Showing posts with label Masjid. Show all posts
Showing posts with label Masjid. Show all posts
Monday, August 26, 2019
Kemegahan Masjid Agung Kab. Maros Sulawesi Selatan
Luas Tanah : 8.892 m2 Status Tanah : Wakaf Tahun Berdiri : 1955 Daya Tampung Jamaah : 1.000 Fasilitas : Parkir, Taman, Gudang, Tempat Penitipan Sepatu/Sandal, Perlengkapan Pengurusan Jenazah, Perpustakaan, Kantor Sekretariat, Penyejuk Udara/AC, Sound System dan Multimedia, Pembangkit Listrik/Genset, Kamar Mandi/WC, Tempat Wudhu, Sarana Ibadah Kegiatan : Pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf, Menyelenggarakan aktivitas pendidikan (TPA, Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Menyelenggarakan aktivitas sosial ekonomi (koperasi masjid), Menyelenggarakan Pengajian Rutin, Menyelenggarakan Dakwah Islam/Tabliq Akbar, Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam, Menyelenggarakan Sholat Jumat, Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu Jumlah Pengurus : 74
Tuesday, September 11, 2018
Gambar Autocad Masjid Minimalis
Spesifikasi :
- Panjang : 12 meter
- Lebar : 12 meter
- Konstruksi : Beton
- Tahun : 2014
Bangunan Masjid minimalis dengan luasan 12x12 m, untuk Anggaran biaya menjacapai hampir 1 milyar dikarenakan penggunaan profil dan materi yang elatif mahal. model kubah sendiri berbentuk bawang atau lampion, untuk materi memakai plat steel fnishing enamel.
Jika ingin mengcopy Artikel ini Silahkan Sertakan Link yang terdapat pada halaman ini.
Bagi yang membutuhkan rujukan gambarnya dan kesulitan untuk mendownloadnya sanggup menuliskan alamat Email dikomentar dibagian bawah. Terima Kasih
Saturday, August 18, 2018
Ribuan Orang Protes Pembongkaran Masjid Agung Di Cina
Ribuan Muslim berkumpul untuk memprotes planning pembongkaran Masjid Agung di barat maritim Cina, pada Jumat 10 Agustus.
Dilaporkan Associated Press, 11 Agustus 2018, massa dari etnis Hui, minoritas etnis Muslim, mulai berkumpul di Masjid Agung Al-Haram di kota Weizhou, distrik Ningxia, pada Kamis 9 Agustus.
“Orang-orang sangat kesakitan. Banyak orang menangis. Kami tidak mengerti mengapa ini terjadi,” kata Ma Sengming, laki-laki berusia 72 tahun yang ikut protes semenjak Kamis pagi hingga Jumat sore.
Ma menyampaikan massa berteriak “Lindungi keyakinan di Cina!” dan “Cintailah negara, cintai iman!”
Protes muncul ketika kelompok-kelompok agama yang sebagian besar menerima toleransi di masa lalu, mulai melihat kebebasan mereka menyusut ketika pemerintah berusaha untuk mengucilkan agama-agama dengan menciptakan prioritas kepada Partai Komunis. Celah dan kubah Islam telah dilucuti dari masjid, gereja-gereja Katolik telah ditutup dan Bibel disita, dan belum dewasa Tibet telah dipindahkan dari kuil-kuil Budha ke sekolah-sekolah formal.
Ribuan orang memprotes pembongkaran Masjid Agung Weizhou di Ningxia sesudah gagal mencapai kompromi dengan pemerintah setempat, Jumat 10 Agustus 2018.[South China Morning Post]
Penduduk Weizhou khawatir dengan isu yang menyebut pemerintah berencana untuk menghancurkan masjid meskipun pada awalnya menyetujui pembangunan yang selesai tahun lalu.
Sekretaris Partai Komunis kota bahkan telah menciptakan pidato ucapan selamat di lokasi ketika pembangunan masjid dimulai, kata Ma Zhiguo, salah satu warga Weizhou.
Pihak berwenang berencana untuk menjatuhkan delapan dari sembilan kubah masjid dengan alasan bahwa struktur itu dibangun lebih besar dari yang diizinkan, kata Ma.
“Bagaimana kita sanggup membiarkan mereka meruntuhkan sebuah masjid yang masih dalam kondisi baik?” Kata Ma, yang menambahkan masjid sanggup menampung sekitar 30.000 orang dan dibangun memakai dana pribadi.
Pada bulan Mei, komisi inspeksi disiplin negara menerbitkan pemberitahuan yang menyampaikan bahwa pemerintah Weizhou gagal mengawasi pembangunan Masjid Al-Haram dengan benar. Sebagai akhir dari pengawasan yang lemah, pemberitahuan itu mengatakan, empat masjid di kawasan itu telah mendapatkan total 1,07 juta yuan atau Rp 2 miliar dari sumbangan asing. Tidak disebutkan secara spesifik apakah Masjid Al-Haram salah satu dari empat masjid yang dimaksud.
Dilansir dari South China Morning Post, ketika salat Jumat, dua lantai aula Masjid Agung dipenuhi dengan ribuan jamaah. Banyak yang tiba dari luar kota Weizhou dan beberapa dari luar Ningxia, untuk menunjukkan pertolongan mereka bagi masyarakat setempat.
Setelah ikon-ikon Islam dan gejala Arab disingkirkan dari gedung-gedung sekuler di seluruh wilayah, kampanye pemerintah mulai menyasar tempat ibadah. Kubah dari beberapa masjid yang lebih kecil telah dicopot dalam beberapa bulan terakhir.
Pemerintah kota Weizhou di kawasan Tongxin awalnya menuntut biar masjid, yang selesai tahun lalu, dibongkar pada Jumat, dengan menyampaikan bahwa tidak ada izin perencanaan dan konstruksi.
Namun isu itu menciptakan gempar masyarakat dan pejabat terpaksa mengubah perintah pembongkaran menjadi “rencana rektifikasi”.
Versi pertama dari planning itu menyerukan kubah masjid “Gaya Arab” untuk diganti dengan pagoda gaya tradisional Cina, tetapi dengan cepat ditolak oleh jamaah. Pemerintah kemudian meminta komite administrasi masjid untuk menghapus delapan dari sembilan kubah yang berada di atas masjid, dan hanya mengizinkan satu kubah yang terbesar di tengah. Namun tawaran ini juga ditolak oleh sebagian besar anggota masyarakat.
“Setelah menurunkan kubah, masjid tidak sanggup lagi menjadi ikon Islam. Mengubahnya menjadi gaya tradisional Cina sama tidak senonohnya dengan meletakkan lisan kuda di atas kepala seekor lembu,” kata salah satu warga.
Selama beberapa dekade etnis Hui telah menikmati kebebasan beribadah. Namun tindakan keras pemerintah terhadap Islam di Xinjiang, di mana kelompok etnis Uighur yang lebih banyak didominasi Muslim masuk ke masyarakat Hui, termasuk provinsi Gansu, yang berbatasan dengan Xinjiang dan Ningxia.
Kepala kawasan Tongxin mengunjungi para pengunjuk rasa, yang beberapa di antaranya melaksanakan agresi duduk di dalam masjid, mendesak semua orang untuk pulang.
Dia menyampaikan bahwa perbaikan harus dilakukan, tetapi berjanji bahwa pemerintah akan terus bernegosiasi dengan komite administrasi masjid hingga solusi tercapai.
Di Ningxia dan Gansu, sebagian besar masjid dari Dinasti Qing, Ming dan periode sebelumnya, yang seakan-akan dengan kuil tradisional Tiongkok, hancur selama gerakan sosial politik selama satu dekade yang diprakarsai oleh pemimpin Cina, Mao Zedong.[]
Sumber: tempo.co
Saturday, August 4, 2018
Jepang Bangkit Masjid Bergerak
Masjid bergerak ini dikembangkan selama empat tahun terakhir. Ini intinya yakni modifikasi dari truk kiprah berat 25 ton yang sudah ada, dengan bagasi yang melebar ...
Perusahaan Tokyo memperkenalkan masjid bergerak untuk menyambut Muslim di Jepang
Sebuah truk putih dan biru besar berhenti di luar stadion di Jepang tengah dan perlahan-lahan meluas ke daerah ibadah.
Selamat tiba di Masjid Mobile.
Saat Jepang bersiap untuk menjamu pengunjung dari seluruh dunia untuk Olimpiade Musim Panas 2020, perusahaan olahraga dan program budaya Tokyo telah membuat sebuah masjid di atas roda yang diharapkannya akan membuat para pengunjung Muslim merasa menyerupai di rumah.
Seorang anggota staf mengoperasikan Masjid Mobile selama program pembukaan di Toyota, Jepang bab barat.
Seorang anggota staf mengoperasikan Masjid Mobile selama program pembukaan di Toyota, Jepang bab barat.
Yasuharu Inoue, CEO Proyek Yasu, menyampaikan kemungkinan bahwa mungkin tidak ada cukup masjid bagi pengunjung Muslim di tahun 2020 yang mengkhawatirkan bagi negara yang menganggap dirinya bab dari komunitas internasional. Masjid Mobilnya sanggup melaksanakan perjalanan ke banyak sekali daerah Olimpiade sesuai kebutuhan.
"Sebagai negara yang terbuka dan ramah, kami ingin mengembangkan gagasan` omotenashi '(keramahan Jepang) dengan orang-orang Muslim, "katanya dalam wawancara baru-baru ini.
Mobile Mosque pertama diresmikan awal pekan ini di luar Toyota Stadium, daerah sepak bola J-League di Toyota City, yang juga merupakan markas besar perusahaan kendaraan beroda empat dengan nama yang sama.
Bagian belakang truk 22 ton yang dimodifikasi itu membalik ke atas untuk mengungkapkan sebuah pintu masuk dan kemudian sisi itu meluncur keluar, meniru lebar truk. Kamar seluas 48 meter persegi sanggup menampung 50 orang.
Para tamu Muslim berdoa di dalam masjid, yang termasuk keran luar dan area mencuci untuk pencucian pra-ibadah.
Siswa Indonesia yang menjadi korban tsunami Samudra Hindia 2004 juga berpartisipasi dalam upacara debut.
"Masjid Mobile sangat penting bagi orang-orang Muslim menyerupai orang Jepang atau turis, turis Muslim yang mengunjungi Jepang," kata Nur Azizah, 14 tahun. "Saya ingin menunjukkan kepada teman-teman saya."
Diperkirakan 100.000 sampai 200.000 Muslim tinggal di Jepang.
Tatsuya Sakaguchi, seorang tamu Jepang, menyatakan impian bahwa Masjid Mobile akan membantu membuka pikiran orang-orang di seluruh dunia.
"Melihat dari luar pada orang-orang di masjid, mereka terlihat sangat bahagia," kata Sakaguchi, wakil administrator dari perusahaan ritel Osaka.
Inoue menyampaikan ilham untuk proyek tiba kepadanya dalam perjalanan ke Qatar empat tahun lalu.
Awalnya, penyelenggara proyek berencana untuk menargetkan program olahraga internasional baik di Jepang maupun di luar negeri. Inoue menyampaikan beliau berharap proyek ini akan melaksanakan lebih dari sekadar mengisi celah dalam infrastruktur keagamaan.
"Ke depan, aku akan sangat senang kalau orang-orang dari Indonesia, Malaysia, Afrika, Timur Tengah dan, misalnya, pengungsi yang tiba dari Suriah sanggup memakai masjid sebagai alat untuk mempromosikan perdamaian dunia," katanya. .
- AP
Saturday, December 9, 2017
Mengingat Kembali Al Aqsa Sebagai Kiblat Pertama Umat Muslim
Masjid al-Aqsha (Masjidil Aqsha) ialah kiblat pertama umat Islam dan merupakan salah satu daerah Rasulullah SAW dalam perjalanan Isra. Dalam as-Sirah, saat menjelaskan bencana Isra Mi’raj, Ibnu Ishaq menuturkan, “Rasulullah SAW kemudian diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yaitu Baitul Maqdis di Ilya.”
“Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya supaya Kami perlihatkan kepadanya sebagian gejala (kebesaran) Kami… (QS. al-Isra: 1)
Dikutip dari Ensiklopedia Sirah Nabi Muhammad SAW, bahwa disebut aqsha (terjauh) lantaran jauhnya jarak antara Masjidil Aqsha dengan Masjidil Haram. Bagi umat Islam, Masjidil Aqsha ialah masjid yang dimulaikan untuk diziarahi. Allah SWT menyebut Masjidil Aqsha sebagai daerah yang sekelilingnya diberkahi. Berkah tersebut meliputi keberkahan dalam bidang agama dan bidang dunia.
Keberkahan di bidang agama lantaran merupakan daerah turunnya para nabi, sedangkan keberkahan dunia lantaran dikelilingi oleh kebaikan-kebaikan duniawi, yaitu terdapatnya sungai-sungai, pohon-pohon, dan buah-buahan yang semua itu menjadi alasannya terpenuhnya kehidupan dan materi makanan.
Masjidil Aqsha ialah masjid kedua yang dibangun di atas bumi sebagaimana hadits Abu Dzar yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan muslim. Dia berkata, “Aku bertanya, ‘Waha Rasulullah! Masjid manakah yang pertama dibangun di mukan bumi?’ Beliau menjawab, ‘Masjidil Haram.’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian masjid mana?’ Beliau menjawab, ‘Masjidil Aqsha.’ Aku bertanya lagi, ‘Berapa jarak (pembangunan) antara keduanya?” Beliau menjawab, ‘Empat puluh tahun.’”
Terdapat perbedaan pendapat mengenai siapakah yang pertama membangunnya. Pendapat pertama menyatakan bahwa yang pertama ialah salah seorang putra Nabi Adam AS. Pendapat kedua menyatakan bahwa yang pertama membangunnya ialah para malaikat kemudian sebagian besar para nabi merawatnya.
Disebutkan bahwa Nabi Ibrahim AS memperkokoh bangunannya. Demikian pula yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub AS dan dan yang dilakukan Nabi Dawud AS serta putranya, Nabi Sulaiman AS. saat Umat Islam menaklukan Al-Quds pada tahun 15 Hijriah, Khalifah Umar ibnu al-Khaththab memasuki pelataran Masjidil Aqsha dan mengatakan, “Demi Allah! Inilah masjid Dawud AS, Rasulullah SAW telah mengabarkan kepada kami bahwa di sinilah dia di-isra’-kan.” Umar ra kemudian memerintahkkan supaya Masjidil Aqsha dipugar.
Semenjak ditaklukkan oleh umat Islam, masjid tersebut menjadi perhatian para khalifah. Adapun yang paling terkenal melaksanakan pemugaran ialah al-Walid bin Abdil Malik yang berasal dari Daulah bani Umayah pada tahun 72 Hijriah.
Pada tahun 1099 Masehi, Pasukan Salib menyerbu kota al-Quds, mengepung, mendudukinya, serta membantai laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Panglima Salib Raymonf memasuki pelataran Masjidil Aqsha di antara mayat-mayat yang awut-awutan dan darah yang mengalir. Al Quds jatuh di bawah pendudukan Tentara Salib selama 91 tahun.
Kegelapan al-Aqsha tidak berlangsung usang alasannya atas izin Allah, pada tahun 1887 Masehi, Shalahuddin al-Ayyubi berangkat menuju al-Quds dan berhasil merebutnya kembali. Setelah itu, para khalifah Daulah bani Ayyubiyah menawarkan perhatian terhadap Masjidil Aqsha.
Masjidil Aqsha (disebut juga dengan Baitul Maqdis dan al-Quda) sangat terkenal di Palestina dan dunia. Saat wilayah tersebut di bawah cenkeraman Yahudi-Israel. Masjidil Aqsha ialah satu dari tiga masjid yang menjadi tujuan perjalanan reliqi lantaran disunnahkan mendatangi dan berziarah ke sana.
Kota daerah Masjidil Aqsha berdiri disebut kota al-Quds, kaum Yahudi menyebutnya Yerusalem atau Orshalim. Sebuah nama berbahasa Kan’an Arab yang mereka ubah menjadi Orsalim. Sama halnya mereka mengubah Birsyabi dari yang semula Bi’r as-Sab’.
Masjidil Aqsha merintih dan meminta belas kasih dunia, sejak Yahudi-Israel merampas dan menjajah al-Quds pada tahun 1967 Masehi.
sumber: republika.co.id
Friday, June 24, 2016
Masjid Pertama Khusus Perempuan Dibuka Di California
Masjid pertama khusus khusus untuk perempuan telah dibuka di Amerika. Sekitar 150 perempuan yang berasal dari seluruh negeri tiba supaya tidak ketinggalan dalam pelaksanaan shalat Jumat bersejarah yang dipimpin oleh imam perempuan di sebuah sentra daerah ibadah banyak sekali agama di Los Angeles, negara cuilan California.
Beberapa perempuan yang mengunjungi LA berasal dari New Jersey. Mereka rela melaksanakan penerbangan hingga lebih dari 5 jam untuk menjadi cuilan dari apa yang banyak orang sebut sebagai sebuah terobosan. Di masjid-masjid tradisional, kaum perempuan shalat secara terpisah dari kaum laki-laki. Banyak yang mengeluh mereka terlalu jauh dari khatib. Sebagian perempuan juga merasa tersisihkan lantaran alasan lain, ibarat pengajian al-Quran khusus laki-laki.
Masjid khusus perempuan ini ialah gagasan dari Hasna Maznavi, 29 tahun. Dia mengatakan, ia ingin supaya setiap perempuan mengalami bagaimana rasanya berguru dari otoritas keagamaan perempuan di sebuah masjid. Menurut wakil pendiri Masjid Perempuan Amerika, masjid di LA ini bukanlah untuk kaum Sunni atau Syiah, tetapi merupakan “jalan tengah” politik.
“Kami hanya ingin mempunyai ruang yang kondusif supaya kaum perempuan sanggup tiba dan terinspirasi dan mendengar khatibah perempuan yang menunjukkan khutbah atau ceramah. Itulah kesempatan yang kita tidak dapatkan di masjid lainnya. Para khatib selalu imam laki-laki. Tidak hanya itu, sangat sulit untuk menerima kanal kepada imam lantaran struktur arsitektur masjid. Kadang-kadang kaum laki-laki dan perempuan benar-benar terputus satu sama lain. Masjid ini memberi kita kesempatan untuk berafiliasi dengan para pemimpin kita dan juga dengan satu sama lain dengan cara yang kita tidak akan temui di lingkungan lain,”kata Maznavi kepada Reuters. Dia mendirikan Masjid Perempuan di Amerika bersama dengan Sana Muthalib.
Shalat Jumat dijadwalkan akan berlangsung sebulan sekali. Namun, para pendiri masjid berharap akan diadakan setiap shalat Jumat dalam waktu dekat. (Sumber: Washington Post 31/01/15).
Komentar:
Dari negeri yang penuh konspirasi ini, ada upaya—denganalasan yang sangat sedikit—untuk membenarkan kebutuhan bagi perempuan untuk mempunyai masjid yang terpisah hanya lantaran mereka tidak sanggup melihat khatib dan mempunyai daerah shalat yang terpisah. Hal ini merupakan hal yang menggelikan jikalau memang bukan bertujuan untuk melaksanakan reformasi Islam. Para pendiri masjid dan jamaahnya mungkin bersikeras bahwa tujuannya ialah inklusivitas dan mencari ilmu dari kaum perempuan untuk wanita. Kenyataannya, hal itu menjadi santapan dan benar-benar mendukung narasi Barat wacana bagaimana Islam memperlakukan kaum perempuan sebagai warga negara kelas dua; para perempuan dijauhkan dari kaum laki-laki dan tidak layak menerima pendidikan yang sama.
Kita telah menyaksikan reformasi masjid-masjid yang dijalankan oleh para imam pemerintah dan kaum munaftersebut di seluruh dunia, ibarat di Kanada, Afrika Selatan dan Oxford Inggris. Kami sanggup menjamin di dalam dinding-dinding gedung ini tindakan yang belum pernah dilakukan akan diserukan dengan semua cara reformasi; mulai dari kaum perempuan yang memimpin shalat Jumat, penerimaan atas homoseksualitas, dorongan bagi kaum perempuan untuk bergabung dengan jamaah laki-laki dan mengambil daerah di baris depan supaya menjadi sama dengan laki-laki serta untuk meninggalkan busana Muslimah, bergabung dengan tentara AS hingga mendukung liberalisme dan demokrasi. Kemungkinan dari semua ini ialah upaya pembenaran dengan memutarbalikkan ayat-ayat Alquran dengan ‘penafsiran’ semaunya, yang merupakan kata favorit kaum reformis orientalis pada masa kemudian dan pada masa sekarang.
Alhamdulillah, sebagian besar umat Islam akan sanggup melihat hal ini sebagai salah satu kelainan. Namun,ada efek yang menetes dari serangan yang tidak pernah berakhir terhadap Islam yang menyertai proyek-proyek yang menipu ibarat itu. Belum lagi adanya dorongan yang terus-menerus kepada umat Islam untuk membenarkan setiap aspek Islam terhadap patokan sekularisme liberal dan—dalamkonteks yang lebih luas—dukungan Barat untuk para penguasa pengkhianat dan perang habis-habisan yang dilakukan terhadap umat Islam. Ini artinya,bahwa berpegang pada identitas Islam sanggup menjadi lebih sulit. Akibatnya, sebagian orang condong hanya mencari fasilitas dan keduniaan, bukan tabiat orisinil dari kaum Mukmin yaitu melaksanakan amar makruf nahi mungkar dan berpegang teguh pada walaa dan baraa.
Realitas menyedihkan lainnya ialah bahwa para ulama selebriti Barat yang memungkinkan proyek tersebut akan dipuji. Ini lantaran diamnya mereka dan perilaku mereka bahwa kita ialah kaum minoritas atau bahkan tamu di negara-negara sekular Kristen. Karena itu, kata mereka,kita harus menampilkan ‘sopan santun’ dengan mengabaikan penghinaan kepada agama kita dan kini penghinaan itu bahkan menuju kepada Rasul saw. kita tercinta. Para ulama yang nrimo dihentikan berbicara yang haq, membela agama yang mulia ini dan mengungkap seni administrasi dari musuh-musuh Islam ini. Sebagian besar dari mereka dipenjara atau berada di bawah tahanan rumah. Semua ini akan terus berlangsung hingga Allah SWT mengembalikan kepemimpinan sejati kepada umat Islam. Kewajiban untuk berbicara dan menyatukan umat pada yang haq jangan menciptakan kita hingga tertipu dengan agenda yang diarahkan ke dalam bayang-bayang kita.
Semoga Allah SWT mengakibatkan kita ibarat para Sahabat dan kembali mengembalikan Khilafah Rasyidah lantaran dengan demikian hak-hak Rabb kami dan firman-Nya akan terjaga.
بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ
بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ
Sebenarnya Kami melontarkan yang hak pada yang batil kemudian yang hak itu menghancurkannya sehinggadengan serta merta yang batil itu lenyap. Kecelakaanlah atas kalian disebabkan kalian mensifati(TQS al-Anbiyya’: 18)
Sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/
Masjid Renta Al-Hilal Katangka, Benteng Islam Di Sulawesi Selatan
Masjid Tua Al-Hilal Katangka Gowa Sulawesi Selatan yang dibangun pada tahun 1631 adalah masjid tertua di Sulawesi Selatan, dan tertua kesembilan di Indonesia sesudah Masjid Saka Tunggal (1288) Purwokerto, Masjid Wapauwe (1414), Masjid Ampel (1421) Jawa Timur, Masjid Agung Demak (1474), Masjid Sultan Suriansyah (1526) Kalimantan Selatan, Masjid Menara Kudus (1549) Jawa Tengah, Masjid Agung Banten (1552-1570) Jawa Barat dan Masjid Mantingan (1559) Jawa Tengah.3
Masjid ini dibangun pada masa Pemerintahan Raja Gowa XIV yang diberi nama Al-Hilal, Katangka, yang kemudian lebih dikenal dengan Masjid Katangka. Masjid dengan luas bangunan 212,7 meter persegi ini terletak di Jalan Syekh Yusuf, Desa Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, 9 kilometer sebelah selatan pusat Kota Makassar. Ciri antik Masjid Katangka ditandai dengan dinding batu-bata yang tebalnya mencapai 120 sentimeter. Konstruksi atapnya berbentuk joglo dengan dua lapis. Bagian teratas membentuk segitiga piramid berbahan genting.4 Bangunan masjid ditopang oleh empat tiang utama dengan diameter lingkarannya melebihi orang dewasa, jumlah tiang menggambarkan empat Khulafaur-Rasyidin yaitu Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.5
Masjid Tua Katangka didirikan di dalam areal Benteng Kalegowa yang berarti masih dalam daerah Istana Tamalatea. Benteng Kalegowa merupakan benteng terkuat yang dimiliki Kerajaan Gowa pada masa itu. Rumah-rumah raja dan aristokrat dibangun dalam benteng ini. Dinding Masjid Tua Katangka dibangun dengan materi yang sama dengan dinding Benteng Kalegowa. Inilah mengapa masjid ini kadang disebut benteng dalam benteng.6
“Selain basis ilmu keislaman, masa Sultan Hasanuddin, Masjid Katangka juga basis pertahanan fisik umat Islam dari musuh. Masjid berada di dalam lokasi Istana yg dikelilingi benteng. Tembok masjid ukuran besar (120 cm) mengikuti benteng. Bahkan Masjid Katangka disebut benteng terakhir alasannya ialah ada juga meriam yang diberinama ‘meriam subhana’ untuk mempertahankan diri. Benteng Katangka yang didalamnya ada masjid Katangka ialah benteng terbesar mengalahkan Benteng Roterdam,” ungkap Dg. Ngeppe Imam Masjid, kepada Farhan dan Abd. Aziz (kontributor al-wa’ie) ketika ditemui di kediamannya, minggu (7/10).
Dua tahun sesudah didirikan, yakni tahun 1605, Sultan Alauddin menetapkannya sebagai pusat aktivitas dakwah Kesultanan Gowa dan mengakibatkan sebagai pusat aktivitas pemerintahan alasannya ialah Gowa telah mengakibatkan Islam sebagai dasar pemerintahan. Dengan langkah pasti, Kesultanan Gowa membuatkan Islam ke seluruh daerah di Sulawesi Selatan dan menempatkan Masjid Katangka sebagai pusat dakwah dan penyebaran Islam.7 Dengan demikian fungsi masjid bukan hanya sekadar tempat beribadah, tetapi juga menjadi tempat pertemuan pembesar Kesultanan dan memberikan aneka macam pengumuman kepada rakyat. “Masjid Katangka sebagai pusat Kesultanan Gowa. Sultan (Raja) shalat berjamah di masjid alasannya ialah akrab dengan Ballalompoa (istana) yang waktu itu Istana berada di Katangka. Sultan (Raja) memerintahkan anak kandungnya (Sultan Idris) menjadi pengurus masjid, Bendahara Kerajaan dan Bate Salapang (Dewan Kerajaan) memakmurkan masjid. Dari Masjid dipahami ilmu keislaman, Kesultanan Gowa mengajak raja-raja di Soppeng, Bone dan Wajo,” tutur Dg. Ngeppe, Lc, Imam Masjid Katangka ketika ini.8
Sejak berdiri, Masjid Katangka menjadi pintu utama penyebaran Islam di seluruh pelosok Sulawesi Selatan. Sederet ulama besar pernah punya andil menghidupkan syiar Islam di Masjid Katangka. Satu di antaranya ialah Syekh Yusuf Taj al-Khalawati, ulama sekaligus pejuang, yang lebih dikenal dengan nama Tuanta Salamaka.9
Ketika Kesultanan Gowa Tallo secara resmi mengakibatkan Islam sebagai sistem pemerintahan maka penyebaran Islam melalui futuhat (pembebasan) di wilayah Sulawesi dilakukan melalui kekuatan militer yang pada ketika itu sangat populer kebesarannya. Menurut H. Abd. Qahar, jumlah pasukan yang dikirim ke Bone saja mencapai 20.000 personil10 sehingga tidak membutuhkan waktu yang usang untuk melaksanakan proses islamisasi. Kerajaan Sidenreng Rappang dan Soppeng tunduk pada tahun 1609, menyusul Kerajaan Wajo tahun 1610, dan terakhir ialah Kerajaan Bone pada tahun 1611 M.11 Kerajaan-kerajaan tersebut merupakan kerajaan utama yang mempunyai kekuatan. Adapun kerajaan kecil maka masuknya Islam lebih mudah.
Islamisasi secara struktural ialah mengakibatkan syariah sebagai dasar negara. Sebelumnya telah ada ADE’(Undang-undang), RAPANG (Yuriprudensi), WARI (aturan-aturan / keprotokoleran), BICARA (kesepakatan kerajaan). Pemerimaan Islam sebagai agama resmi Kerajaan mengakibatkan syariah sebagai landasan dan yang kelima yaitu SARA’ (Syariah). Akibatnya ialah dibuatkan jabatan struktural yang gres yaitu QADHI (Hakim), IMAM, BILAL, KATTE’ (khatib), DOJA sebagai perangkat syiar Islam ke rakyat.12
Kadi (Qadhi) ditunjuk untuk hadat dan penguasa, tempat mereka bertindak sebagai hakim pengadilan agama (syariah). Imam (pengurus masjid) ditunjuk untuk wanua (masyarakat adat). Adapun guru (Anrong-Guru atau Anre-Guru) merupakan guru yang menyiarkan agama gres itu ke desa-desa maupun pejabat terendah dalam hierarki manajemen Islam. Guru menjadi anggota cabang pengadilan agama yang dikepalai Imam.
Keberhasilan proses islamisasi di Sulawesi Selatan yang telah dilakukan oleh Kesultanan Gowa Tallo dengan mengakibatkan Masjid Katangka sebagai basis (titik sentral) training untuk melahirkan para dai dan ulama serta pusat pemerintahan. Ini mengingatkan kita pada tahapan dakwah Rasulullah saw. di Madinah, yakni tahapan istilamul hukmi (penerapan hukum) dengan mengakibatkan masjid sebagai pusat pemerintahan Daulah Islam di Madinah. Dari sinilah ekspansi dakwah dilakukan dengan melakukanfutuhat terhadap pemerintahan di sekitar Jazirah Arab. [Muh. Shadiq]
Catatan kaki:
1 Prasasti Masjid Katangka dalam bahasa Makassar, yang bila diindonesiakan: “Masjid ini dibangun pada hari Senin 7 Rajab 1011 Hijriah bertepatan dengan 18 April 1603 Masehi, wawancara dengan H. G. Faisal Sirajuddin Dg. Ngeppe, Lc (Imam Masjid Tua Katangka) tgl 7 Oktober 2012, oleh Farhan dan Abd. Azis (reporter daerah).
2 Meski ada yang juga menyebut Masjid Agung Palopo yang lebih tua, bila didasarkan proses islamisasi di Luwuk yang dilakukan oleh Kesultanan Gowa, maka Katangka lebih awal.
3 Tribunenews.com, dari aneka macam sumber.
4 Kabarmakassar.com/?p=9948
5 Sombaopugowa.wordpress.com/2010/12/04/masjid-tua-katangka/
6 Majalahversi.com/makassar/masjid-al-hilal-katangka.
7 Arkeologi.web.id/articles/arkeologi-kesejarahan/2025-masjid-katangka-tonggak-islam-di-sulsel.
8 Wawancara oleh Farhan dan Abd Azis (reporter daerah) tgl 7-10-2012 di kediaman Dg. Ngeppe, Lc
9 Palingindonesia.com/masjid-katangka-saksi-sejarah-lahirnya-islam-di-sulawesi-selatan/
10 H. Abd. Qahar, Arung Palakka Datu Tungke’na Tana Ugi’e, cet. I/2010, hal 35. Penerbit Yayasan al-Muallim.
11 Ilham Kadir, BA., Mahasiswa Pascasarjana UMI Makassar (E-arrahman.com/new/?p=269). Lihat juga: H. Abd. Qahar, Arung Palakka Datu Tungke’na Tana Ugi’e, “Bone di Bawah kekuasaan Gowa,” hlm. 35, cet. I/2010.
12 Bundokanduang.wordpress.com/2008/10/10/kunang-kunang/,http://buletinmitsal.wordpress.com/perspektif/islamisasi-di-sulawesi-selatan
Sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/
Sunday, June 19, 2016
Saat Masjid Jadi Jantung Peradaban
Mari sejenak kita terbang ke kala ke-15, dikala itu Eropa masih berada di penghujung kala gelap, yang mana sebagian besar masyarakatnya masih mempercayai takhayul dan dongeng bohong. Saking percayanya, mereka sanggup memperabukan seorang perempuan atau mengubur hidup-hidup seorang lelaki hanya alasannya yakni dakwaan mereka “dirasuki setan”
Pada kala ke-15 tepatnya tahun 1470, berdiri sebuah Masjid megah di tengah kota Konstantinopel yang diganti namanya menjadi Islambul (sekarang Istanbul) oleh Muhammad Al-Fatih. Kelak Masjid ini akan dikunjungi pada tahun 1540 oleh Nicolas de Nicolay, geografer istana Raja Francis I, kemudian ia berkomentar:
“Masjid yang terindah dan yang paling berlimpah yakni Masjid Fatih, yang mempunyai pemasukan tahunan sekitar 60.000 ducats. Sekelilingnya kemudian lalang para imam dan ulama, dan sebagai tambahannya, sekitar 200 bangunan berkubah berlapis timbal, juga bangunan yang menyediakan makanan bagi pengunjung dari semua jenis etnis dan agama. Para pengunjung yang melewati kota ini sanggup tinggal di sini dengan pelayan-pelayan mereka tanpa membayar apapun. Diluar tembok pembatas kompleks Masjid tersedia 150 rumah lain yang diperuntukkan pada kaum papah di kota itu. Bagi para pengungsi yang tak berdaya diberikan satu akce sehari dan roti yang cukup bagi mereka. Hanya saja, di sana orang-orang miskin enggan hidup dengan cara meminta-minta, sehingga bangunan-bangunan untuk kaum papah ini banyak yang tak ditempati, dan uang yang sanggup dihemat karenanya, didistribusikan ke seluruh rumah sakit yang ada di kota”
(Keterangan, 1 ducats = 3.5 gram emas, 40 akce = 1 ducats)
Masjid itu yakni Masjid Fatih, atau Fatih Kulliyesi, dan zaman itu yakni zaman Kesultanan Utsmaniyyah yang dipimpin oleh Khilafah Abbasiyah
Lihatlah bagaimana ketika Islam diterapkan secara tepat oleh sebuah kekuasaan, maka menjadilah apa yang disampaikan oleh Imam Ghazali
“Agama dan kekuasaan itu yakni saudara kembar, bagi agama layaknya asas, dan kekuasaan yakni penjaganya, yang tidak ada asas akan hancur dan yang tak ada penjaga akan hilang”
Ketika Islam diterap secara utuh, maka jantung peradaban insan yakni Masjid, nyawanya yakni tauhid, dan tiangnya yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Saat itu sudah berlalu 800-an tahun semenjak Rasulullah mencontohkan bahwa Masjid yakni sentra peradaban, namun ianya selalu segar dalam ingatan para sultan, dan juga para Khalifah untuk senantiasa megingat dan mengamalkan apa yang Rasulullah contohkan
Namun begitu Islam ditinggalkan pada 1924, semuanya berubah. Islam dianggap hanya urusan individu, dan ditolak untuk mengatur masyarakat dan negara. Kita lebih percaya pada sistem insan yang diimpor dari penjajah, dan kerusakannya sangat parah.
Sekarang, siapa yang kita contoh? adakah Masjid masih menjadi jantung peradaban bagi ummat? Atau hanya daerah yang tidak ada bedanya ibarat agama lain yang dikunjungi seminggu sekali?
Pertanyaan yang wajib kita tanyakan juga adalah, apakah bagi kita Rasulullah hanya tokoh sejarah yang diceritakan tapi tidak ditiru dan diteladani? Termasuk dalam mengatur negara dan masyarakat?
Kita perlu perubahan, dan perubahan itu yakni kembali kepada Islam, kembali menerapkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, kembali pada syariat Allah, dan Khilafah, kepemimpinan yang dicontohkan Nabi dan sahabatnya ridwanullah alaihim
Akhukum,
@felixsiauw
@felixsiauw
Sumber : http://felixsiauw.com/
Friday, June 17, 2016
Masjid Patimburak Fakfak; Pilar Islam Di Bumi Papua
Masjid Patimburak yakni sebuah masjid renta bersejarah dan terletak di Distrik Kokas, Fakfak, Papua Barat. Masjid ini merupakan salah satu peninggalan sejarah Islam di Papua dan menjadi salah satu sentra agama Islam di Kabupaten Fakfak. Masyarakat setempat mengenal masjid ini sebagai Masjid Tua Patimburak. Menurut catatan sejarah, masjid ini telah berdiri lebih dari 200 tahun lalu, bahkan merupakan masjid tertua di Kabupaten Fakfak. Bangunan yang masih berdiri kokoh dan berfungsi hingga dikala ini dibangun pada tahun 1870 oleh seorang imam berjulukan Abuhari Kilian.
Masjid Patimburak tidak sanggup dilepaskan dari bagaimana penyebaran Islam ke Bumi Cenderawasih ini. Banyak sekali sumber sejarah yang menyebutkan bagaimana Islam sanggup hingga dan menyebar di Papua. Salah satu sumber masuknya Islam yakni versi Bacan.1
Kesultanan Bacan dari Maluku pada masa Sultan Muhammad al-Bakir—lewat Piagam Kesiratan yang dicanangkan oleh peletak dasar Mamlakatul Mulukiyah atau Moloku Kie Raha (Empat Kerajaan Maluku: Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo), melalui walinya Ja’far ash-Shadiq (1250 M), lewat keturunannya ke seluruh penjuru negeri—menyebarkan syiar Islam ke Sulawesi, Filipina, Kalimantan, Nusa Tenggara, Jawa dan Papua. Dengan semangat Piagam Kesiratan inilah misi dakwah Islam menapaki Papua.
Menurut Arnold, Raja Bacan yang pertama masuk Islam berjulukan Zainal Abidin yang memerintah tahun 1521 M. Ia telah menguasai suku-suku di Papua serta pulau-pulau di sebelah barat lautnya, ibarat Waigeo, Misool, Waigama dan Salawati. Kemudian Sultan Bacan meluaskan kekuasaannya hingga ke Semenanjung Onin Fakfak, di barat maritim Papua pada tahun 1606 M. Melalui imbas beliau dan para pedagang Muslim, para pemuka masyarakat pulau-pulau tersebut memeluk agama Islam.2
Meskipun masyarakat pedalaman masih tetap menganut animisme, rakyat pesisir menganut agama Islam. Dari sumber-sumber tertulis maupun ekspresi serta bukti-bukti peninggalan nama-nama tempat dan keturunan Raja Bacan yang menjadi raja-raja Islam di Kepulauan Raja Ampat, diduga berpengaruh bahwa yang pertama mengembangkan Islam di Papua yakni Kesultanan Bacan sekitar pertengahan era XV. Kemudian pada era XVI barulah terbentuk kerajaan-kerajaan kecil di Kepulauan Raja Ampat itu.
Penyebaran Islam di Kokas tak lepas dari imbas Kekuasaan Sultan Tidore di wilayah Papua. Pada era ke-15, Kesultanan Tidore mulai mengenal Islam. Sultan Ciliaci yakni sultan pertama yang memeluk agama Islam. Sejak itulah bertahap agama Islam mulai berkembang di kawasan kekuasaan Kesultanan Tidore, termasuk Kokas.3
Kaum Muslim di Fakfak tiba dari masa Kesultanan Tidore dan Ternate. Masjid Tua Patimburak yang berlokasi di Kokas, Fakfak, Papua Barat ini menjadi bukti sejarah syiar Islam telah menyentuh tanah Papua beratus tahun lampau. Jika bertandang ke masjid renta ini, terselip atmosfer religi yang menyembul di antara belantara. Masjid ini berada di kampung yang dihuni tak lebih dari 36 kepala keluarga. Kesederhanaan terasa menyatu antara masjid dan kehidupan masyarakatnya.
Masjid Patimburak yang telah beberapa kali direnovasi ini mempunyai keunikan pada arsitekturnya. Perpaduan bentuk masjid dan gereja terlihat jelas. Ini menawarkan toleransi sudah tumbuh usang di Kokas. Empat pilar penyangga yang terdapat di dalam masjid masih memakai material yang asli.
Masjid renta ini dibangun pada masa Raja Wertuer I yang berjulukan kecil Semempe. Saat itu Islam dan Nasrani sudah menjadi dua agama yang hidup berdampingan di Papua. Ketika dua agama ini hasilnya masuk ke wilayahnya, Wertuer sang raja tak ingin rakyatnya terbelah kepercayaannya.
Karena itu ia kemudian menciptakan sayembara: misionaris Nasrani dan imam Muslim ditantang untuk menciptakan masjid dan gereja. Masjid didirikan di Patumburak, gereja didirikan di Bahirkendik. Bila salah satu di antara keduanya sanggup menuntaskan bangunannya dalam waktu yang ditentukan, maka seluruh rakyat Wertuer akan memeluk agama itu.
Masjidlah yang berdiri pertama kali. Karena itu raja dan seluruh rakyatnya pun memeluk Islam. Bahkan sang raja kemudian sekaligus menjadi imam, dengan pakaian kebesarannya berupa jubah, sorban, dan tanda pangkat di bahunya. Sejak dikala itu, Masjid Patimburak menjadi tempat Raja menjalankan roda pemerintahannya. Agama Islam menjadi agama resmi negara dengan penerapan syariah Islam secara menyeluruh di seluruh aspek kehidupan. Syariah Islam menjadi pilar hukum yang merangkai seluruh permasalahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.4
Masjid yang menjadi pilar Islam di bumi Papua itu hingga sekarang masih berdiri megah di pinggir Teluk Kokas. Masjid ini masih difungsikan sebagai tempat ibadah 36 kepala keluarga dengan 147 jiwa yang tinggal di sekitarnya.
Sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/
Thursday, June 16, 2016
Mesjid Agung Usang Banten: Benteng Islam Di Jawa Barat
Masjid yang sangat populer dan bersejarah di Banten ialah Masjid Agung Banten Lama. Masjid Agung Banten Lama termasuk dalam wilayah Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang. Bangunan masjid berbatasan dengan perkampungan di sebelah utara, barat dan selatan, alun-alun di sebelah timur, dan benteng/Keraton Surosowan di sebelah tengah. Arahnya ke sebelah utara dari sentra Kota Serang. Bangunan Masjid Agung Banten Lama merupakan suatu kompleks dengan luas tanah 1,3 hektar yang dikelilingi pagar tembok dengan ketinggian sekitar satu meter. Pada sisi tembok timur dan masing-masing terdapat dua buah gapura di kepingan utara dan selatan yang letaknya sejajar. Bangunan masjid menghadap ke timur, berdiri di atas pondasi masif dengan ketingggian satu meter dari halaman. Bangunan ruang utama berdenah empat persegi panjang dengan ukuran 25 x 19 m. Lantai terbuat dari ubin berukuran 30 x 30 cm. Daya tampung jamaah sekitar 2500 orang.
Masjid ini dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama dari Kesultanan Banten. Ia ialah putra pertama dari Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Djati juga dikenal sebagai pendiri Kesultanan Cirebon. A.C Milner menyampaikan bahwa Aceh dan Banten ialah Kerajaan Islam di Nusantara yang paling ketat melakukan aturan Islam sebagai aturan negara.
Nama lain dari Masjid Agung Banten Lama ialah Masjid Kasunyatan alasannya letaknya di daerah daerah Kasunyatan. Selain didirikan oleh Sultan Maulana Hasanuddin juga dibantu Syaikh Abdul Syukur. Syaikh Abdul Syukur berperan dalam memperlihatkan pendidikan tsaqafah Islam dengan membangun madrasah di samping barat daerah masjid yang masih sanggup kita lihat hingga kini.
Seperti halnya masjid-masjid yang berdiri pada masa pemerintahan Kesultanan Islam, maka Masjid Kasunyatan pun demikian. Masjid berdekatan dengan sentra pemerintahan, alun-alun dan sentra perdagangan. Saat ini para pembaca juga sanggup melihat benteng petahanan kokoh milik Kesultanan Banten hingga ketika ini. Oleh alasannya peranan yang terletak di tengah-tengah sentra kegiatan masyarakat, masjid sering menjadi tempat dalam kegiatan politik kesultanan. Itu bisa terlihat dari istilah kasunyatan sendiri.Kasunyatan disinyalir berasal dari kata kasunyian yang bermakna tempat menyepi sultan; atau Kanyataan yaitu tempat yang kasatmata bagi sultan-sultan.
Aktivitas Sultan di masjid sebagai kepala pemerintahan juga sanggup terlihat di dalam ruangan utama masjid. Bagaimana tidak, dalam ruangan masjid utama yang tak terlalu besar itu, masih berdiri dengan kokoh “singgasana” raja milik Sultan Maulana Yusuf. Tak hanya “singgasana” yang terbuat dari kayu jati yang dilapisi cat berwarna putih dan emas, di atas “singgasana” itu juga masih bertengger Pedang Cis, pedang milik Sultan Maulana Yusuf yang berbelah dua pada kepingan bawahnya. Kini, tempat tersebut dijadikan tempat khutbah ketika salat Jumat digelar, dan pedang itu dijadikan pegangan khatib.
Di masjid inilah, Qadhi dan Sultan sering berunding dan memutuskan hukum. Apalagi aturan Islam yang ketat diterapkan oleh sultan. Salah satu petunjuk yang menguatkan ketegasan penerapan eksekusi Islam di Kesultanan Banten, yaitu adanya aturan bagi pencuri dengan memotong tangan kanan, kaki kiri, tangan kiri dan seterusnya berturut-turut bagi pencurian senilai 1 gram emas pada pemerintahan Sultan Agung Tirtayasa tahun 1651-1680.4Kesultanan Banten mempunyai adanya Qadhi yang diistilahkan dengan sebutanKadi. Orang yang menduduki jabatan ini bergelar Faqih Najmuddin yang mulai dianut semenjak 1650. Gelar yang dikenal selama dua masa lamanya. Pada awalnya jabatan ini dimandatkan kepada seorang dari Makkah. Pasca tahun 1651 Qadhi yang diangkat berasal dari keturunan Kesultanan Banten. Qadhimerupakan hakim yang memutuskan perkara aturan di dalam Islam. Selain itu, Qadhi Banten juga berperan besar dalam bidang politik, contohnya penentuan pengganti Maulana Yusuf.5 Semua kegiatan itu jika tidak terjadi di wilayah tempat tinggal Sultan, maka masjid menjadi tempat berikutnya, alasannya memang letak tempat tinggal sultan dan masjid tidak berjauhan.
Adakah hubungan Masjid Agung Lama Banten dan Kesultanan Banten berafiliasi dengan Khilafah? Tentu, hal ini bisa terlihat dari kontribusi gelar sultan-sultan Banten. Bahkan kontribusi gelar Sultan Ageng Tirtayasa berasal dari Syarif Makkah di bawah Khilafah Utsmani di Islambul (Kini Istanbul). Ini mengambarkan keterkaitan Nusantara dengan Khilafah. Dengan demikian daerah Nusantara menjadi kepingan dari Darul Islam Khilafah Utsmani.
Di bawah naungan Islam, Banten tidak hanya hidup kaum dominan Muslim, tetapi juga mencakup aneka macam etnik dan agama. Di sekitar daerah Masjid Agung juga terdapat arena pasar yang menjual kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat Banten Girang. Penunjukan kegiatan pembelajaran Islam tidak hanya berada di madrasah yang berada di bersahabat masjid, tetapi juga di dalam area masjid. Bahkan tak jarang para pedagang Gujarat, Cina Islam dan negeri Arab mengakibatkan persinggahan di masjid ini sebagai tempat peristirahatan dan pembelajaran.
Pendidikan yang dibina oleh Syaikh Abdul Syukur di madrasah setempat telah melahirkan masyarakat Banten yang taat beragama. Madrasah ini sengaja dibangun sebagai upaya untuk menguatkan tradisi Islam. Apalagi letaknya yang berdekatan dengan Masjid Kasunyatan memperlihatkan adanya keterkaitan simbol pendidikan yang kuat. Inilah yang menciptakan masyarakat Banten begitu kental dengan syariah Islam.
Tak bisa dipungkiri, ketegasan Kesultanan Banten dan simbol kebesarannya berupa Masjid Agung Banten Lama menjadi saksi atas usaha kaum Muslim atas penjajahan. Selain itu, keanekaragaman etnik yang pernah hidup di dalam daerah Banten usang mengambarkan bahwa di bawah QanunIslam, kesejahteraan dan keadilan timbul.
Masyarakat Banten juga ialah masyarakat yang berjiwa jihad dan mempunyai kekuatan militer Kesultanan Banten yang luar biasa. Dari beberapa sumber Eropa disebutkan sekitar tahun 1672, di Banten diperkirakan terdapat antara 100.000 hingga 200.000 orang lelaki yang siap berperang. Sumber lain menyebutkan, bahwa di Banten sanggup direkrut sebanyak 10.000 orang yang siap memanggul senjata. Namun, dari sumber yang paling sanggup diandalkan, pada Dagh Register-(16.1.1673), dari sensus yang dilakukan VOC pada tahun 1673, diperkirakan penduduk di kota Banten yang bisa memakai tombak atau senapan berjumlah sekitar 55.000 orang.
Sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/
Subscribe to:
Posts (Atom)















