tanpa menara. Para khalifah hanya menciptakan ruang kecil di atas puncak teras masjid untuk daerah muadzin mengumandangkan adzan.
Menurut sejarah, Khalifah Al Walid-lah (705-715) khalifah yang pertama kali memasukkan unsur menara ke dalam arsitektur masjid. Khalifah Bani Ummayyah inilah yang menciptakan tradisi menara dalam setiap bangunan masjid. Hingga sekarang menara menjadi unsur khas dalam arsitektur masjid di mana pun.
Tradisi membangun menara masjid ini, diawali oleh Khalifah al Walid dikala ia memugar bekas Basilika Santo Jhon (Yahya) menjadi sebuah masjid besar di Damaskus yang sekarang dikenal dengan nama Masjid Umayyah. Saat bekas Basilika dipugar, bangunan itu mempunyai dua buah menara sebagai penunjuk waktu; satu berupa lonceng untuk penunjuk waktu di siang hari dan satu lainnya berupa kerlipan lampu yang dipakai untuk memperlihatkan waktu pada malam hari.
Menara tolong-menolong merupakan ciri khas bangunan Byzantium. Saat memugar Basilika, Al Walid rupanya tertarik untuk membiarkan dan tidak merusaknya. Ia mempertahankan kedua menara itu. Bahkan ia membangun satu menara lagi di sisi utara pelataran masjid (tepat di gerbang al Firdaus). Selanjutnya menara ini disebut menara utara Masjid Damaskus. Dalam proses pemugaran Basilika ini, al Walid kemudian memerintahkan para arsitekturnya untuk membangun sebuah menara sebagai daerah bagi muadzin dikala mengumandangkan adzan.
Menara Masjid Nabawi pun merupakan buah pikiran dari Al Walid. Sebelumnya masjid yang terletak di Madinah ini tidak mempunyai satu pun menara. Menara masjid ini dibangun setahun setelah  masjid Damaskus di Suriah. Hingga 250 tahun kemudian menara kedua masjid ini; Damaskus dan Nabawi tetap menjadi model yang terkenal sampai menjadi tipikal menara Masjid Al Azhar yang dibangun oleh Dinasti Fathimiyyah di Kairo.
Selain berfungsi sebagai daerah muadzin mengumandangkan adzan, menara-menara masjid juga difungsikan sebagai mercusuar atau menara pengintai. Hal ini terutama terdapat pada menara-menara masjid yang berada di kota pelabuhan atau tepi sungai.
Al Walid sendiri yaitu Al Walid bin Abdul Malik bergelar al Walid I. Lahir pada tahun 668 M dan meninggal di Damaskus Suriah pada 23 Februari 715 M pada usia 46/47 tahun. Dia yaitu khalifah Bani Umayyah yang memerintah antara 705-715 M. Ia melanjutkan penaklukan Khilafah Islam yang dicetuskan ayahnya, dan merupakan penguasa yang efektif. Ia seorang pecinta arsitektur, sukses secara besar-besaran menyebarkan militer, membangun angkatan maritim yang kuat. Sosok langsung yang shaleh, yang terus menerus mengutip Quran dan sering menawarkan jamuan besar-besaran selama bulan Ramadhan.

Sunday, October 2, 2016

Mencari Arsitektur Syariah

Oleh : Dr. Fahmi Amhar
Apakah bedanya antara “arsitektur Islam” dan “arsitektur syariah”?  Adakah sebetulnya istilah “arsitektur syariah”?
Arsitektur Islam jauh lebih gampang dipahami, alasannya yaitu sering disamakan dengan bentuk dan ornamen Timur Tengah, penggunaan bentuk kubah, kaligrafi dan penanaman pohon palem di tamannya.  Sementara aristektur syariah agak lebih abstrak.
Tetapi sebetulnya orang sudah sering mengeluhkan ketika di suatu ruang publik menyerupai hotel, mal, terminal atau stadion, mushalanya amat sempit, pengab, atau di lokasi yang paling sulit dijangkau.  Sering juga mushola itu sebetulnya tidak dari awal didesain sebagai mushala, tetapi hanya diimprovisasi alasannya yaitu ada kebutuhan.  Ini yaitu indikasi bahwa diharapkan yaitu suatu arsitektur yang mendukung penerapan syariah, meskipun gres sebatas kewajiban fardhiyah (ibadah, menjaga aurat).
Tetapi minat (ghirah) yang meningkat pada Islam, baik dari sisi bentuk (arsitektur Islam ala Timur Tengah) maupun substansi (arsitektur ramah syariah) ini harus diapresiasi dan dipupuk.  Persoalannya memang banyak bangunan modern yang tidak dibangun oleh arsitek Muslim atau arsitek yang sadar syariah.  Lebih parah lagi kalau pemilik gedung juga tidak mempunyai kesadaran syariah, sehingga ketika membuat spesifikasi gedung yang akan dibangun, ia melupakan detil yang terkait syariah.
Saat ini, teknologi arsitektur modern memang sudah tidak lagi berada di tangan umat Islam.  Padahal kalau berkaca pada sejarah, akan kita temukan bahwa penemuan arsitektur terbesar justru dilakukan para arsitek Muslim.  Yang paling populer tentu saja Sinan!
Koca Mimar Sinan Ağa (15 April 1489 - 17 July 1588) yaitu arsitek ketua dan insinyur untuk Sultan Sulaiman I, Salim II dan Murad III.  Selama periode 50 tahun, ia bertanggung jawab pada konstruksi dan supervisi 476 bangunan.  Puncak hasil karyanya yaitu Masjid Selimiye di Edirne, meski karyanya yang paling top yaitu Masjid Sulaiman di Istanbul.  Ada sejumlah departemen di bawah perintahnya, dan ia melatih banyak asisten, termasuk Sedefhar Mehmet Ağa, arsitek sebetulnya Masjid Sultan Ahmet. Sinan dianggap arsitek terbesar dari periode klasik arsitektur, setara dengan Michelangelo di Eropa.
Sinan terlahir dengan nama Joseph sebagai anak Armenia pada 1489 di Anatolia.  Hanya sedikit masa kecilnya yang diketahui.  Suatu dokumen menyebut bahwa dirinya yaitu anak dari "Abdülmenan" (istilah untuk ayah Kristen tak dikenal yang anaknya menjadi Muslim).  Pada 1512 ia direkrut pada korps Janissari, yaitu pasukan khusus Utsmaniyah, sehabis masuk Islam.  Karena usianya sudah 23 tahun, ia tidak diizinkan masuk akademi kesultanan di istana Topkapi, tapi dikirim ke sebuah kursus ketrampilan.  Semula ia berguru menukang kayu dan matematika, tapi kecerdasannya membuatnya segera menjadi tangan kanan arsitek dan dilatih sebagai arsitek.  Tiga tahun lalu ia menjadi arsitek jago dan insinyur.  Dia juga beberapa kali terjun ke medan jihad sebagai anggota Janissari.  Sebagai arsitek ia mempelajari titik-titik kelemahan suatu struktur bangunan bila ditembak.  Dia menerima kewenangan untuk merobohkan bangunan-bangunan di tiap kota yang ditaklukkan yang tidak sesuai perencanaan kota.  Dia juga membantu membangun benteng dan jembatan-jembatan, antara lain di atas Sungai Donau.  Dia banyak mengonversi gereja menjadi masjid di kota-kota Eropa yang ikut ditaklukannya.
Pengalamannya sebagai insinyur militer memperlihatkan Sinan pengalaman mudah daripada sekadar teori.  Pada awal karirnya, arsitektur Utsmaniyah sangat pragmatis.  Bangunan hanya pengulangan dari bentuk yang telah ada sebelumnya.  Mereka hanya menggabung elemen-elemen yang ada dan tidak mempunyai konsep utuh. Tak ada wangsit baru.  Lebih dari itu arsitek sering agak boros dalam memakai material dan tenaga.  Sinan mengubah secara perlahan ini semua.  Dia mentransformasi praktek arsitektur yang telah mapan, memperkuatnya, dan menambahnya dengan penemuan demi kesempurnaan.
Dia mulai bereksperimen dengan desain dan rekayasa struktur kubah tunggal dan kubah banyak.  Lalu mencoba suatu struktur geometri yang benar-benar baru, yang rasional dan menyatu secara spasial. Dia memvariasi kubahnya, mengelilingnya dengan banyak sekali variasi semi-kubah, pilar serta galeri yang beraneka.  Kubahnya berkurva, tapi ia menghindari elemen-elemen kurva pada sisa desainnya, mengubah bulat kubah menjadi segiempat, segienam atau segidelapan.  Dia mencoba harmoni banyak sekali geometri.  Kejeniusannya terletak pada penataan ruang dan pemecahan ketegangan desainnya.  Dia menggabungkan masjidnya dalam suatu cara yang efisien dalam suatu komplek yang melayani masyarakat sebagai sentra intelektual, komunitas dan kebutuhan sosial serta kesehatan.
Pada 1550 Sultan Sulaiman al Qanuni sedang di puncak kekuasaannya. Maka ia menugaskan ke arsitek khilafah Sinan, untuk membangun masjid khilafah, sebuah monumen infinit yang lebih besar dari lainnya, dan mendominasi daerah Tanduk Emas (Istanbul).  Masjid itu akan dikelilingi empat sekolah tinggi, dapur umum, rumah sakit, rumah singgah, pemandian, dan rest area untuk para musafir.  Sinan yang telah memimpin suatu departemen menuntaskan kiprah ini dalam tujuh tahun.
Menjelang selesai hayatnya, Sinan masih bereksperimen dengan membuat interior-interior yang elegan.  Dia menghilangkan beberapa ruang yang dianggap tak perlu di atas tiang-tiang di bawah kubah utama.  Ini sanggup dilihat di Masjid Selimiye di Edirne.  Pada dikala membangunnya, ia tertantang oleh celoteh arsitek lain, bahwa “kamu tak akan sanggup membangun kubah lebih besar dari Aya Sofia, apalagi sebagai Muslim”.  Ketika kubah Masjid Selimiye selesai, Sinan memperlihatkan bahwa kubahnya yaitu yang terbesar di dunia, meninggalkan Aya Sofia yang telah berusia hampir seribu tahun.  Sinan telah berusia 80 tahun ketika bangunan itu selesai.
Di “luar negeri” ia membangun masjid di Damaskus yang sampai kini tetap menjadi salah satu monumen terpenting kota, juga masjid Banya Basyi di Sofia, Bulgaria, yang dikala ini merupakan satu-satunya masjid yang masih berfungsi.  Dia juga membangun jembatan Mehmed Paša Sokolović di atas Sungai  Višegrad di Bosnia Herzegovina yang kini masuk daftar Warisan Dunia UNESCO.
Saat wafat pada usia hampir 100 tahun, Sinan telah membangun 94 masjid besar, 52 masjid kecil, 57 sekolah tinggi, 48 pemandian umum (hamam), 35 istana, 20 rest area (caravanserai), 17 dapur umum (imaret), 8 jembatan besar, 8 gudang logistik (granisaries), 7 sekolah Qur’an, 6 jalan masuk air (aquaduct), dan 3 rumahsakit.
Nama Sinan diabadikan sebagai nama universitas negeri di Turki Mimar Sinan University of Fine Arts in Istanbul, dan nama kawah di planet Merkurius.
Sayang, setelahnya wafatnya, tak ada lagi muridnya yang seberbakat dan seberani Sinan dalam “ijtihad arsitektur”.  Dunia Islam tidak lagi menelurkan ide-ide gres arsitektur.  Setelah jihad redup, arsitektur Islam kembali ke kubangan teori.  Apalagi sehabis negara khilafah tidak tegak lagi.  Tak ada lagi “vitamin” yang mendorong semoga muncul arsitek-arsitek yang inovatif dalam membantu melayani masyarakat untuk mewujudkan tujuan-tujuan syariah dalam kehidupan.
Sumber : http://www.mediaumat.com/

Saturday, August 27, 2016

3 Masjid Agung Di Eropa

Benua Eropa menyimpan kisah dan sejarah panjang wacana Islam. Ratusan tahun kemudian kekhalifahan Islam menguasai Benua Biru dan menancapkan pengaruhnya yang sangat kuat. Kemajuan di bebagai bidang pun dicapai umat Islam kala itu.
Kini, sehabis ratusan tahun berlalu, Islam kembali menancapkan pengaruhnya di Eropa. Perkembangan Islam di benua ini mengatakan gejala yang sangat positif. Kegairahan masyarakat untuk memeluk Islam menjadi penanda aktual bangkitnya Islam di Eropa.
Sejumlah  masjid agung dibangun. Arsitektur dan bangunannya megah. Selain untuk ibadah, masjid ini juga dipakai untuk aneka macam keperluan lain. Lokasi pembangunannya pun berada di tempat yang strategis. Tentu, kita menjadi gembira menyaksikan berdirinya masjid-masjid yang megah di Eropa. 

Masjid Agung Roma
Masjid agung ini didesain arsitek Italia Paulo Porthogesi, berdekatan dengan Kota Vatikan dan Sinagog Yahudi. Artinya, tak ada problem jikalau tiga tempat peribadatan itu saling berdekatan. Pencetusnya yaitu Raja Faizal bin Abdul Aziz pada 1974.
Dari lembah Tiber, masjid itu tampak menjulang tinggi menyaingi Montenne, sebuah bukit yang sangat subur di utara Kota Roma. Bagi penduduk Roma yang mayoritasnya penganut Nasrani Roma, mereka juga gembira dengan adanya sebuah bangunan yang didominasi warna kuning muda itu.
Bangunan sentra acara umat Islam tersebut mempunyai keistimewaan di banding dengan aneka macam bangunan megah lainnya yang ada di kota itu. Di antaranya, 16 kubah ditambah sebuah kubah besar di tengah yang atasnya dihiasi dengan bulan sabit serta sebuah menara berbentuk pohon palem setinggi 40 meter. N 

Mesjid Schwetzingen, Jerman
Bangunan masjid pertama di Jerman ini cukup unik alasannya yaitu lokasinya yang berada di dalam kompleks Istana Schwetzingen. Masjid Schwetzingen dibangun untuk menghormati toleransi.

Dirancang dan dibangun pada 1779 arsitek berkebangsaan Perancis Nicolas de Pigage (1723-1796). Proses pembangunan Kompleks Masjid Schwetzingen sendiri memakan waktu lima belas tahun lamanya (1779-1796).
Masjid Schwetzingen merupakan bangunan terbesar pertama yang mengedepankan gaya arsitektur oriental. Pigage menggabungkan elemen-elemen dari arsitektur Islam Moor dengan eksotisme dari kisah-kisah dongeng 1.001 Malam.
Oleh sang arsitek, Masjid Schwetzingen juga dirancang dan dibangun dengan memakai konsep taman. Karenanya, masjid ini menjadi masjid taman pertama yang dibangun pada periode ke-18 dan sampai sekarang masih berdiri megah di daerah Eropa. Taman yang berada di sekeliling bangunan masjid mengadopsi konsep taman-taman di Turki.

Masjid Central London
Masjid Sentral London atau The London Central Mosque and Islamic Cultural Centre (ICC) atau biasa disebut sebagai Masjid Regent's Park dibangun pada 1978. Ciri khasnya yaitu kubah keemasan. Masjid yang sangat populer di Inggris Raya ini dibangun sebagai bentuk penghargaan kepada kaum Muslimin di Inggris raya yang turut berjuang membela Inggris dan sekutu selama Perang Dunia II.
Seluruh permukaan lantai masjid ini ditutup dengan karpet dan candilier yang elok bergantung di atas ruang utama. Sedangkan, di bab dalam kubahnya dihiasi dengan dekorasi tradisi Islam.


Arsitektur Islam Percantik Eropa  

Peradaban Islam menawarkan banyak bantuan dalam peradaban dunia. Di Eropa, bantuan tersebut terlihat sangat konkret dan meliputi banyak sekali bidang. Tak terkecuali di ranah arsitektur. 
Mari kita tengok salah satu negara Eropa, yakni Italia. Di negeri ini, banyak bangunan yang tampil dengan sentuhan arsitektur Islam, khususnya gaya Turki Utsmani. Hal ini tak lepas dari kekuasaan Kesultanan Turki Utsmani yang di masa keemasannya menjangkau wilayah Eropa.  
Adalah Mimar Sinan (1490-1588), seniman sekaligus arsitek Turki Utsmani yang memberi banyak sentuhan pada bangunan-bangunan di Italia. Arsitek kenamaan di era ke-16 itu yakni kepala arsitek Sultan Suleiman I, Selim II, dan Murad III. Pada masa Utsmani, ia bertanggung jawab atas pembangunan lebih dari 300 bangunan utama di Istanbul. 
Tak hanya di Istanbul, karya-karya arsitekturnya juga sanggup disaksikan di Italia dan beberapa negara Eropa lainnya. Karya-karya indah Sinan juga menginspirasi banyak arsitek Eropa. 
Jonathan Glancey, redaktur desain dan arsitektur pada surat kabar Inggris, the Guardian, mengatakan, perkembangan arsitektur pada masa Utsmani sangat menyedot perhatian dunia. Ia mengaku sangat mengagumi karya-karya arsitektur Kesultanan Turki Utsmani di Istanbul. 
''Semua itu masih sanggup dinikmati oleh masyarakat dunia, bahkan tak terhitung jumlah pastinya,'' katanya. 
Melihat bangunan-bangunan di Istanbul, berdasarkan dia, mengingatkannya pada karya-karya Sinan. Ia juga mengatakan, gaya arsitektur yang dikembangkan Sinan memengaruhi arsitek-arsitek Eropa, menyerupai Michelangelo dan Andrea Palladio. Mereka yakni arsitek paling besar lengan berkuasa di Italia dan jejak Sinan tampak terang pada karya-karya mereka.
Salah satunya terlihat pada Gereja San Giorgio Maggiore di Venesia, Italia. Bangunan ini didesain oleh arsitek dari masa Renaisans Italia, Andrea Palladio (1508-1580). Meski demikian, gereja yang mulai dibangun pada 1566 tersebut sarat dengan imbas gaya arsitektur Mimar Sinan. 
Tak hanya di Italia, sentuhan arsitektur Sinan juga terekam pada banyak bangunan dan masjid di Sarajevo, Bosnia-Herzegovina. Bahkan, di Yunani pun, tepatnya di Kota Trikala, ada Masjid Osman Shah yang secara pribadi menerima sentuhan dari arsitek pujian bangsa Turki itu. Sementara di tanah airnya, karya indah Sinan sanggup dinikmati, antara lain, pada Masjid Suleymaniye dan Masjid Selimiye.

Thursday, August 25, 2016

The Well Of Usman


DULU, di Madinah, tidak terlalu jauh dari masjid Nabawi, ada sebuah properti sebidang tanah dengan sumur yang tidak pernah kering sepanjang tahun. Sumur itu dikenal dengan nama :Sumur Ruma (The Well of Ruma) alasannya ialah dimiliki seorang Yahudi berjulukan Ruma.

Sang Yahudi menjual air kepada penduduk Madinah, dan setiap hari orang antri untuk membeli airnya. Di waktu waktu tertentu sang Yahudi menaikkan seenaknya harga airnya, dan rakyat Medinahpun terpaksa harus tetap membelinya. alasannya ialah hanya sumur inilah yang tidak pernah kering.

Melihat kenyataan ini, Rasulullah berkata, "kalau ada yang sanggup membeli sumur ini, balasannya ialah Surga". Seorang sobat nabi berjulukan Usman bin Affan mendekati sang Yahudi. Usman menunjukkan untuk membeli sumurnya. Tentu saja Ruma sang Yahudi menolak. Ini ialah bisnisnya, dan beliau menerima banyak uang dari bisnisnya.

Tetapi Usman bukan hanya pebisnis sukses yang kaya raya, tetapi beliau juga negosiator ulung. Ia bilang kepada Ruma, "aku akan membeli setengah dari sumur mu dengan harga yang pantas, jadi kita bergantian menjual air, hari ini kamu, besok saya" Melalui perundingan yang sangat ketat, karenanya sang Yahudi mau menjual sumurnya senilai 1 juta Dirham dan mengatakan hak pemasaran 50% kepada Usman bin Affan.

Apa yang terjadi setelahnya menciptakan sang Yahudi merasa keki. Ternyata Usman menggratiskan air tersebut kepada semua penduduk Madinah. Pendudukpun mengambil air sepuas puasnya sehingga hari kesokannya mereka tidak perlu lagi membeli air dari Ruma sang Yahudi. Merasa kalah, sang Yahudi karenanya menyerah, beliau meminta sang Usman untuk membeli semua kepemilikan sumur dan tanahnya. Tentu saja Usman harus membayar lagi seharga yang telah disepakati sebelumnya.

Hari ini, sumur tersebut dikenal dengan nama Sumur Usman, atau The Well of Usman. Tanah luas sekitar sumur tersebut menjadi sebuah kebun kurma yang diberi air dari sumur Usman. Kebun kurma tersebut dikelola oleh tubuh wakaf pemerintah Saudi hingga hari ini. Kurmanya dieksport ke aneka macam negara di dunia, hasilnya diberikan untuk yatim piatu, dan pendidikan. Sebagian dikembangkan menjadi hotel dan proyek proyek lainnya, sebagian lagi dimasukkan kembali kepada sebuah rekening tertua di dunia atas nama Usman bin Affan. Hasil kelolaan kebun kurma dan grupnya yang di ketika ini menghasilkan 50 juta Riyal pertahun (atau setara 200 Milyar pertahun)

Sang Yahudi tidak akan penah menang. Kenapa?

Karena visinya terlalu dangkal. Ia hanya hidup untuk masa kini, masa beliau ada di dunia. Sedangkan visi dari Usman Bin Affan ialah jauh kedepan. Ia berkorban untuk menolong insan lain yang membutuhkan dan beliau menatap sebuah visi besar yang berjulukan Shadaqatun Jariyah, sedekah berkelanjutan.
Sebuah shadaqah yang tidak pernah berhenti, bahkan pada ketika insan sudah mati.

Masya' Allah

Thursday, August 4, 2016

20 Desain Unik Daerah Sholat Dalam Rumah Bikin 'Adem' Keluarga


Ruang ibadah atau kawasan salat dalam rumah kerap dianggap tidak penting dan diabaikan desainnya. Padahal kalau desainnya diperhatikan biar tecipta suasana ibadah yang menarik, hal itu tentu saja dapat menciptakan rumah itu nyaman dihuni meski tak terlalu mewah, dan menciptakan relasi antar keluarga hening alasannya ialah tercipta langsung yang religius.
Berikut ini kami rangkum 20 desain kawasan salat untuk rumah, yang dapat jadi pandangan gres kamu:
 Membaca usai beribadah memang waktu yang tepat dan dijamin menambah ilmu serta martabat orangnya.


 Tak persoalan kalau kau ingin manfaatkan sisi air wudlu menjadi bak rumah.


 Bukan persoalan tembok atau kayu, tapi mengenai bagaimana kau menata dan merawatnya


 Bangunlah pencahayaan yang tepat biar tercipta suasana yang khusyuk


 Tak cuma kamar yang boleh indah, kawasan salat yang menarik juga meningkatkan minat beribadah kan?


  Pastikan kawasan itu tak terinjak-injak sembarangan, desainlah dengan penghalang di sekitarnya


Meski sederhana, buatlah tetap rapi dan nyaman
Istimewa
 Menggunakan dinding tabrakan kayu memang pilihan yang indah



 Sisakanlah ruang di belakanganya. Barangkali keluarga atau teman-temanmu ingin berjamaah


 Selain lebih indah, menempatkannya lebih tinggi juga dapat membuatnya terhormat

Terpisah dari ruang acara rumah juga niscaya lebih tenang

 Memperindah kawasan ibadah artinya mengajari anak kelak untuk semangat beribadah

 Dengan dekorasi ini kau dapat membuka jendelanya usai beribadah

 Dengan lantai kayu tentu saja tak akan menciptakan tergesa-gesa beranjak usai ibadah

 Gemericik air tentu saja akan menambah ketenangan beribadah

Membuatnya selalu tertutup dapat menjaga kesuciannya

Jika dapat memanfaatkan taman kecil di rumah, usai salat jadi cocok untuk merenung

 Meski hanya untuk kalangan keluarga, tak ada salahnya arsitekturnya seolah-olah masjid

 Memanfaatkan permadani dan satir kayu juga tetap menarik dan murah


Hubungan antar keluarga hening alasannya ialah tercipta langsung yang religius